Ketika HIV/AIDS Bukan Sekedar Masalah Kesehatan

Semula HIV/AIDS berasal dari Afrika. Enggak ada yang menyangka penyakit 'bule' itu bisa masuk ke Indonesia. Kasus HIV/AIDS pertama ditemukan di Bali. No wonder, karena di Bali tempatnya orang bule bolak balik. Parahnya, di Indonesia semakin lama penderita HIV/AIDS semakin banyak. Bisa disebabkan karena narkoba, hubungan seks, bayi yang ditularkan dari ibunya, atau penggunaan jarum di tempat kesehatan yang tidak steril. Masalah berapa banyaknya penderita, silahkan browsing sendiri di Google. Gw yakin media-media online akan menyediakan angka yang fantastis mengenai berapa banyak penderita HIV/AIDS sekarang ini.
Ok. To the point.
Temen gw menderita HIV selama empat tahun. Sekarang ia dalam stadium dua, yaitu asimptomatik (tanpa gejala). Menurut teori, seharusnya pada stadium ini, dia nggak menunjukkan gejala apapun. Tapi terkadang dia demam dan sering terbatuk. Jangka waktu dari HIV ke AIDS bisa berkisar 5-10 tahun, tergantung gaya hidup si penderita. Salahnya temen gw, dari semenjak awal ketika dia tau dengan statusnya, dia kekeuh pake jarum suntik. Dia bilang bahwa dia lebih takut sakaw dibandingkan HIV. Baru kali ini dia tobat untuk masuk ke panti rehabilitasi dan baru kali ini dia menjaga kesehatannya.
Setiap gw mendengar tentang HIV/AIDS, hati gw miris. Karena selama ini gw hanya tau kalau penyakit ini hanya diidap orang lain, tapi sekarang malah gw berhadapan langsung orang yang HIV+. Bayangin orang yang dekat dengan kalian menderita HIV/AIDS. Bayangin gimana dia harus ikut terapi ARV (antiretroviral) dan minum obat dua belas jam sekali seumur hidupnya. Sekali lagi, seumur hidupnya.
Lalu apa iya ARV bisa benar-benar menyembuhkan HIV/AIDS? Apa hanya untuk memperpanjang umur aja? Kadang gw memikirkan kematian. Gw yakin, semua orang pasti mati. Gw yang sehat pun pasti mati. Bedanya, gw nggak tau kapan matinya. Temen gw bilang, yang dia takutkan adalah mati dalam penderitaan. Kasian banget ngeliat orang yang udah masuk stadium AIDS yang udah kurus-kurus, batuk kronis, demam, dan diare gitu. Gw yakin dia takut, tapi nggak setakut yang dulu. Dia bilang, "Nia, gw merasa gw dikasih lampu kuning sama Tuhan. Mungkin kalo nggak gini, gw gak mungkin ikut rehab. Somehow... gw lebih beruntung. Gw jadi lebih aware sama kesehatan dan diri gw. Tapi gw masih berharap, akankah ada obat yang bener-bener bisa nyembuhin ini virus?"
Gw sedih dengernya. Disaat sakit, ia berharap datangnya obat yang nggak tau kapan ditemuinnya. Nggak tau kapan...
Gw sangat bersyukur bahwa keluarga dan beberapa temennya mendukungnya. Karena nggak sedikit orang yang diusir oleh keluarga setelah tahu HIV+. Gw yakin, inilah yang menjadi kekuatannya untuk bertahan. Mungkin keluarga dan temen-temennya mendukung, tapi masyarakat?
Kadang masyarakat berpikir bahwa HIV/AIDS ditularkan melalui jabat tangan, keringat, batuk, dan air mata. Jujur ya, selama gw baca informasi tentang HIV/AIDS, nggak ada tuh yang bilang HIV/AIDS bisa ditularkan melalui hal-hal itu. HIV/AIDS hanya ditularkan melalui darah, hubungan seksual, ibu pada bayinya, dan jarum suntik secara bergantian.
Maksud gw nulis ini di blog, dengan amat sangat, bagi Anda yang pernah tahu siapa-siapa orang yang HIV/AIDS, tolong jangan dikucilkan. Masa iya yang sudah sakit secara fisik dan psikologis, masih harus menerima beban stigma dan diskriminasi dari kita yang sehat? Sombong amat kita sebagai orang yang sehat? Mereka butuh dukungan. Bayangkan yang sakit itu Anda. Pasti Anda ingin didukung, dicintai, diangkat agar tidak merasa terkucil, dan Anda ingin berdaya. Begitu juga dengan mereka.
Gw memang bukan orang kesehatan dan tidak sekolah di kedokteran. Tapi gw ingin sekali mengajak para pembaca untuk tidak mendiskriminasi penderita. Sekali lagi, HIV/AIDS tidak menular melalui jabat tangan, keringat, batuk, dan air mata.
Gw hanya merasa sangat sedih...

