Perempuan



.:Perempuan.. makhluk indah yang di-nomer-duakan:.

[Perempuan di keluarga]
Mengapa perempuan menjadi makhluk nomer 2? Sepertinya ini dilihat dari segi ekonomi dibandingkan sosial atau politik. Ketika mereka menikah, mereka menggantungkan finansialnya kepada laki-laki (suami) dan ia sudah tidak melindungi diri sendiri. Oleh karena itu, laki-laki merasa mempunyai kekuasaan penuh atas perempuan. Perempuan harus memberikan pelayanan yang terbaik. Mereka mempunyai otoritas penuh terhadap perempuan. Atas tubuhnya, pelayannya dan psikologisnya. Laki-laki menganggap, dia mencari uang lalu perempuan hanya menerimanya saja. Padahal kenyataan sebenarnya adalah suami sebagai pekerja di luar rumah, perempuan sebagai pekerja di dalam rumah dan anak-anak sebagai pekerja tambahan.
Pada saat itu perempuan ingin bangkit secara finansial. Banyak perempuan yang bekerja walaupun sudah berumah tangga. Entah mengapa, ketika pendapatan perempuan lebih besar, harga diri suami runtuh. Padahal itu untuk keluarga juga. Pada saat perempuan sedang menikmati uangnya sendiri, biarkanlah. Ketika perempuan sedang berada di mall, biarkanlah. Pada saat itu perempuan sedang merasakan kebebasannya karena selama ini ia berada di bawah suami.

[Perempuan di masyarakat]
Anak-anak dan perempuan adalah objek kebosanan pria. Ketika pria bosan, ia melakukan kekerasan pada anak. Ketika pria bosan, ia melakukan kegiatan seks dengan perempuan. Entah itu pacar atau psk sekalipun. Yah.. PSK. Mereka hanya ingin kebebasan secara ekonomi. Mungkin kesalahan perempuan adalah mereka berdandan sehebat mungkin tetapi isinya kosong. Bagaimana pun, mereka telah menjadi korban kaum kapitalis. Bagaimana pun, bukankah itu keinginan pria? Mereka menginginkan wanita cantik. Memang beberapa kasus pria memborbadirkan slogan inner beauty. Bagaimanapun, kita melihat realita yang ada untuk pertama, yaitu fisik.
Kapitalisme.. menganggap bahwa yang unggul adalah yang dapat menghasilkan untung, laba, pendapatan yang lebih tanpa melihat gender. Potensi perempuan terhalangi oleh kegiatan reproduksi. Potensi perempuan juga terhalangi oleh kekangan orang tua atas budaya bahwa perempuan seharusnya berada dirumah, menjadi istri yang baik dan mengurus anah. Dan disini adalah pria yang unggul.
Lalu perempuan mencoba mengembangkan finansialnya. Mereka berkembang dan mandiri. Oleh karena itu banyak perempuan yang melajang (term "perawan tua" menjadi halus yaitu "lajang"). Namun sayang, terkadang mereka menggunakan feminimitas mereka secara seksual.

Apapun ini, perempuan. Jangan pernah kehilangan otoritas atas diri. Tubuhmu adalah milikmu. Jadilah mandiri tetapi tidak sendiri. Jadilah pemikiran yang maskulin dengan tingkah laku berdasarkan etika feminim. Kembalilah ke habitat yaitu pengasih. Namun suatu saat kamu harus siap menjadi sang pemburu.
Apapun ini, pria. No offense. Saya ada pada habitat perempuan dan saya membelanya ;)

[Janji untuk membuat tulisan ini lama sekali ya? Penulis hanya sedang bermain dengan Raya. Maafkan.. :)]

Comments

Vendy said…
siapapun bisa menjadi apapun. yah, kecuali untuk term gender, tingkat superioritas sudah ditentukan sejak jaman baheulah.

sekarang, kita bukan budak masa lalu kan ? jadi, kita bisa jadi apapun yang kita mau.
icad said…
halooo...
salam kenal


eh ngomong-ngomong, saya tidak menomer-duakan perempuan tuh. Nampaknya gua yang diperbudak.

