Skip to main content

Tubruk Kincir

Mirna, perempuan yang berdiri diatas kemiskinan

Untuk yang kedua kalinya aku melihat namaku ada di headline koran. Ah, siapa yang peduli?



Untuk yang beratus-ratus kalinya aku memesan kopi tubruk di warung kopi Pak Kincir. Nama sebenarnya Pak Maman, tetapi di depan warungnya ada kincir dari plastik bekas Aqua yang dibuat anaknya, kita memanggilnya Pak Kincir.
Warung kopinya hanya berupa tenda kecil yang lusuh. Warungnya ada di ujung Gang Somad. Tenda boleh lusuh, tapi rasa kopinya.. wow! Setiap aku meminumnya, aku selalu ingat kampung halamanku. Ingat ketika aku minum bersama bapak di saung tengah sawah. Rasanya berat meninggalkan bapak waktu itu. Tapi demi keinginan bapak, aku sekolah di kota. Kata bapak, harus ada perempuan kampung yang bersuara disana. Perempuan kampung yang lebih peduli dengan sosial karena krisis sosial ada dimana-mana. Biarlah tektek bengek teknologi diurus dengan orang kota.

Kini aku sudah tiga tahun di kota.

Beep.. beep
One message received
"Lagi dimana, Mir?"
Reply
"Di Kincir!"

