Skip to main content

Perempuan Punya Cerita

Ternyata saya lebih suka nonton film seperti ini dibandingkan The Golden Compass (pada saat itu dilematis mau nonton film ini atau The Golden Compass, sampai sms orang segala buat minta pendapat) karena ingin mendapatkan sesuatu yang lain. Apalagi ini buatan dalam negeri.
Film ini terdiri dari empat cerita yang berbeda namun memiliki tema yang sama: perempuan sebagai objek seks.
Cerita pertama mengenai seorang bidan yang bernama Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka) yang melindungi seorang perempuan gila (Rachel Maryam) yang diperkosa oleh pemuda sekitar. Jujur aja, nonton film ini bawaannya keseeeeelll dan sebeeelll banget! Bukan karena jelek, tapi karena jalan cerita yang menunjukkan kalau laki-laki menjadikan wanita sebagai objek seks dan wanita dipandang rendah. Saya pikir, mungkin orang-orang di kota boleh protes akan ketidakadilan. Tapi orang-orang yang ada di pedalaman dengan norma yang masih kental?
Cerita kedua mengenai seorang wartawan yang meliput kehidupan seks remaja SMA di Yogyakarta. Jay (Fauzi Baadilah) menggunakan seorang remaja SMA yang ditemuinya di warnet yang bernama Safina (Kirana Larasati). Sayang, banyak disensor! Maksud saya sih bukan karena pengen lihat adegan mesumnya, cuman film terlalu banyak dipotong cukup menganggu. Menyebalkan! Kalau diproduksi hanya untuk dipotong sih mendingan ngga usah.
Cerita ketiga mengenai penjualan anak. Esih (Shanty) mempunyai anak yang bernama Maesaroh yang dibawa temannya, Cicih (Sarah Sechan), untuk dijual ke luar negeri. Aktingnya Shanty kalah total nih kalau dibandingkan dengan Sarah Sechan. Ceritanya kan pakai logat Sunda gitu, Sarah Sechan logatnya Sunda beneeer. Gokil! Setting cerita ini di Cibinong, di tempat kafe dangdut murahan. Saya pikir, no wonder deh traficking atau prostitusi bisa terjadi karena perempuan masih banyak yang gampang dibodohi atau memang benar-benar bodoh untuk mengejar materi semata.
Cerita keempat mengenai seorang istri yang tertular AIDS karena suaminya (Winky Wiryawan) yang menggunakan jarum suntik. Siapa yang bilang AIDS ngga akan menular walaupun pasangan sudah menikah? Kalau suami/istrinya suka jajan dan memakai jarum suntik sih sama aja.
Saya jadi ingat teorinya Sartre. Ia tidak menikah karena ia tidak mau dijadikan sebagai objek seks dan ia juga tidak mau menjadikan pasangannya sebagai objek seks. Objek pengobjek ini dipandangan sebagai hal yang kejam karena manusia dibekukan kebebasannya. Subjek adalah seseorang yang bebas secara absolute. Terkadang seseorang ingin orang lain bertindak sesuai dengan kemauannya, artinya ia memaksa si subjek untuk masuk ke dunianya dan dijadikan objek sesuka hatinya.
Kalau kata saya, pornografi, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan lainnya merupakan pengobjekan perempuan sebagai objek seks. Misalnya pada foto-foto di website porno, perempuan dipakaikan lingerie, memakai baju suster, membawa pecut dan borgol. Semuanya itu hanya untuk memenuhi fantasi laki-laki. Selain itu, kasus pelecehan Dewi Persik juga karena laki-laki merasa punya hak pada Dewi Persik sehingga ia mencolek dadanya. Mungkin banyak yang bilang, "Ya lagian si Dewi bajunya mini banget." Bukannya saya membela Dewi Persik, mungkin benar karena sebaiknya perempuan mencegah dengan berpakaian tertutup, tapi itu namanya blaming the victim. Sudah dicolek tapi masih harus dipermasalahkan karena pakaian. Sudah diperkosa tapi dituduh bahwa si perempuan juga menikmatinya. Sesuai dengan Simone de Beauvior, perempuan harus mempunyai kuasa atas tubuhnya. Baguslah kalau noni Dewi Persik itu memukul pas di muka.
Saya jadi inget Ayu Utami yang memutuskan untuk tidak menikah. Salah satu faktornya adalah berkuasanya laki-laki dalam perkawinan. Banyak essay-nya yang menyinggung budaya patriarki. Kalau kata saya, semakin bertambahnya pengetahuan seseorang maka semakin banyak berpikir sebelum melakukan tindakan. Ketidaktahuanmu adalah kebebasanmu. Maksud saya, seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan mengenai objek pengobjek, ia akan menikmati having sex-nya tanpa memikirkan apakah ia menjadi subjek atau objek. Seseorang yang tidak memiliki pengetahuan mengenai budaya patriarki, mereka menikmati perkawinan tanpa memikirkan apakah suami mengaturnya dan menunjukkan kekuasaan bahwa istri HARUS manut kepadanya.
Mereka lebih bebas.
Wah, review film tapi jadinya panjang begini. Banyak yang out of topic ya? Tapi dari dulu emang gatel sih pengen ngomongin apa yang ada dipikiran saya. Well, semua orang punya cara berpikir yang berbeda. Ada yang setuju, ada yang tidak.
Saya jadi ingat kata-kata dosen saya, "Kalau kamu sudah menikah dan having sex, kamu ngga akan pernah tahu mana objek dan mana subjek." Mungkin maksud dosen saya, sama seperti saran saya kalau kalian mau menonton film Perempuan Punya Cerita setelah membaca review ini: dinikmati sajalah.

Comments

vendy said…
bisa dibilang kalau film ini juga merupakan saduran "playing the victim" toh ?
macangadungan said…
ah, setuju sekali nia...*soal dewi perssik itu. aku kesal melihat komentar2 atau blog yg mengatakan bahwa salah dewi sendiri makanya dy dicolek.
makanya...jadi cewek itu banyak bgt resikonya.

senang
ttp kritis ya!
stey said…
tadinya review film, jd bicara ttg nikah dan tidak..haha..nia memilih nikah ato tidak?
Takdir said…
filmnya bagus..sayang tayangnya bentar..
dian said…
Wah, belum bisa komentar soal film-nya karena baru mau nonton siang nanti.
Tapi soal colek mencolek, Sartre-Simone, setuju.. Jangan mau jadi obyek, tapi jangan juga menjadikan orang lain sebagai obyek.
Salam kenal

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…