Skip to main content

Warning. It's Global Warming.

SURAT UNTUK TUHAN


Dear Tuhan Yang Maha Esa,

Baru saja aku membaca majalah Tempo mengenai global warming. Jujur saja aku menyesal membaca karena ini menyadarkanku kepada kelemahanku. Aku tidak bisa mengendalikan orang lain untuk tidak melakukan pencurian kayu, aku tidak bisa menghentikan pabrik kertas yang membutuhkan asupan banyak sekali kayu, aku tidak bisa mengehentikan pembakaran hutan gambut oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk dijadikan kebun kelapa sawit, aku tidak bisa menghentikan pertumbuhan penduduk yang setiap orangnya membutuhkan tempat tinggal, dan aku tidak bisa menyelamatkan dunia.
Aku bukan pahlawan seperti yang ada di komik atau serial Amerika yang berjudul Heroes.
Sedih ketika tahu bahwa global warming bukan hanya sekedar melelehkan es di dua kutub. Ia menjadikan tanah di Karawang menjadi kering dan ia melelehkan salju abadi di Jayapura. Ia juga membuat migrasi nyamuk malaria ke dataran tinggi dan membuat semakin banyak korban. Ia membuat terumbu karang berwarna putih, ia membuat para petani memanen padi yang masih berusia dini, dan beberapa tahun lagi ia akan membuat ibukota tenggelam.
Tuhan.
Dahulu negaraku disebut zamrud khatulistiwa karena dari ujung Sabang sampai Merauke karena negaraku terdiri dari hutan-hutan. Negaraku dahulu adalah paru-paru dunia. Namun kini negaraku berada di titik ekstrim yang bersebrangan semenjak rekor dunia menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara penghancur hutan pertama di dunia yang membabat hutan sebanyak tiga ratus kali lapangan bola setiap jamnya. Haruskah aku bangga?
Mungkin Engkau sudah tidak berpihak kepada
Indonesia sejak zaman Orde Baru. Karena pada saat itu pabrik kertas bermunculan dan penebangan hutan pun dimulai. Luasnya hutan tidak sama dengan banyaknya polisi hutan yang berjaga-jaga. Belum lagi hasil penjarahan yang dinikmati hanya segelintir orang tapi akibatnya harus ditanggung bersama: semua makhluk hidup. Manusia sibuk mengurus diri dari banjir, binatang sibuk mencari tempat perlindungan, namun tanaman tidak sibuk apapun karena ia tidak bisa bergerak.
Mungkin begitu caranya akhir dunia, ya? Mungkin sebenarnya kiamat tidak datang tiba-tiba karena prosesnya terjadi oleh manusia itu sendiri?

Surat ini bermaksud agar Engkau memperlancar konferensi tentang global warming di Bali yang menunjukkan hasil dan secara tidak langsung membuat pemerintah menolak ekspor kayu seperti yang dilakukan Aceh dan Papua.
Semoga ibu pertiwi tidak bersusah hati lagi. Semoga air matanya berhenti berlinang. Dan laranya pun hilang.
Amin.

Comments

praditya.net said…
Ngikut aminin...

Amiin!
raffaell said…
Amin juga...
emina said…
makasih udah berkunjung ke blog saya ^_^

surat untuk Tuhan?
Vendy said…
itu sih, nasi bukan jadi bubur, tapi gosong :))

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…