Comments

kensinbattosai1 said…
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/pengetahuan_umum/ketika_hiv_aids_bukan_sekedar_masalah_kesehatan/
vendy said…
gue sih ga bisa ngomong banyak, berhubung gw blom punya temen yang kena HIV aids (dan semoga, ga kejadian).

tapiiiiii, kalau dianalogikan, bukannya mirip dengan orang yang dikucilkan karena kecacatan fisik, kurang gaul, miskin, perbedaan status sosial, dll-dsb

serupa tapi tak sama, tapi orang adalah produk dari lingkungannya toh?
mynameisnia said…
gimana.. gimana.. tolong dijelasin lagi ven. gw rada gak ngeh.. :D
Dion Dan Dunia said…
Hidup cuma sekali. jika kita belum terjerumus, baiknya emang menjauhkan diri.

tapi kalau udah jadi korban, apalagi yang udah kena vonis 'mati', saatnya mengoptimalkan hidup. minimal dengan mengisinya dengan hal-hal yang membuat kita bahagia, maksimalnya... ya dengan mencoba agar mencegah orang lain untuk melakukan kesalahan seperti kita.

salam simpati untuk temanmu.
Anonymous said…
salam, lama ga membaca tulisan yang renyah dari bandung.
salam dari jogja
moefti
vendy said…
gw cmn dikasih pelajaran dari lingkungan gw seperti ini : "mereka yang harus dikucilkan adalah mereka yang tidak normal".

istilah normal itu sendiri hanya merunut pada kesehatan fisik dan mental sebagian besar orang di lingkungan itu sendiri.

jadinya, mereka yang tidak normal - dimana istilah itu merujuk pada mereka yang cacat fisik, mental, atau bahkan kena hepatitis, kusta, hingga AIDS - akan dipermasalahkan hingga ke akar-akarnya.

"People are product of their environment"
Anonymous said…
hmmm...kasihan, tetapi gw gak akan bilang, 'if i were you...bla, bla, bla"

cara yang paling baik untuk memberi bantuan ke dia adalah dengan membuat dia lupa bahwasanya dia itu AIDS, jangan berikan perlakuan spesial (dikucilkan, dikata-katain), kecuali kalau dia berdarah ya monggo panik :P..

treat him like a normal person...halah sok bijak...

@vendy : definisi normal yg menurut gw terlalu general, bahkan yang sehat secara fisik dan berpikiran waras kalau bertindak tidak sesuai jaman maka akan dikucilkan juga...

contoh; seorang JB yang suka protes di kantornya..ehehyhehe
Anonymous said…
wow..siibu mendalami sekarang mah...
modal yang sangat cukup buat skripsinyah...
hehehe
smangat!!!!!
-EXTRAORDINAY-...si gw lupa password...hahahaha
stey said…
pengenalan gw sama AIDS emg g banyak, dan yes gw belum pernah [GOD forbid deh,jgn sampe-red] punya orang deket yg positive HIV, though i do learn that they are just people like us, that we don't have to afraid of..hemm btw pindah wordpress lah jeng..gw susah komen..huhu..
mynameisnia said…
@vendy:

Bener kata anonymous atas gw. Normal dan tidak normal itu garisnya tipis sekali. Misalnya: Gw yang normal, mungkin akan tidak normal jika gw masuk ke kalangan anak2 mesjid di kampus. Tapi, ya, untuk kasus HIV ini, jelas banget perbedaan normal dan tidak normalnya.