Beberapa menit kemudian orang yang bersangkutan datang. Namanya Bejo. Aslinya Jonathan. Ia teman dekatku di kampus. Asalnya dari Jakarta, hanya berkuliah dua semester kemudian ia pindah ke Bandung. Jurusan yang ia ambil masih sama dengan jurusannya di universitas yang terdahulu, sosiologi. Kali ini bapak salah, ternyata ada orang kota yang mengurus tektek bengek sosial
"Kopi.. kopi.. dan kopi" Ia tertawa.
"Yoi! Tubruk kincir!" Aku tertawa. Ia tertawa.
"Pak, tubruk ama pisgornya! Lo mau ngga, Mir?"
Aku menggeleng.
"Lima deh pisgornya!" Pak Kincir mengangguk. Ia mengambil 5 buah pisgor kemudian menyeduh bubuk kopi sehingga isi gelasnya penuh dengan air panas berwarna hitam. Pesanan telah tersedia.
"Jo, ngapain lo kesini? Gue kira lo ngga mau kesini." Aku mengocek kopiku yang panas.
"Mau keluh kesah. Kemarin gue ke lembaga perlindungan wanita."
"Hah?"
"Iya.. Woman shelter."
"Ouch, feminis keparat!" Aku tertawa. Ia tertawa.
"I know that. Makannya gue mau keluh kesahnya sama elo."
"Emangnya ada apa sama gue?"
"Hey, you`re the queen of sinism!" Ia tertawa, kemudian ia melanjutkan. "Lagian lo kan udah berpengalaman di kegiatan-kegiatan sosial. Aktivis mampus gettoooo.. kerjaannya mondar-mandir ke LSM-LSM, baksos dimana-mana, ikutan orasi mahasiswa."
Aku tertawa. "The Queen of Sinism. Sialan! Predikat terhancur yang pernah gue denger." Aku tertawa lagi.
Bejo menghirup kopinya perlahan. Kemudian ia berkata, "Iya, kemaren tuh gue kesana. Maksud gue minta data tentang kekerasan thp wanita, sekalian buat penelitian gue lah. Tapi.. cuman minta print outnya doank aja dibikin ribet!"
"Ya itu rahasia perusahaan kali. Makannya dibikin ribet."
Ia mengaduk kopinya. Enggan membuat ampasnya mengendap. "Engga kok, Mir. Waktu itu gue ke LPA, gue minta data. Pas gue minta, mereka dengan sukarela ngasih print outnya buat gue. Malah mereka merasa terbantu dengan tujuan penelitian gue."
Aku mengangguk.
"Tipikal." Aku menahan tertawa.
Keningnya berkerut. "Tipikal apaan, Mir?"
"Joke masyarakat. Feminis sama dengan komunitas pembenci laki-laki. Dan lo itu laki.. dan, silahkan ambil kesimpulan." Aku tertawa.
"Ah, itu sih udah bukan joke masyarakat. Itu kenyataan!" Ia memakan pisang gorengnya dalam satu gigitan besar.
"Sebenernya apa sih yang mereka cari dari emansipasi?" Aku bertanya sendiri.
"Menyamakan kedudukan dengan laki-laki?"
"Ah! Itu udah jadul! Itu udah basi! Perempuan dan laki itu kan manusia. Dan mereka adalah pengada yang bebas. Tapi kalau emang kayak gitu, kenapa perempuan menyerah gitu aja ama laki?"
"Engga nyerah, Mir. Perang gender itu masih ada. Buktinya ada perlawanan. Dengan emansipasi."
"Yahh.. lo pikir aja, Jo. Kalau emang ada perlawanan, kenapa selama bertaon-taon ini engga ada hasil? Tapi ya mungkin aja ngga akan berhasil. Contohnya black american, Jo. Gue rasa sampe sekarang masih ada aja diskriminasi ras. Mau seberhasil apapun tu orang tetep aja ada diskriminasi ras. Apalagi yang namanya stereotype. Ngubah persepsi orang aja ngga gampang, gimana persepsi masyarakat? Contohnya itu Halle Berry. Lo kira dia mapan dia ngga didiskriminasiin?"
"Terlepas dari contoh lo tadi yah.. kadang salah cewek sendiri lho, Mir. Engga jarang kan dari mereka yang sukses karena kewanitaannya."
"Maksud lo?"
"Iya.. kewanitaannya. Seperti merayu, menggunakan bahasa tubuhnya, bahkan cara melihat mereka aja bisa bikin laki goyah"
"Perempuan punya apa sih selain tubuhnya? Mereka dihargai karena rahim, mereka disukai karena tubuhnya molek, ia dipekerjakan karena punya senyum dan wajah yang menyegarkan. Realita-realita itu kan yang dipelajari sama perempuan."
"Ah, ngga bener juga tektek bengek yang lo sebutin itu." Ia menggeleng.
"Coba lo liat koran sekarang, liat pas bagian kolom pekerjaan. Syarat utama dari pekerjaan kan rata-rata berpenampilan menarik."
"Iya juga sih. Gue rasa gue tau, Mir, kenapa perlawanan mereka selama ini ngga berhasil."
"Kenapa, Jo?"
"Toh mereka sendiri yang melanggengkan budaya itu sendiri. Mereka kayaknya masih takut untuk resiko kebebasan pada kehidupan yang ngga pasti kayak gini. Pas masih kecil, perempuan udah diarahkan."
"Diarahkan? Contohnya?"
"Mereka harus bangun pagi, bisa masak, bisa menjahit, bagaimana bersikap yang anggun.. bersikap perempuan. Perempuan yang ngga bisa masak dianggap bukan calon istri yang baik, perempuan yang maskulin dianggap engga tahu tata krama. Nah lo tau sendiri kalo laki gimana. Mereka dibiarkan berkembang, mereka dibiarkan punya pemikiran, mereka dibiarkan mencari uang. Udah dibentuk secara turun temurun, Mir!"
Aku memainkan pemantik rokokku. Ah, apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan yang ditinggal mati pacarnya karena kanker paru-paru dan meninggalkan wasiat sebuah pemantik rokok?
Ia meneruskan, "Setiap relasi antar individu itu adalah konflik. Udah mah antar individu, ditambah lagi antar gender. Hmmm.." "Nah itu tau! So, udah dapet jawaban kenapa mereka ngejutekkin elo?"
"Ahahahaha.. sialan! Yah, kalau lo jadi mereka? Lo mau apa?"
"Feminisme? Doktrin hal sosial dan politik agar setara sama laki terutama dibidang ekonomi? Kalau kata gue sih, siapa yang kuat dia yang menang itu udah cukup adil. Intinya gue harus berkompetisi sama laki. Simple kan?"
"Dengan melakukan pekerjaan laki-laki?"
"Pekerjaan seperti apa dulu? Kalau pekerjaan menginjeksi ovum dengan sperma gue ngga bisa."
Aku tertawa. Ia tertawa.

