Novel dan Film

Hai, apa kabar semua?
Udah lama nggak ketemu karena saya udah lama nggak update blog. Kemarin-kemarin ini lagi sibuk ikutan proyek dosen sama pindah rumah. Jadinya, selain jarang ke warnet, di rumah yang baru belum ada internetnya deh.
Satu minggu yang lalu saya kedatangan saudara saya dari Jakarta. Biasanya kalau ketemu, kita sharing novel atau film apa yang bagus. Dia nanya gini,
"Nia, udah baca Ayat-Ayat Cinta belum?"
saya: "Wah. Belum. Suka rada males kalau baca novel yang terlalu digemari."
dia: "Lho? Kenapa?"
saya: "Gw lebih suka novel yang memiliki daya jual mahal dikit."
dia: "Lo mending baca deh. Itu novel ... wah ... pokoknya ..."
saya: "Apaan?"
dia: "Wah ... nggak bisa diungkapkan oleh kata-kata dehh! Lo baca aja sendiri. Ntar sama deh, ngga bisa diungkapkan dengan kata-kata."
Saya tahu buku dari awal kuliah karena teman-teman saya hampir semuanya membaca buku itu. Tapi saya nggak tertarik baca buku itu karena buku itu sudah terlalu banyak dibaca dan digemari. Akhirnya saya baca Ayat-Ayat Cinta. Dan ternyata kesannya tidak seperti yang saya harapkan.
Saya nulis di forum tentang review buku ini.
1. Saya kurang suka karena hasil editan yang jelek (ntah karena editornya pemula atau kurang teliti). Misalnya setelah tanda titik, ia tidak menggunakan spasi. Dan ini kesalahan ini banyak sekali. Terus penggunaan tidak sesuai seperti: (kata)....(kata). Titik-titik seharusnya ada 3, bukan dua atau empat. Dan seharusnya menjadi: (kata) ... (kata). Kata 'setelah' menjadi 'setekah'.
Kalau dengan alasan 'editor juga manusia', masih banyak karya yang di-edit oleh manusia tapi sama sekali tidak ada kecacatan. Ya, intinya edit-an jelek bikin kesel pembaca.
2. Isinya terlalu sempurna. Tokoh utama pria terlalu sempurna.
3. Menguatkan diskriminasi warna kulit hitam dan putih. Ini penulis menggambarkan wanita putih adalah wanita yang suci seperti bidadari. Dia menganalogikan dirinya yang hitam seperti lumpur dan kayaknya nisttaaaa banget buat dikawinin. Begini kutipannya, "Aku adalah lumpur hitam yang mendebu. Menempel di sendal dan sepatu. Hinggap di atas aspal, terguyur hujan, terpelanting, masuk comberan. Siapa sudi memandang atau mengulurkan tangan? Tanpa uluran tangan Tuhan, aku adalah lumpur hitam yang malang."
Selain itu, ia menggambarkan tokoh keturunan Sudan berkulit hitam yang sifatnya pemarah, suka menghina, dan lainnya.
Hargailah Nelson Mandela yang sudah berjuang untuk kulit hitam. Hehe.
4. Terlalu banyak nama kota sehingga sulit dibayangkan.
5. Terlalu banyak adegan menangis. Contohnya membaca surat tentang pemukulan, dia menangis. Baca surat cinta, dia menangis. Syaikh-nya baca surat, ikut nangis. Pingsan juga nangis. Walah. Kesan sedih hilang, yang ada malah cengeng.
Mungkin penulisnya ingin menciptakan suasana yang mengharukan. Tapi kalau kata saya, coba bikin suasana tangis tanpa menuliskan kata 'tangis', gambarkan dengan kata-kata dan dialog.
Contohnya saya nangis pas baca The Kite Runner karena gw terharu dengan deskripsi dan dialognya :D

Mengenai kesempurnaan, mungkin itu adalah gayanya sang penulis. Walaupun saking sempurnya, ketika ia bercanda dengan sang tokoh, ia akan membalas dengan ayat Al-Quran atau hadis. Kemudian novel ini di-film-kan oleh Hanung Bramantyo. Dia bilang dia mengubah karakternya yang tadinya sempurna menjadi tidak sempurna agar bisa dekat dengan realita sehingga penonton menjadi enjoy nontonnya.
Boleh ya kita mengubah karakter novel? Buat apa dong kita susah-susah membangun suatu karakter hingga terkesan hidup jika ujung-ujungnya diubah juga?
Saya pikir sih nggak masalah kalau tokohnya sempurna karena dipastikan yang menonton film itu adalah yang membaca dan mereka sudah tahu apa yang akan ditontonnya. Kalau mereka bisa enjoy dengan bukunya, kenapa tidak dengan filmnya?
Hanung bilang kalau media film dan buku itu berbeda. Dalam buku, kita bisa menceritakan sesuatu dengan detail. Sedangkan di film, untuk satu tokoh saja dengan segala detailnya, bisa dijadikan satu film. Misalnya kalau Harry Potter sesuai dengan bukunya, bisa-bisa 12 jam tuh. Waaah!
Saya sendiri rada males nonton film adaptasi dari novel, apalagi semenjak nonton The Da Vinci Code. Wah, kayaknya citra novel dan fantasi yang saya bangun, runtuh semua! :D
Have a nice daaay!

Comments

stey said…
Wedew..gw punya buku itu, dari kapan tau tapi belum pernah sempet baca..dan kok ga tertarik nonton filmnya juga yah?
putu said…
sama kayak saya ... bahkan ngga senang baca atau nonton filmya.
Lalu senangnya apa?
nonton kite runner kok sy malah ingin maen layangan lagi coba adegan ngejar layangan atau maen layangannya lebih banyak
mynameisnia said…
yah.. semua orang kan ngga harus suka sama buku ini. Hihihih.
Tedi said…
gue baca, gue nonton.. :p

yg jelas filmnya kalo gk dibilang diangkat dari buku itu bakal bagus, tapi karena dibilang diangkat dari novelnya, jadi mengecewakan..

http://www.tedirachmadi.web.id/2008/02/26/ayat-ayat-cinta-antara-novel-dan-film/


btw, nia.. itu link ke tedirachmadi.com ganti dong jadi tedirachmadi.web.id , domain yg itu dah kelepas T_T

Popular Posts