Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2006

Tubruk Kincir

Mirna, perempuan yang berdiri diatas kemiskinan

Untuk yang kedua kalinya aku melihat namaku ada di headline koran. Ah, siapa yang peduli?



Untuk yang beratus-ratus kalinya aku memesan kopi tubruk di warung kopi Pak Kincir. Nama sebenarnya Pak Maman, tetapi di depan warungnya ada kincir dari plastik bekas Aqua yang dibuat anaknya, kita memanggilnya Pak Kincir.
Warung kopinya hanya berupa tenda kecil yang lusuh. Warungnya ada di ujung Gang Somad. Tenda boleh lusuh, tapi rasa kopinya.. wow! Setiap aku meminumnya, aku selalu ingat kampung halamanku. Ingat ketika aku minum bersama bapak di saung tengah sawah. Rasanya berat meninggalkan bapak waktu itu. Tapi demi keinginan bapak, aku sekolah di kota. Kata bapak, harus ada perempuan kampung yang bersuara disana. Perempuan kampung yang lebih peduli dengan sosial karena krisis sosial ada dimana-mana. Biarlah tektek bengek teknologi diurus dengan orang kota.

Kini aku sudah tiga tahun di kota.

Beep.. beep
One message received
"Lagi dimana, Mir?&quo…

Hibernasi

Hibernasi dulu yah satu minggu. Ntar kalau ada yang emergency ta post lagi :P
Mo UAS nih.. masih jaman rupanya. Doakan yaaa.. ^-^v

Aku.Mama.Tangis

Seorang psikolog pernah bilang,
"Suasana gelap dan suram dapat meningkatkan depresi."
Mungkin itu benar tapi aku tidak peduli.

Semuanya gelap.
Cahaya matahari masih memaksa masuk melalui celah kecil kain gordyn. Remang. R.E.M.A.N.G.
Di tengah kegelapan, aku menangis.

Seseorang datang mengetuk,
lalu ia masuk.
Mama. M.A.M.A.
Aku langsung menenggelamkan wajahku pada tumpukan bantal. Mama tidak boleh melihat aku menangis.
Kemudian Mama duduk disamping tempat tidur.
Lalu kami diam.

Sekuat tenaga aku menahan air mata.
Tidak ada suara sehingga tekanan hati bergetar di pundak.
Mama menyentuh pundakku kemudian mengelusnya.
Sepi akhirnya terpecahkan oleh tangis.

Aku memberi sedikit ruang untuk mulutku agar aku bisa berbicara tentang sesuatu yang mengganggu.

"Ma.. aku takut sendiri."
.....
"Ma.. ia meninggalkanku tanpa jawaban apapun."
.....

Tangis semakin keras.
Mama mengelus pundakku.

"Ma.. aku tidak diberi kesempatan. Aku hanya diperbolehnya bertanya-tanya dalam hati. Aku salah a…