Minimalis

Aku berdiri didepan pintu yang jarang aku temui dalam keseharianku. Tidak ada daun pintu atau lubang kunci. Hanpir saja aku dikecohkan dengan keanehan sifatnya sehingga aku menganggap ini adalah sebuah kayu yang iseng dipasang oleh arsitektur demi nilai seni.

“Mau bertemu dengan siapa?”

Aku terlonjak, dikagetkan dengan sebuah suara yang berasal dari intercom yang berada disamping pintu.

“Mau bertemu dengan Ibu Mischa. Ada paket dari Pak Andhika,” jawabku.

Tiba-tiba pintu depan terbuka dengan sendirinya, menggoda aku untuk memasuki dan mengetahui apa saja yang ada didalamnya. Begitu masuk ke dalam pintu, aku disambut dengan dinginnya AC yang menyelimuti ruangan, membuat jarak tersendiri dengan udara diluar. Pandangan visualku dibuat kagum oleh sebuah ruangan besar yang terdiri dari garis-garis tipis serba minimalis. Ruangan yang dikelilingi oleh dinding kaca ini tidak memungkinkan untuk memaku sebuah lukisan, foto atau hiasan lainnya.

Marmer hitam yang mengkilap – sampai aku berpikir untuk melepas sepatuku karena takut mengotorinya - dipasang permanen membentuk lantai. Antara kaki meja yang kecil dan lantai membentuk suatu garis lurus yang panjang, pertanda bahwa lantai sangat bersih sehingga benda apapun yang ada diatasnya bisa bercermin. Sayup-sayup kudengar gemericik air di kebun belakang yang bisa kulihat melalui pintu kaca. Cahaya matahari memantulkan air kolam renang ke langit-langit ruangan, sehingga bisa kulihat bayangan yang bergerak-gerak.

Hanya ada sedikit perabotan yang menempati ruangan ini. Hanya ada empat buah kursi putih yang tidak seempuk sofa, sebuah meja yang dihiasi vas kaca yang berisi pasir laut dan bunga kering berwarna cokelat tua didalamnya dan rak kecil untuk menyimpan buku-buku import. Dapat kulihat ruang keluarga disebelahnya. Hanya ada tv plasma, sofa hitam yang terbuat dari kulit imitasi dan karpet yang berwarna cokelat tua.

Semuanya terlihat tipis, bahkan terlalu tipis. Semuanya terlihat bening, cokelat tua, hitam, dan putih. Semuanya terlihat kaku dan membentuk individu khas orang modern.

“Simpan saja paketnya di lantai,” ujar suara yang berasal dari intercom yang keberadaannya tidak aku ketahui. Kesadaranku akan kamera pengintai yang terpasang di rumah ini, membuatku merasa diawasi dan tidak nyaman. Keamanan tingkat tinggi pasti menjamin berlangsungnya rumah ini.

Aku membalikkan badanku kemudian berjalan ke pintu. Sama seperti sebelumnya, ia terbuka dengan sendirinya.


[Sedang belajar mendeskripsikan. Terbayangkan ndak?]

Comments

aroengbinang said…
Cara mendeskripsikannya bagus. Cukup detil tapi gak berlebihan. Setiap kali bicara detil cerita, slalu teringat frederick forsyth...

Sepertinya saya bisa membedakan mana deskripsi detil berdasarkan riset atau observasi langsung dg kalimat yg mengalir wajar. Smangat terus!
raffaell said…
Ini yang aku suka, cara mendeskripsikanya, enak banget bacanya, aku nyaman banget, segini dah pas (bagiku) ngga terlalu berlebih, ngga terlalu di buat buat, sederhana tapi jelas dan terasa maknanya.

conrats yah
mynameisnia said…
@areongbinang dan raffaell:

Makasih ya atas dukungannya. Mudah2an makin bagus deh.
Vendy said…
enak koq. udah cukup jelas.

oot : minta sisi dramatisnya dunks :lol:

Popular Posts