Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2006

Pohon, Kabut, Bandung

"Uh.. dingin," ucap pohon.
"Maaf ya.. pagi ini aku harus turun," kata kabut dengan harapan bahwa pohon mau mengerti.
"Kenapa kamu harus turun?" tanya pohon. "Disini kan bukan gunung."
"Memang, tetapi Bandung hari ini terlalu panas di pagi hari. Aku harus turun karena untuk mendinginkannya."
"Ah? Seberapa panas?"
"Tiga puluh dua derajat!" Kata Kabut setengah berteriak.
"Apa??" Pohon tidak kalah kaget. "Biasanya Bandung tidak akan sepanas ini. Biasanya Bandung hanya sampai pada titik tiga puluh satu."
"Aku juga tidak tahu. Padahal Bandung dikelilingi oleh gunung-gunung. Bahkan Bandung pernah mencapai titik empat belas derajat di malam sampai pagi."
Pohon menghela nafas. "Bentar lagi aku mati kepanasan donk?"
"Tenang, tanah disini masih subur. Bukankah setiap hari kamu disiram?"
Pohon mengangguk.
"AKu bawa oleh-oleh dari desa di kaki gunung. Mereka dua kali lebih parah."…

Conversation II: Perda K3

"Kiri.. kiri.."
"Payun, neng!"1
"Lho, jauh amat, Pak! Saya kan mau berhenti disitu."
"Abdi mah moal neangan resiko denda lima ratus rebu. Pirage setop dia tanda es."2
"Ah, biasana oge didinya."3
"Ayeuna mah kudu asup kana BIP, neng. Di Sariningsih oge teu kenging setop."4
"Kaleum, Pak. Etah mah ngan sosialisasi wungkul!"5

Lucu ya. Terkadang orang beranggapan bahwa supir angkot yang tidak tahu aturan, menyalip dan berhenti sembarangan. Tapi pada saat mereka mau menaati peraturan (yang terus disosialisasi), masyarakat tidak mendukung. Lucu.

1: Depan, neng!
2: Saya sih tidak mau mencari resiko didenda lima ratus ribu. Gara-gara berhenti di tanda S
3. Ah, biasanya juga disana
4. Sekarang sih harus masuk ke BIP, neng. Di Sariningsih juga tidak boleh berhenti.
5. Tenang, Pak. Itu mah hanya sosialisasi saja.

Conversation

"Pak!"
"Ya, neng!"
"Kupat tahunya berapa?"
"Tiga ribu lima ratus."
"Hmm.. satu aja. Piringnya dari saya saja ya? Biar nunggunya ngga lama."
"Iya. Pakai pedas, neng?"
"Dikit saja, Pak. Saya lagi sakit perut."
"Tahunya kering atau setengah matang, neng?"
"Setengah matang saja, biar lembek."
"Ohh.."
"Pak.. anaknya kok dibawa-bawa, Pak?"
"Di rumah ndak ada siapa2-siapa, neng."
"Bapak rumahnya dimana?"
"Cikutra, dibelakang makam pahlawan."
"Wah.. jauh ya? Anaknya ikut jalan? Berapa umurnya?"
"Lima tahun. Anak saya ndak ngikut jalan. Kalau saya keliling kompleks, anak saya ya saya masukin ke gerobak. Biasanya dia sambil makan kerupuk."
"Lho, anaknya engga sekolah?"
"Ndak. Buat makan sehari-hari saja susah."
"Istri bapak kerja apa?"
"Buruh cuci."
"Ohhh.."
"Orang seperti saya sih susah. Pengen makan en…

Civil Society`s Poem II

Hari ini hujan tangis.
Anak dan sang Istri menitik pedih karena suatu perpisahan akibat kewajiban dari sebuah profesi.
Mereka telah menyadari bahwa ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi semenjak mereka membangun sebuah keluarga.
Para suami menahan air mata sekuat tenaga karena ia sendiri sudah tidak tahu bagaimana.

Tentara perdamaian menuju Lebanon.
Pelukan hangat dan ciuman kasih sayang terajut dalam sebuah bandara.
Dipisahkan oleh Pegasus yang membumbung tinggi tanpa tahu apakah mereka akan membawa mereka pulang dalam keadaan hidup atau mati.

Mudah-mudahan mereka pulang dengan selamat.

[Karya yang tidak ada spesial2nya tapi mudah2an diterima]