Mereka Bilang, Saya Monyet!

Kemarin saya nonton filmnya Djenar Maesa Ayu yang judulnya Mereka Bilang, Saya Monyet! Ada yang sudah nonton?
Saya nontonnya di Blitzmegaplex. Tahu dong segimana gedenya itu bioskop? Nah, pas saya masuk, kok engga ada orang. Beberapa lama kemudian ada perempuan dateng dan duduk beberapa baris di depan saya. Untungnya kakinya napak dan tidak tertawa mengikik sambil melihat saya dengan mata penuh darah. Dia normal dan sehat walafiat. Dan ketika hampir mulai, ada tiga orang anak sma yang datang. Jadi, total dari keseluruhan kursi yang berjumlah ratusan, isinya cuman lima.
Seperti yang kita tahu, Djenar ini penulis yang blak-blakan dalam menulis mengenai seksualitas. Oleh karena itu, ini film dikategorikan film untuk dewasa karena mengandung seks, alkohol, dan rokok. Tapi film ini lebih mending dibandingkan 3 Hari Untuk Selamanya.
Djenar bekerja sama dengan Indra Herlambang. Sebelumnya saya tidak mengira Indra Herlambang bisa menulis. Tapi ketika membaca buku Rahasia Bulan, he's a great writer though. Mengenai filmnya sendiri, ini film kelam banget. Filmnya bercerita tentang anak yang mempunyai orang tua yang sama-sama selingkuh, kemudian ketika ia sudah besar jadi selingkuhan orang lain. Pas nonton filmnya, saya jadi mikir, ada toh kehidupan yang seperti itu? Maksudnya, memangnya socialite Jakarta hidupnya sebebas itu? Ternyata Jakarta sudah semaju itu ya? Maaf kalau saya naif, soalnya saya terbiasa dimanjakan oleh cerita kaum marginal dan menonton berita nasional mengenai nasib orang-orang miskin :D
Cuman kalau kata saya, ceritanya rada ngambang dan belum selesai. Bener juga kata si tokoh dalam film itu, "Terkadang ada beberapa masalah yang ngga perlu diselesaikan." Dan cerita pun tidak selesai.
Sedikit informasi, waktu itu saya diceritakan editor saya. Katanya ia bertemu dengan seorang sastrawan. Sastrawan itu suka sekali karyanya Dewi Lestari, Cala Ibi, dan Djenar. Ketika ia bercerita tentang Dee, ia menunjuk kepalanya. Ketika ia bercerita tentang Cala Ibi, ia menunjuk hatinya. Ketika ia bercerita tentang Djenar, ia menunjuk bagian bawah badannya. Saya jadi mikir, apa ya yang ada dipikiran Djenar Maesa Ayu ketika ia menulis? Bukan karena jelek, tapi karena menurut saya bagus banget karena ia bisa mengubah sesuatu hal yang penuh nafsu dan gairah menjadi pahit dan tragis, bukan porno ala Moammar Emka. Apa itu kisah nyata? Kalau iya, pasti tersiksa banget mengingat kejadian-kejadian traumatis yang membekas di hati. Setahu saya, penulis itu pasti menyelipkan sedikit bagian dari dirinya entah itu pengalaman pribadinya atau sub personality-nya kepada sebuah cerita. Ibarat anak yang mewarisi sifat-sifat orang tuanya.
By the way, ngomong-ngomong tentang Moammar Emka. Waktu itu saya ke pameran buku di Landmark sama saudara saya. Saudara saya nunjuk Jakarta Undercover dan bilang keras-keras, "Moammar Emka itu siapa sih?? Kok bukunya gitu?" Gak ada angin, ngga ada kentut, ada Moammar Emka berdiri dibelakangnya. Oo.. kamu ketahuan. Susah punya sodara yang bawa-bawa amplifier.
Pembaca boleh lho menjawab pertanyaan mengenai kehidupan Jakarta. Bagi yang belum dan menyukai dunia tulis menulis, mending tonton film ini deh. Tapi kalau niatnya ingin mencari hiburan, sebaiknya jangan. Karena saya sendiri setelah keluar dari bioskop merasa gamang, tidak bahagia, dan sendirian.

Comments

vendy said…
dan gw ga ngeliat ini di blitz megaplex jakarta . . . oh nasib . . .
stey said…
yang gw heran,hampir semua penulis wanita kita selalu menulis tentang kepahitan,apa karena kaum kita adalah kaum yang selalu akrab dengan paitnya hidup?
btw,3 hari untuk selamanya belum nonton,ini juga entah kapan bisa nonton..huhuhu
mynameisnia said…
@stey: bisa jadi kayak gitu..

Karena pada kenyataanya, (kebanyakan) perempuanlah korban kekerasan dan pelecehan seksual. Perempuan banyak yang diperkosa, sedangkan laki2? Laki2 diperkosa kok kayaknya aneh aja :D :D :D

Tapi film ini ada yang kurang: pemeran utamanya.

Dia kurang bisa mengeksplor kompleksitas si tokohnya. Selain itu, kurang juga ditampilkan dinamika psikologis anak yang dibawah bayang2 otoritas ibu, tiba2 tumbuh sebagai orang yang bebas dan labil.

Herman.

Popular Posts