Saat kami asik meminum kopi, indra penciuman kami terganggu oleh truk sampah yang melewati warung kincir.
"Ampun.. sampah." Ia menutup hidungnya.
"Iyosh. Bandung, Rubbish van Java." Aku tertawa. Ia tertawa.
"Walaupun lambat, baguslah itu udah diangkatin."
"Tapi baru 10% lho. Ya lo bayangin aja 90% berikutnya seperti apa."
"Tapi gue ngga ngebayangin orang-orang yang deket sama TPS."
"Habituasi, Jo."
"Hah?"
"Habituasi. Penurunan respon karena stimulus berlebihan."
Bejo tertawa keras. "Sialan! Niat gue kesini buat refresh ma mind, tapi jadi kuliah gini." Ia terus tertawa sehingga orang disekeliling kami melihat kami.
"Emang kita salah ya? Emang kita jorok ya sampai sampah menggunung gitu?"
"Ya salah juga ngga, Mir. Kalau emang kita jorok, harusnya lautan sampah udah terjadi dari dolo. Ini kan berhubungan sama longsornya TPA Leuwi Gajah. Coba kalau TPA yang di Jakarta yang longsor. Mereka yang bakal jadi lautan sampah. Giliran kita yang ngetawain mereka."
"Sampai-sampai kita dibilang Kota Metropolitan Terkotor sama menteri. Katanya kita berperilaku kotor dan nyaman hidup kotor. Berperilaku kotor? Ambigu! Katanya mo ngerubah jadi kota wisata tapi engga beres. Pohon di Jl. Setiabudi di tebangin tuh. Yang deket kampus pendidikan itu lho. Sinting! Emangnya pembangunan itu harus mengorbankan pohon?"
"Ya.. tapi hargai aja lah, Mir. Kan kita sempet bikin taman kota. Engga bikin sih, cuman mempercantik taman kota."
"Iya.. tapi hebohnya pas mo KAA doank kan. Hehehe.. Lucunya lagi, pas Gubernur Jabar mau lewat jalan-jalan di Bandung buat lihat sampah, ormas-ormasnya disuruh buat bersihin jalan. Sampah-sampahnya diumpetin. Ya terang aja si gubernur ngga pernah tahu masalah yang sebenernya. Hehehe.."
"Mir, rasanya gue pengen teriak: Lulusan TL ITB dan ITENAS, are you exist??"
Aku memainkan pemantik rokokku.
"Tapi ya, Mir. Toh kayaknya orang Bandung sendiri juga ngga ngedukung tuh."
"Engga ngedukung gimana, Jo?"
"Kemarin gue liat pas tu polisi pada ngangkutin sampah. Masyarakat cuman nontonin doank. Mbok ya mereka bantuin kek."
"Kita kan masyarakat praktis dan pragmatis, Jo."
"Maksudnya?"
"Kalau melewati tumpukan sampah ya tinggal tutup hidung. Praktis kan?"
Aku tertawa. Ia tertawa.

Pisang goreng sudah habis. Dua gelas kopi sudah habis. Hari semakin sore.
"Balik yuk, Mir."
"Okeh."
"Sering ya lo kesini? Enak juga tempatnya."
"Sering banget, buat minum kopi doank seh."
"Ngapain kesini, Mir? Tempat yang bergengsi kayak Starbucks atau Potluck kan banyak. Kopi mereka enak-enak. Beragam pula."
"Tadi bilang apa? Yang didepan kata-kata Starbucks dll?"
"Tempat yang bergengsi."
"Nah itu jawabannya. Nyari gengsi atau nyari kopi? Lagian gue nyarinya kopi. Bukan nyari kopi yang bla bla bla dengan campuran bla bla bla. Hanya kopi."
Ia tertawa.

Tiba-tiba aku teringat bapak di kampung, apa kabar ya?

[Hasil hibernasi kok kayaknya otak makin konslet]

Comments

Vendy said…
semakin konslet, semakin bagus itu :lol:
undil said…
kalo sampah dibuat kompos, bisa buat pupuk bunga, en bandung jd kota kembang lg ya...
Avante said…
Saya mau kopinya...
bisa pesan satu?
mynameisnia said…
vendy: hoo.. baiklah
undil: padahal pemerintah bikin aja lubang besar, terus sampah organiknya masukin kesana.. nah.. diatas tu lubang dibikin taman. :D
avante: pisang gorengnya?
ryan gombal said…
hahahaha feminimisme dibilang jadul malah ditulis disini, mana kaitannya dengan doktrin agama ? bukan hanya culture yang ngebentuk bias gender, how bot religion ? walo gw masi yakin ma rligion gw.closing yang aneh, mo mbicarain femina ato sampah ?
icepigz said…
cerita situ ok jg. mayan stidaknya saya jadi nga bosen lagi