kakak gua, nyokap gua, guru gua.

perempuan menjajah pria

Wekekeekk
REVOWORLD said…
perempuan adalah perempuan...kau takkan bisa lari dari itu semua...perempuan sebenarnya adalah perhiasan dunia yang indah..coba kau lihat bidadari, apakah ada yang laki2? kan aneh klo bidadari nya aming! ga kan ada lagi yang mau ama bidadari dunk! prioritas kegenderan bukanlah suatu hal mutlak, laki2 bisa di bwah bisa di atas..tergantung perempuan mau dimana..he2 laki2 juga hanya perayu ulung kan..hanya saja perempuan2 itu yang terhanyut di dalamnya...

(we just human...live ur life peacely, enjoy da life..)
idup perempuannn :P
yossy said…
hawa diciptakan setelah adam
keberadaan adam ga bakalengkap tanpa si hawa...
bukan masalah dinomorduakan, tapi bagaimana saling melengkapi
piss...
yudo said…
masalah perempuan dan laki-laki memang gak ada habisnya. sebagai kaum yang selalu (merasa) tertindas, perempuan akhirnya meneriakkan ttg emansipasi wanita, persamaan hak antara wanita dan lelaki...tetapi ingat, bukan persamaan kodrat.

kami, para pria, terciptakan dan penuh dengan ego. coba anda berpikir dek nia, ego yang besar itu pun tercipta oleh suatu stigma masa lalu, bahkan mungkin sampai sekarang bila kita melihat cowo pintar menjahit, masak, dan ngurus anak adalah cowo yang hina. dan wanita yang sukses di karier bisa dibilang, "she's a bitch!".

bukan wanita saja yang selau terkena stigma, bahkan kami pria pun juga terkena stigma. kami selalu dituntut utk. menang dan menang, kami selalu dituntut utk. selalu perkasa...

jujur, bukan hanya wanita saja yang maniac jaim, pria pun maniac jaim
mynameisnia said…
Subjektif ternyata..
buih said…
Perempuan ga selalu dinomerduakan kok, buktinya ada hari ibu ga ada hari bapak, besok ada hari kartini ga ada hari kartono hehehe....
Buat gw, perempuan selalu menjadi nomor satu deh.
I miss u mom..
I miss u ombak..

:)
mynameisnia said…
Mungkin yang gue lihat disini adalah perempuan pada general tanpa memerhatikan apa makna perempuan itu sndr bagi setiap peria.
Monggo komennya.. ta tunggu
- aVanK - said…
Emang kenyataannya begitu kok, kalo gak di nomer duakan, ya gak bakal ada tuh pergolakan buat tuh perempuan untuk dibilang emansisapi eh emansipasi, gak bakalan ada tuh kerjaan cowok dikerjain cewek dengan alesan kesama rataan kemampuan antara cowok dan cewek. So, emang bener cewek dinomer duakan. dan itu nyata!
Vendy said…
makna perempuan ? terlepas dari posisi peringkat pertama, kedua atau keberapapun, terutama terlepas dari elemen gender, setiap orang memiliki makna tersendiri.

kalaupun memang elemen gender itu tak bisa dihapuskan, ya kembali lagi ke quote basi : "saling melengkapi".
hedgehogman said…
perempuan play good role in my latest post ( in my blog ), you can read it. Memang sih masih ada perempuan2 yg dalam kondisi tertekan ( seperti TKI2 di Timur Tengah ), sejalan dengan modernisasi pasti kedudukan perempuan juga akan meningkat. I'm sure about that, udah banyak perubahan sejak jaman Kartini sampai sekarang dan akan terus berlanjut
dienim said…
Menarik juga membaca mengenai kajian perempuan ini dan tampaknya momen yg tepat dengan adanya Hari Kartini. Hati tergelitik untuk mengikuti alur tulisan ini.

