Skip to main content

Ironi

Kemarin saya masuk kelas filsafat. Saya dan teman-teman saya bahas mengenai tokoh-tokoh filsafat. Tapi ada bahasan yang lucu, mengenai teman-teman saya yang membahas Heidegger dan Jaspers.
Jaspers mengemukakan mengenai 'kesejatian'. Intinya kita memang makhluk sosial dan kita berinteraksi dengan orang lain, tapi jangan sampai hilang kesejatian. Jangan ketika orang lain mengatakan A, kita ikut mengatakan A tanpa tahu artinya. Dan inilah krisis yang dialami manusia zaman sekarang ini.
Lalu Heidegger mengemukakan 'terlarut dalam kehidupan sehari-hari'. Intinya manusia jika terlarut dalam keseharian akan lupa dengan 'keberadaan dirinya' (dasein). Heidegger bilang kalau kita ini seperti orang yang sedang mendayung kapal kecil yang berada di lautan. Ombaknya adalah keseharian dan mendayung kapalnya adalah kita. Kita harus mendayung dan jangan mengikuti arus.
Menurut saya, kesimpulan dari dua tokoh diatas tuh mengajarkan kita untuk - walaupun kita ini berinteraksi dengan orang lain - jangan lupa dengan diri kita yang sebenarnya.
Kemudian, yang baru saya sadari, semua teman-teman yang mengemukakan pendapat tokoh-tokoh itu memakai sepatu plastik yang saat ini sedang booming di Bandung! Lho, kok lucu. Mereka baru saya menyampaikan untuk tidak latah seperti orang lain, tetapi sendirinya latah. Saya mendengarkan mereka kok jadi kurang respek gitu ya semenjak tahu apa yang mereka pakai.
Tidak hanya teman saya, tapi orang lain pun demikian. Bukan masalah sepatu plastik, tapi gaya hidup lainnya. Yang paling terlihat sih fashion. Ketika orang memakai A, semuanya A. Ketika orang memakai B, semuanya B. Contohnya dulu rambut rebounding sedang happening, semua orang direbounding. Dulu pakai poni dianggap culun, sekarang orang-orang berlomba-lomba memotong poni. Sepatu balet, skinny jeans warna warni, baju Starbucks, sepatu high heels warna warni, tas rantai, dari celana pendek diatas lutut sampai celana pendek dibawah garis bokong. Sekarang perempuan-perempuan di mall semuanya terlihat sama. Tidak hanya perempuan, sekarang laki-laki juga pakai cardigans.
Waktu dulu banget, semua orang happening pakai baju Che Guevara tanpa tahu siapa Che Guevara itu. Semua orang memakai gelang solidaritas kebersamaan, tapi tahu apa solidaritas kebersamaan itu. Semua orang memakai istilah jablay untuk mendeskripsikan orang yang jomblonya kelamaan, padahal jablay itu artinya pelacur. Semua orang bilang "ganyang Malaysiaa!!" tapi tidak tahu apa yang mau di-ganyang.
Waa.. kalau Heidegger masih hidup, mungkin dia sebel. Mungkin dia akan mengingatkan bahwa kita ini adalah makhluk yang unik dan mengekspresikan dirinya dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin..

Comments

vendy said…
"tampil beda dengan bergaya sama" ~ anonim.

salah satu cara adaptasi paling simpel :))
stey said…
saya mah tetap dengan gaya saya..at least blog saya sudah beda..hehehe..
mynameisnia said…
hey, welkom stey..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…