Skip to main content

Salah Sambung

Mungkin dari beberapa temen pernah mengalami telepon salah sambung. Entah darimana mereka dapet nomer teleponnya, tetapi intinya salah sambung.
Motivasi salah sambung pun beragam, ada yang salah pencet nomer, ada yang salah informasi, ada yang emang sengaja mencet nomer dengan asal dengan maksud iseng atau ingin ngajak kenalan.
Saya pernah mengalami motivasi yang terakhir: diajak kenalan. Begini pembicaraanya:
The Pasirkoja Man (TPM): Halo? Dengan Yenyen?
Nia: Bukan, salah sambung.
TPM: Oh, dengan siapa ini?
Nia: Ya pokoknya salah sambung.
TPM: Ini nanya baik-baik lho. Ini dengan siapa?
Nia: Dengan.. engg.. nia.
TPM: Nia? Temennya di Pasirkoja?
Nia: Bukan. Saya ngga punya temen yang namanya Yenyen.
TPM: Kamu kenal Yudi di Caringin?
Nia: Engga.
TPM: Atau kenal Deni di Pasirkoja?
Nia: Engga juga. Dibilangin saya kenal Yenyen.
TPM: Tinggal dimana, Nia?
Nia: Hah?
TPM: Di Pasirkoja ya?
Nia: Wah jauh, Mas. Saya tinggal di Dago dan bukan orang Pasirkoja.
TPM: Kamu pake kerudung?
Nia: Hah? Kagak tuh.
TPM: Oh, kamu Kristen ya?
Nia: Iye.
TPM: Kamu pasti Chinese.
Nia: Iye.
TPM: Yenyen juga Chinese, tapi dia pake kerudung.
Nia: Waduh, engga nanya juga sih, Mas.
TPM: Aduh badan kok pegel-pegel gini ya?
Nia: ...
TPM: Nia?
Nia: ...
TPM: Kok diem?

Akhirnya saya matiin. Ini orang ngomongnya ngelantur banget. Terus besoknya saya cerita ke teman saya perihal telepon ngeselin. Temen saya bilang, "Sekarang emang gitu modusnya, Ni. Pertama, pura-pura salah sambung dulu. Terus udahnya diajak kenalan deh."
Dan bener aja, itu orang besoknya nelepon lagi. Dia nelepon dan bilang, "Nia.. lagi apa?"
Huh? Desperate amat nyari jodoh, mas?
Pernah juga ditelepon sama debt collector. Kalau ini neleponnya ngga sekali, tapi berkali-kali. Hari ini, besoknya, lusanya, besok lusanya, dan seterusnya. Pertanyaanya menyebalkan, tipikal penagih hutang.
Debt collector perempuan (DCP): Halo? Selamat siang. Bisa bicara dengan Bapak Yudi?
Nia: Salah sambung, Mbak.
DCP: Ini dengan siapa?
Nia yang merasa aman karena setidaknya ini perempuan: Nia.
DCP: Oh. Salah sambung ya?
Nia: Iya.
DCP: Terima kasih.

Besok-besoknya terus ditelepon sama orang yang berbeda, dengan suara yang berbeda, dengan tone suara yang semakin frustasi karena Pak Yudi tidak kunjung ditemukan. Hehe. Akhirnya debt collector laki-laki nelepon.
Debt collector laki-laki (DCL): Halo?
Nia: Ya
DCL: Ini nomernya Pak Yudi?
Nia: Bukan, Mas.
DCL: Atau punya saudara yang namanya Yudi?
Nia: Engga juga.
DCL: Sudah lama pakai nomer ini?
Nia: Udah.
DCL: Ini nomer baru atau bekas pakai?
Nia: Dari awal beli juga pakai nomer ini.
DCLi: Sejak tahun berapa?
Nia: 2003-an lah.
DCL: Bisa disebutkan berapa nomer hp mbak?
Nia: 081321xxxxx
DCL: Bisa disebutkan sekali lagi?
Nia: 081321xxxxx
Nia: Mas, dari kemarin ada yang nelepon Pak Yudi. Emangnya ada apa sih?
DCL: Oh.. Pak Yudi itu belum membayar hutang kartu kreditnya. Terus saya dikasih nomer ini.
Nia: Wah, berarti mas ketipu. Dari dulu saya pakai nomer ini. Lagipula saya mahasiswa, jadi ngga pakai kartu kredit.
DCL: Iya, hutangnya banyak lagi.
Nia: Wah, itu sih urusan mas sama Pak Yudi.
DCL: Oh ya sudah. Terima kasih ya.