Ps:Babi yg lucu en imoet
mynameisnia said…
@RYAN GOMBAL:
lho? gpp donk gue kasih pemikiran gue kalo itu jadul. secara ini blog gue gitu!
emang endingnya kayak gitu. gue tadinya mau bahas sampah, kekerasan anak, televisi, penebangan pohon di bandung, sadisme, depresi, pembunuhan 3 orang anak, dan laennya. suka2 gue doms.
doktrin agama lo sendiri udah tau pan? pikir aja sendiri

-notintheritemood-
RediJugaJayuZ said…
wah jadi juga gw baca Blog Lu, sudah sejak lama gw pengen baca..cuman baru sekarang terealisasi. Sampah yah, kalo ga dari kita sendiri dulu yang ga dibenahin gimana bisa ngeberesin sampe tingkat selanjutnya?
in my point of view: tulisan lo cuman ngangkat masalah doang, trus ga dicari solusinya..well kayaknya lebih bagus lagi kalo (at least) ga cuman ngekritik doang...come up wit' the solutions too :)

cheers'
-JayuZ-
mynameisnia said…
ahahaha.. tengkiu. memang selama ini gue bagian pengkritis dengan sinis tanpa memberikan soluis :p kritik lo jadi bahan tulisan gue selanjutnya deh. thanks!

Cheers!
pipiet.... said…
wah ga nyangka dech cerita ringan tapi jadinya bagus banget... aku link boleh ya mba
mynameisnia said…
makasih :)
di link.. boleh banget ;)
ya ya ya, mank terserah luw, tapi kayakna gw tau ini terinspirasi dari pembicaraan nia dengan ........... hue hue hue. tolong jangan beritau nia !! wah dasar lelaki gombal weksz.....IP gw ga bagus nie.....standar B la
Anonymous said…
kalau dek nia berpikir lelaki tidak dibentuk dari kecil maka dek nia keliru. sekarang coba dek nia berpikir, kenapa harus lelaki yang mencari nafkah? hehehhehe...apakah dek nia mau mendapat lelaki rumah tangga
mynameisnia said…
@Ryan: emang yang mo cerita2 siapa?

@anonymous: ouch.. mgkn dek nia itu tidak pernah tahu bagaimana laki-laki dibesarkan. thanks for your info! :)
Vendy said…
kemanakah konsletnya ?
mynameisnia said…
hue.. vendy. lagi nabung materi buat bikin buku nih. terus ngga dapet ide muluk T_T
ditunggu sajha konsletnya :D
nice blog, suka sama cara penulisannya, klo tubruk kincir ini emang ditujuin untuk membahas masalah sampah dan feminisme, wih great idea to put social problems and critics in a story. . tapi klo it's simply a story, gw merasakan ada agak kemiripan suasana yang diciptain di warung kincir itu sama warung kopi yang ada di cerita filosofi kopinya dee. . hehehehe, just my oppinion. . :)

btw gw link yaah blognya!
mynameisnia said…
HeyHoo..
Selamat datang.. met kenal juga. Btw, sebenernya ini adalah essay yang gue ramu menjadi cerita pendek. Kalo essay kan kesannya sok menggurui.. lebih baik jd cerita aja gitu..

Monggo di link..
Steveskinn said…
huayah.....
Steveskinn!! Hadir!! Saya kasih nama nih non...

Btw, ntuh kopi daerah mana? Masi idup yg dagangnya? Maw dunk kapan2 ksono drpd garuk2 pala bayar billing di Roemah Kopi.

-Pamit-
mynameisnia said…
ahaha.. si stip mampir juga.
Ntu kopi ada dipemikiran sayah. Jadi rasa susah juga cuy nyari di Bandung :P
Anonymous said…
kalo minumnya di potluck/starbucks, ini jalan cerita pasti beda... :D

at least judulnya udah ganti jadi..capuccino blend bla-bla-bla.. :)
rizka - ge said…
kalo minumnya di potluck/starbucks, ini jalan cerita pasti beda... :D

at least judulnya udah ganti jadi..capuccino blend bla-bla-bla.. :)
DK said…
saya ikutan aja apa kata James..
haduh saya harus ubah lagi link di sayah yang pilosofi Teh

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…