Kelas Mimpi

Di psikologi, mimpi menjadi bahasan penting. Psikologi (terutama aliran psikoanalisa) mengutamakan alam bawah sadar sebagai pusat konflik manusia. Trauma masa kecil, keinginan seksual, dan keinginan agresi masuk ke dalam alam bawah sadar. Cara mengungkapkan alam bawah sadar bisa dengan asosiasi bebas, hipnosis, dan interpretasi mimpi.
Entah kenapa, saya minat sekali dengan mimpi. Pertanyaan yang sering saya kemukakan adalah mengenai mimpi. Misalnya darimana sih Freud menginterpretasikannya? Bukankah setiap orang tidak bermimpi setiap harinya dan bisa lupa? Lalu bagaimana jika klien memodifikasi jalan cerita mimpinya?
Sama seperti di kelas, membahas mimpi itu memang tidak ada habisnya. Sayangnya disini belum ada kelas khusus psikologi mimpi. Adanya psikologi transpersonal, yang sedikit membahas tentang mimpi.
Kemarin, beberapa adik kelas saya presentasi mengenai pengalaman transpersonalnya dengan menggunakan metode jurnal mimpi. Jadi metodenya tuh setiap kita mimpi harus ditulis seperti diary gitu. Metode ini tidak mudah seperti kedengarannya karena yang dicari adalah pengalaman transpersonal. Jadi berbeda dengan mimpi biasa.
Tapi yang dikemukakan oleh teman-teman saya itu mimpi biasa. Salah seorang dari mereka bercerita ia bermimpi ibunya berturut-turut. Ia menyimpulkan bahwa ia kangen ibunya. Saya malah aneh, kemudian saya mengungkapkan pertanyaan:
1. "Saudara-saudara ini menggunakan metode jurnal mimpi kan? Bukannya metode ini bisa dipakai jika mimpi kalian itu disadari (lucid dream) dan mimpi kalian itu berbarengan? Tapi yang saya lihat, saudara mimpi seperti biasanya. Lalu gimana nih manfaat praktek saudara?"
2. "Saudara-saudara ini menggunakan teori dasarnya Sigmund Freud ya? Tapi bukannya ia menafsirkan mimpi dari simbol-simbol? Berarti tidak semudah itu menyimpulkan bahwa kalau saudara memimpikan ibu, artinya saudara kangen dengan sosok ibu."
Mereka menjawab, "Ya mungkin kita salah karena kita melakukan prakteknya terlebih dahulu tanpa tahu teorinya."
Tapi ada satu teman merasionalisasi, tapi karena jawabannya tidak menjawab pertanyaan saya dan cara bicaranya kurang jelas, jadi engga tahu deh dia jawab apa.
Saya iseng bisik-bisik ke teman disebelah saya, "Lo mau tahu ngga mimpi dia berdasarkan interpretasi asal gw? Kalo kata gw, tu anak pasti ada konflik sama ibunya. Kalo diliat dari teorinya Freud tentang elektra complex, dia menganggap sosok ibu sebagai saingannya. Coba lo tanya ke dia, gimana hubungan dia sama ibunya."
Teman saya nurut juga, dia bertanya, "Saya mau tanya. No offense ya, terserah mau dijawab atau tidak. Saya hanya ingin tahu hubungan kamu dengan ibu kamu dalam periode mimpi itu, bagaimana?"
Teman yang presentasi di depan mula-mulanya ragu, kemudian ia menjawab, "Sebenarnya.."
Kita H2C alias Harap-Harap Cemas menunggu jawaban dia.
Dia melanjutkan, "Sebenarnya hubungan kita sedang tidak baik."
Kalau kata saya, kita tidak bisa menyimpulkan segampang itu karena jadinya akan seperti primbon jawa. Berdasarkan teori dan buku yang saya baca, contohnya orang yang bermimpi mengenai seorang wanita dengan dada besar, ia merindukan sosok ibu. Orang yang memimpikan ular, artinya ia mempunyai keinginan akan penis. Primbon jawa mengatakan jika kita memimpikan ular, maka jodoh kita akan datang. Hampir mirip dengan Freud, karena jodoh bersifat lawan jenis dan seksual.
Well, apapun mimpi dan interpretasinya, dinikmati saja. Karena hanya dengan tidur kemudian bermimpi, kita masuk ke dalam sebuah dunia absurd yang tidak pernah kita temui dalam dunia nyata.

Comments

stey said…
belum pernah terlalu dalam menafsirkan mimpi,ternyata menarik juga y..
macangadungan said…
wah... gw tertarik bgt deh sama yg namanya menafsirkan mimpi. tp eniwei.. lo sndiri Na.. percaya ga klo mimpi emang bisa meramalkan masa depan ato bisa jadi pertanda kejadian yg akan datang?
gw sering ngalemin yg kayak gtu. itu normal ga sih?
vendy said…
terkadang, ada mimpi yang sekedar "numpang lewat" yang tidak akan teringat untuk kedua kalinya setelah pipis di pagi hari.

tapi, terkadang pula, ada mimpi yang sulit untuk dilupakan, meskipun itu adalah mimpi 10 tahun yang lalu. ditafsirkan pun, rasanya enggak yakin bahwa itu benar adanya.
tiwi said…
dasar ya bu, mentang2 dah tau ttg penafsiran mimpi based ilmu psikologi...diriku selalu mencari "akar" dari mimpi2 aku..apakah itu hal yang aku re-press, ato terus dipikirin, atau masuk ke hal2 mistik, atau pertanda, atau gak punya arti apa2
mynameisnia said…
@macan:

metafisika?

Kalo masalah metafisika atau sixth sense dll dsb gw belon ngerti. Tapi kalo kata gw, mungkin juga itu bisa. Karena manusia bagian dari semesta dan dirinya bersinergi dengan alam. Mungkin sebenarnya kejadian yang belon terjadi itu sudah diingatkan melalui mimpi, tapi kita engga sadar.

Atau kayak The Secret, tentang kekuatan pikiran. Apa yang terjadi itu karena apa yang kita pikirkan. Bisa jadi apa kejadian itu ngga terjadi, tapi karena kita pikirkan dan kita yakini, kejadian deh.

Tapi itu cuman pendapat gw doang. Ntar gw tanya dosen gw deh :D

Jadi, gw sih cukup percaya tapi tidak meyakini. Karena setau gw selalu ada kejadian yang diluar akal manusia.

Hehe.

Popular Posts