Kasian sekali debt collector. Kerjaannya ngejar orang jahat, orang yang kehadirannya ngga pernah ada. Tapi saya pernah kenal sama debt collector. Hasilnya sama saja: Jahat dan presensinya engga pernah ada.
Cuman tadi pagi rada ngeselin. Ada yang nelepon subuh-subuh. Sengaja engga saya angkat karena saya paling sebel ditelepon subuh-subuh, kayak ngga ada waktu lain aja. Tapi si orang itu ternyata ngga sekali nelepon, tapi berkali-kali. Karena berisik, akhirnya saya angkat.
Si Ngotot (SN): Halo??
Nia: Hm?
SN: Ini siapa??
Nia: Lho, kamu yang mau nelepon, kok kamu yang nanya?
SN: Arielnya mana? Arielnya mana??
Nia: Ariel? Salah sambung, Mas!
SN: Hah? Salah sambung??
Nia: Iya. Salah sambung. Engga ada yang namanya Ariel.
SN: Ini dengan siapa??
Nia: Pokoknya salah sambung.
SN: Arielnya mana? Arielnya manaaaa??
Nia: Mas tuh ngerti ngga sih arti dari salah sambung??

Ternyata salah sambung sama orang yang ngga nyambung lebih menguras tenaga. Huah!
Ada beberapa tips dari saya bagi para pembaca yang menerima telepon salah sambung.
1. Jangan menyebutkan identitas asli karena motivasi salah sambung bisa apa saja.
2. Kalau orangnya ngotot, tidak usah diladenin karena selain hanya menguras tenaga, kenapa juga kita harus ikut ngotot dalam hal yang menurut kita benar? Toh ntar juga dia tahu kalau dia salah sambung.
3. Kalau besok-besoknya ditelepon lagi hanya untuk ngajak kenalan, engga usah ke-GRan dan engga usah diladenin karena kita ngga akan pernah tahu siapa orang yang dibalik telepon. Contohnya pembantu saya suka ngajak kenalan orang lain dan dia ngaku-ngaku mahasiswa. Mau emang dibodohi oleh pembantu?
4. Tidak usah ganti nomer karena satu nomer yang menyebalkan tidak sebanding dengan nomer kontak yang ratusan. Ganti nomer akan menghilangkan kontak dengan banyak teman. Bertahan aja, paling sebentar lagi dia bosen.
Ok. Gimana? Seep ngga tuh tips-nya. Hihi. Dan tolong untuk salah sambungers agar memeriksa lagi nomer yang akan dihubungi.

Comments

Praditya said…
Wahahaha...

Klo saya gak pernah nerima telpon salah sambung di HP saya. Coz klo ada yg nelpon saya tpi nomornya gak ada d phonebook saya gak bakal saya angkat... :D
mynameisnia said…
Lha? Gak diangkat? Kalo itu ternyata orang yang kita kenal terus nelepon dalam keadaan butuh gimana?

Hehe, ada yang lebih tega rupanya. Hehe.
cah bodoh cla_x said…
harusnya suka dong. kan tambah temen.heee. and dia juga yg kehilangan pulsakan? ko sewot sih. haaaa.
Avante said…
Gw pernah punya skenario (yang muncul saat gw skripsi) begini modusnya:
****************************************
********************************
**********************
****************

Gw : "Ada dongkrak neng?"

Maaf disensor, karena bukan untuk komsumsi umum :p
Avante said…
Komen gw kali ini ada hubungannya dengan judul posting kamu sekarang.

"Resolusinya nanti aja yah, buat bahan postingan Tahun Baru" :)
mynameisnia said…
@cah bodoh cla_x: waduh, kalo caranya gitu sih ganggu, mas.
@avante: seep, gw tunggu resolusinya. haha.

anyways,

Semenjak saya posting disini - panjang umurnya - saya dapet 2 telepon salah sambung tadi malem. Huhuh, makin menjadi2 deh.
adit said…
Weh nia, keseringan tebar pesona kali ya jadi nomer hpnya udah kemanamana..hahahahaha.. *kabur*

http://adit.pancaroba.com
Vendy said…
kalau telepon dari sales, sudah pernah dapet belon ? :P
mynameisnia said…
@adit: pesona gw gifted,man. jadi gak usah ditebar juga keliatan. hahah.

@vendy: gw blm pernah di tlp sales. tapi sales yg bikin bangga tuh salesnya UNESCO karena dia nanya apakah gw pake master card atau visa. gw kira mahasiswa dekil gak ditengok sales. hohoh.
pushandaka said…
Hi Nia..
Wah, kapan ya aku bisa nelpon kamu juga? Hehe..

Aku juga pernah ditelpon ama orang yg ngaku2 debt collector-nya bank di jakarta. Dia pertama kali nelpon waktu aku magang di deplu. Tapi, sampe balik ke jogja, trus sempat pulang ke bali, masih juga nagih hutang! Akhirnya, kutantang aja ketemuan di bank yang dia maksud. Tanpa pamit, dia yang matiin telponnya..
mynameisnia said…
Wah.. kok ada yang mau ngaku2 jadi debt collector? jangan2 dia mau ngaku2 diutangin sama orang.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…