Hectic

Akhir-akhir ini saya merasa bahagia. Walaupun hidup penuh cobaan seperti judul skripsi ditolak, ke rumah sakit dengan niat untuk mewawancara psikolog tentang anorexia nervosa tapi saya sendiri yang dikira pasiennya, sampai mungkin sebentar lagi saya jadi buronan dosen karena saya dikira memakai obat penenang. Ah, nasib.
Oh ya, apa kabar semuanya? Gud gud? Akhir-akhir ini dunia repot banget ya. Dari Roy Martin yang jatuh ke lubang yang sama, Achmad Albar yang punya relasi dengan istri bandar internasional bernama Cece yang semula saya sangka Cece itu orang Depok karena saya kira Cece dilafalkan dengan Ceu-Ceu yang berarti kakak, fenomena Rob di Jakarta Utara tapi pemerintah cuman bisa menyalahkan global warming. Tragisnya, yang kena tuh negara kita yang notabene ngga peduli dengan global warming. Dan kemungkinan airport bertaraf internasional Soekarno- Hatta akan lumpuh efek dari pembangunan Pantai Indah Kapuk yang iklannya santer disiarkan di Metro TV dengan pembawa acara Feni Rose yang meyakinkan bahwa perumahan ini hanya untuk orang menengah ke atas sedangkan yang miskin tetep dibawah jembatan. Nasib negara miskin tapi gengsinya gede.
Belum lagi teman-teman saya hanya bisa misuh-misuh mendengar Reog diklaim negara tetangga setelah batik, angklung, lagu Rasa Sayange, dan ancaman kalau kita masih meributkan hal tersebut maka Malaysia akan mengklaim bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasanya.
Atau belum ada yang tahu dengan ancaman tersebut? Simak kutipan dari koran Galamedia tanggal 26 November 2007.
Lucu. Setahu saya Amerika saja tidak berani mengklaim bahasa Inggris sebagai bahasanya. Lagian bukannya bahasa Indonesia sudah mengalami perkembangan dan mempunyai perbedaan yang signifikan dari bahasa Melayu yah? Setidaknya sebagian besar masyarakat kita tidak menggunakan istilah jamban untuk menjelaskan kamar mandi.
Kembali ke Reog. Ternyata sekitar dua ribu pasukan Reog sudah mendatangi kedubes Malaysia dan akhirnya ia mengakui bahwa kedubes milik Indonesia. Pasukan Reog pun mengancam kalau ada kejadian yang serupa, mereka akan demo ke pemerintah untuk memutuskan hubungan diplomatik antara Malaysia dan Indonesia. Lho, kok diputuskan? Jangan dong. Kasian Bunga Citra Lestari dan Ashraf.
Kesel? Ya tentu. Budaya di Jawa kok bisa menclok ke Malaysia? Kalau mau ngaku-ngaku pun, kenapa tidak mengklaim budaya yang satu pulau dengannya yaitu Kalimantan. Itu lebih masuk akal. Dan kenapa batik? Kenapa tidak mengklaim, "Koteka adalah milik Malaysia"?
Tapi kesel dan menyalahkan negara lain saja engga cukup. Karena kesalahan untuk tidak menjaga dan melestarikan budaya itu kan kita juga. Kita baru bergerak dan memberi hak paten ketika budaya kita diklaim orang lain. Kenapa dari dulu kita lupa untuk bertindak? Jangankan untuk bertindak, arca atau benda-benda museum yang penuh nilai historis saja dijual sama pemiliknya sendiri. Ya mau gimana lagi, apresiasi masyarakat memang kurang untuk pergi ke museum apalagi segala sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan kalau tidak ada tugas akhir atau rekreasi tahunan.
Saya ngga mau menjelek-jelekan Malaysia karena blog ini bisa diakses dimana saja. Mungkin sebaiknya kita berterima kasih karena Malaysia sudah menyadarkan kita untuk melestarikan kebudayaan sendiri. CMIIW. Saya menulis bukan sebagai orang HI yang ahli dalam bidang hubungan internasional, saya juga bukan antroplog yang mendalami kebudayaan, tapi saya hanya masyarakat yang takut kalau pemerintah tidak segera bertindak, apa yang menjadi hasil cipta, rasa, dan karsa orang Indonesia diklaim negara lain.
Yah semoga (warga) Indonesia semakin pinter. Agar pendidikan maju, kemiskinan berkurang, dan engga ada lagi anak kecil yang meninggal karena diare. Engga ada lagi wapres yang menjenguk korban diare hanya 15 menit. Engga muncul lagi penyakit langka seperti tumbuhnya kutil ganas yang menyerupai tanduk karena para ilmuwan Indonesia dengan segera menemukan obatnya.
That's all folks.
Have a nice weekend!!

Comments

Praditya said…
"Yah semoga (warga) Indonesia semakin pinter. Agar pendidikan maju, kemiskinan berkurang, dan engga ada lagi anak kecil yang meninggal karena diare. Engga ada lagi wapres yang menjenguk korban diare hanya 15 menit. Engga muncul lagi penyakit langka seperti tumbuhnya kutil ganas yang menyerupai tanduk karena para ilmuwan Indonesia dengan segera menemukan obatnya."
Amiin... :D
macangadungan said…
klo lg kaya gini...menurut gw yg harus bertindak itu pemerintah. klo rakyatnya yg bertindak... ya ga bakal ada efeknya.
yg gw heran... ko bisa2nya malaysia meng-hak paten-kan smua itu..? soalnya setau gw..klo mau mematenkan sesuatu kan kudu diselidiki dlu asalnya. awal munculnya drmana,yg nyiptain siapa... jadi gw bingung deh sama konsep hak patennya malaysia. cm gara2 lagu rasa sayange ato batik, ato reog udah ada dari jaman menterinya dy masih ngemut empeng..apa berarti kesenian dan budaya tsb boleh dipatenin sama mrk?
klo gtu kita bisa dong mematenkan auld lang syne(bner ga ya nulisnya?hhehe) sebagai lagu negara kita... secara tu lagu udah srg dinyanyiin dr tahun jebot... hahahahah...

mgkn kejadian ama maling-..eh..malaysia ini bisa membuat kita sadar untuk lbh menghargai budaya kita sendiri. biar ga direbut sama maling-..ups...malaysia atau negara2 maling-..eh... maksudnya negara lainnya gtu deh...

yah gtu deh... gimana negaranya mau bner kalo kepala rumah tangga (aka pemerintah) ga bisa ngatur keluarga(aka warganegara)-nya dengan bner..?
pushandaka said…
Yang lucunya, di Majalah Tempo edisi minggu ini, Menteri Pariwisata Malaysia, Tengku Adnan Tengku Mansor, malah bilang,
"Sejak kecil sampe sakarang saya tidak pernah dengar ada tari Barongan "
Padahal negaranya mengklaim bahwa tari Barongan sudah ada sejak jaman dulu dan berkembang di Batu Pahat, Johor, dan Selangor.
Keliatan banget kan maksanya Malaysia?
ishtar said…
edyaann..satu postingan banyak bahasan..
apalah tentang negara ini, saya skeptik sekaligus nasionalis sejati..saya ga suka sekaligus sayang, saya benci sekaligus cinta..mo gimana lagi ini tanah qta sih..

Popular Posts