Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2008

Tampak

Pagi ini, pikiran saya sudah disibukkan dengan mengartikan kata 'tampak'. Semua ini bermula dari kamar mandi. Sambil menunggu sampo meresap ke pori-pori, saya iseng membaca semua label yang tertera di belakang sampo dan sabun. Kebanyakan isinya berupa sugesti untuk para konsumen agar membeli.
Pakailah setiap hari agar rambut Anda tampak sehat, indah, dan berkilau! Bilas dengan bersih agar Anda tampak bercahaya di setiap kesempatan! Perhatikan kata tampak, kesannya efek sampo tidak benar-benar membuat rambut sehat, indah, dan berkilau dari dalam. Melainkan hanya membuat ilusi 'agar terlihat' sehat, indah, dan berkilau.
Bagi saya (karena ini tidak mungkin ada di buku Bahasa Indonesia), kata 'tampak' itu mengandung dua arti:
1. Tampak dalam artian benar-benar nyata, alias benar-benar bisa dilihat oleh indera mata.
2. Tampak dalam artian tidak benar-benar nyata. 'Tampak' menyerupai 'sepertinya' yang berupa asumsi saja.
Misalnya ada kalimat begini: Tampakny…

Even Shakespeare made a mistake!

Kesalahan terbesar Shakespeare adalah pernyataannya tentang apalah arti sebuah nama. Mungkin pada zamannya, nama tidak berarti. Tapi sekarang zaman sudah berubah, dan orang-orang berlomba memberi arti pada sebuah nama.
Kelahiran bayi zaman sekarang yang minimal mempunyai tiga kata yang panjang dengan menggunakan bahasa Sansekerta, bahasa Arab, bahasa Jawa kuno, dan lainnya. Sampai ada buku dari arti sebuah nama untuk bayi. Malah, percaya tidak percaya, ada bayi yang sakit-sakitan dan diyakini karena keberatan nama. Setelah namanya diganti, sakit bayi pun hilang. Kadang orang tua nggak mikir kalau anaknya ujian atau SPMB. Bisa-bisa dia kelamaan nulis nama!
Saya dan teman saya punya pengalaman yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama dari serapan bahasa asing. Tapi ini berhubungan dengan kesalahan Shakespeare bahwa nama sangat krusial dan berarti.
1. Beberapa bulan yang lalu, saya dikenalkan sama cowok. Kesan pertama sih baik, ganteng, murah senyum, bersahaja, berwibawa, gatot ko…

Novel dan Film

Hai, apa kabar semua?
Udah lama nggak ketemu karena saya udah lama nggak update blog. Kemarin-kemarin ini lagi sibuk ikutan proyek dosen sama pindah rumah. Jadinya, selain jarang ke warnet, di rumah yang baru belum ada internetnya deh.
Satu minggu yang lalu saya kedatangan saudara saya dari Jakarta. Biasanya kalau ketemu, kita sharing novel atau film apa yang bagus. Dia nanya gini,
"Nia, udah baca Ayat-Ayat Cinta belum?"
saya: "Wah. Belum. Suka rada males kalau baca novel yang terlalu digemari."
dia: "Lho? Kenapa?"
saya: "Gw lebih suka novel yang memiliki daya jual mahal dikit."
dia: "Lo mending baca deh. Itu novel ... wah ... pokoknya ..."
saya: "Apaan?"
dia: "Wah ... nggak bisa diungkapkan oleh kata-kata dehh! Lo baca aja sendiri. Ntar sama deh, ngga bisa diungkapkan dengan kata-kata."
Saya tahu buku dari awal kuliah karena teman-teman saya hampir semuanya membaca buku itu. Tapi saya nggak tertarik baca buku itu karena buku…

Bahasa Inggris oh Bahasa Inggris

Tiba-tiba saya teringat ketika saya SMP. Saya punya dua orang sahabat, mereka jago sekali bahasa Inggris. Walaupun nggak kerasa secara langsung, tapi mereka - istilahnya - meng-under-estimate-kan saya. Nilai bahasa Inggris mereka selalu bagus dan mereka selalu menertawakan saya kalau saya salah ngomong. Ya saya sih cuek aja, wong saya memang nggak bisa.
Ketika temen-temen SMP saya mengidolakan guru bahasa Inggrisnya, ketika temen-temen SMP saya sudah jago conversation sama bule pas study tour ke Jogja, saya sibuk dengan dunia sendiri karena saya punya misi yang teramat besar: menerjemahkan lagu Cicak Cicak di Dinding ke dalam bahasa Inggris!
Hasilnya begini (jangan mengerutkan dahi karena salah ya, maklum ini buatan anak SMP):
(Cicak-cicak di dinding) Lizard lizard on the wall
(Diam-diam merayap) Silent silent it's crawling
(Datang seekor nyamuk) Then come a mosquito
(Hap! Lalu ditangkap!) Hap! And then to a catch!
Untungnya 'diam-diam merayap' tidak diubah menjadi 'crawling …