Jika dilihat dari tulisan, tampaknya ada dua range bagaimana melihat perempuan, di keluarga dan di masyarakat.

Namun demikian, tampaknya melihat posisi perempuan yang dinomorduakan (istilah yg sering muncul adalah sob-ordinasi) tak hanya sebatas pada sektor ekonomi saja. Secara sosial dan politik pun perempuan cenderung mengalami seperti itu.

Kondisi yg kerap terjadi ini tidak terlepas dari stereotif atas eprempuan yang tertanam kuat karena kontruksi budaya maupun dogma agama yg berujung pada anggapan bahwa perempuan selayaknya berada di “bawah” laki-laki dan sebagai pengabdi. Ungkapan ini mungkin terlalu naif, tapi banyak kasus yang memperlihatkan bagaimana perempuan ebrada dalam kungkungan dua pranata di atas. Keduanya sangat berperan, masalah budaya dan agama saling menguatkan atau salah satunya tampil dominan, itu lain soal.

Kedua doktrin2 ini dihembuskan dan malah berlaku dalam keluarga, pun di masyarakat.

Bagaimana perempuan (sekarang semoga tidak terjadi) sulit untuk mencoba “lepas” dan beraktivitas di luar rumah tangganya. Hal yg menyebabkannya?? Kembali lagi pada pandangan bahwa perempuan diidentikkan sebagai aktor sektor domestik, sedangkan laki-laki di sektor publik. Ini adalah kondisi yg menyulitkan perempuan masuk ke dunia sosialnya.

Bagaimana dengan kemampuan politik perempuan di keluarga?? Dalam kondisi tertentu, perempuan juga tidak berdaya. Banyak perempuan yg tidak bisa memiliki akses untuk politik, seperti tidak memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dalam suatu masalah, karena semua ebrada dalam “authority” suami yang dianggap sebagai kepala keluarga yg notabene adalah laki-laki). Kondisi perempuan yg belum bersuami??? Tampak juga dominasi laki-laki tetap berperan, terwakili oleh ayah, kakak laki-laki, atau bahkan pamannya. Di masyarakat, perempuan tidak menemukan kelonggaran pula. Bagaimana aspirasi mereka belum tampak tertampung dalam lembaga2 politik, suara-suara perempuan yg dianggap kurang ada gaungnya dan lainnya.

Contoh menarik: bagaimana perempuan yg berkeinginan membuka usaha, mereka akan sulit memperoleh pinjaman modal dari lembaga keuangan formal (baca: bank) karena perempuan terbentur pada syarat2 ijin usaha atau agunan yg diperlukan. Agunan menggunakan sertifikat rumah?? Mungkin surat2 masih menggunakan nam suami, sehingga ujung2nya tetap memperlihatkan laki2 yg berperan.

Comment yg menjemukan. Maafkan atas panjangnya comment, karena gundahnya hati menggiring untuk menulis sebagai ungkapan dari seorang laki-laki yg ingin mengkaji lebih dalam makna dan esensi GENDER, tanpa melihat pada satu sisi.

SELAMAT HARI KARTINI
munadi said…
pesan nenek: "hati2 dengan wanita karena wanita bisa menjadi madu tetapi juga bisa mejadi racun bagi kita!"
mynameisnia said…
what a nice comment.

dan ya!
jaman baheula ada wakil yang bernama Kartini.. tp gue ngerasa pas hari kmrn itu (21 april) kok keknya gue ngga ngerasa apa2 yah.. mksd, spt biasa aja gitu.
tapi apapun itu..
Terima kasih ibu tersebut,, *nyiapin sesajen dan nyembah arwahnya* :D

btw,anw,otw,buw (busway mskdnya..)

[perempuan pada cinta]
lucu sekali ketika perempuan mengutarakan perasaannya kepada seorang laki dan ia membela diri dengan menyebut emansipasi.. menurut gue itu tidak.
sowwy kalo ini subjektif sekali tp engga ada yang namanya emansipasi dalam hal "nembak" doloan..

Popular Posts