Dan ya, manusia adalah produk dari lingkungan. Tapi gak semuanya mungkin, karena dia punya sifat2 bawaan yang diturunkan. Hehehe.

@anonymous 2nd:
situ JB?

@stey:
ah.. malas. hehehehe.

Heheh, thanks for y`all comments!
yuki said…
nice one nia. kasihan juga temennya yah, mudah2an dia gak turut dikucilkan nantinya. soal harapan hidup dia, yah tinggal bergantung sama yang Maha Kuasa saja. gw pribadi sih gak masalah punya temen seperti itu sepanjang dia menghentikan aktivitas yang membuat kondisinya lebih parah lago. mudah2an bisa jadi pelajaran bagi sekitar dia agar lebih bijaksana dalam melakukan sesuatu.
mynameisnia said…
@yuki: thanks, win. Sudah HIV tp msh nyandu ya susah. @Dion: sebenernya gw gak setuju dgn kata 'vonis mati' karena bagi gw HiV hanya salah satu cara dr ribuan cara mati. Mgkn manusia pd dasarnya ketika dilahirkan, tanpa hrs kena HIV pun, sudah divonis mati.
michael said…
waktu gue baca tulisan loe.. gw baru 30 menit yang lalu salaman sama sama penderita hiv.
sempet ketar ketir sih. gw jg ga nyangka tuh anak ( anaknya boss gue) kena hiv. anaknya sih ga bilang, yang gw tau dia abis pulang dari rehab karna narkoba. dia kunjungi gue di kantor we shake hand, karna da setahun ga ketemu. sampe pada satu pembicaraan dia minta tolong ke gue dan temen gue untuk cariin obat efavirenz dan satu obat lagi yang dia harus minum tiap 12 jam.
gue sedikit binun kenapa dia minum obat itu dan gue googling dan WAW... ternyata yang minum tu obat adalah penderita hiv.
tapi gue sedikit lega dari penjelasa loe kalo salaman ga bakal nularin hiv. hehehe ... fuihhh...
heheheh orang nya nongol lagi nih sekarang di depan gue .... lagi ngobrol sama temen gue yang disuruh sama boss gue untuk nyari obat itu...
oke deh nanti gue sambung lagi komennya. thankz anyway...
Nia Janiar said…
@Michael: Wah, baguslah, setidaknya tulisan gue bisa mengurangi kecemasan seseorang. Hehehe.

Kasih dukungan terus ke anaknya bos lo ya. Gue tunggu komen selanjutnya! :D
michael said…
hi... itz me, michael ...met taon baru dulu yua...

yah... kabar terbaru tentang anaknya si bos yang kena hiv. orang nya ngilang tuh , entah di mana. kayanya sih kumat lagi bandelnya. pada hal gw ma temen gw yang masih sodaraan sama dia selalu ndukung dia untuk memulai hidup nya yang lebih baik. tapi yaaa.. gitu deh adaknya buaanndel pisan. dari kecil da pake obat2an. mending kalo yang di pake obat merah atau abat panu doang.
pada hal tuh anak udah dikasih pabrik sama si bos untuk dia kelola. tapi dia ngilang gitu ajah. biasanya sih kalo da ngilang gitu dia balik lagi ke temen temennya yang dulu. ngga tau deh mo nasehatinnya gimana lagi. dah ngga mempan.
Nia Janiar said…
Oh, rupanya ia yang memilih begitu ya. Ya sebagai orang disekitarnya agak susah berbuat apa2 ya, karena bagaimanapun kesadaran datang dari diri, bukan dari orang lain.

Btw, selamat tahun baru juga.

Popular Posts