Red Dragon

Beberapa hari yang lalu, gw nonton film Red Dragon. Kalau dulu Mr. Hannibal Lecter yang menjadi tokoh sentral, sekarang pembunuh yang diberi nama Tooth Fairy ini yang menjadi tokoh sentral.
Setelah nonton berkali-kali, gw baru ngeh kalau ada sesuatu yang menarik di film ini. Sangat amat menarik. Thank you for waking me up, Trans TV.
Di cerita kali ini, Tooth Fairy punya masa kecil yang selalu disiksa sehingga ia tumbuh jadi manusia tanpa perasaan. Cara pembunuhannya yang semula 'sedikit' ceroboh, berubah menjadi sistematis, daan lainnya. Hingga kepercayaannya sedikit tergoyahkan dengan kehadiran sebuah perempuan buta bernama Reba, dimana ia merasa perempuan itu manis dan baik. Intinya, dia cinta.
Lalu apa yang menarik? Apakah masa lalu atau perilaku sadismenya? Tidak. Yang menarik adalah fenomena kecil yang hadir di bagian akhir cerita yaitu ketika ia mulai bertemu dengan Reba.
Mari kita membahas cinta melalui bahasa filsafat, bukan melayu.
Menarik sekali. Orang yang enggak waras - yang berhalusinasi untuk mengagumi sesuatu dan merasa sesuatu tersebut yang berbisik untuk menyuruhnya membunuh - masih punya kewarasan untuk jatuh cinta sama orang lain dan masih punya nafsu untuk making love dengan Reba. Berarti, cinta memegang peranan penting disini. Jangan dibahas dengan teorinya Sartre, seperti yang sudah pernah gw tulis sebelumnya, karena akan menimbulkan kesan sinis dan pesimistis. Mari kita lihat sudut pandang Viktor Frankl mengenai cinta.
Menurut Frankl, cinta bukan sebuah fenomena tempelan (epiphenomenon). Kadang orang beranggapan bahwa cinta sama dengan seks atau cinta mengikuti seks. Padahal cinta juga sebuah fenomena seperti seks. Cinta itu bukan efek samping dari seks, malah seks merupakan cara mengungkapkan sebuah kebersamaan penting dari sesuatu yang dinamakan cinta. Cinta hanyalah satu-satunya cara untuk memahami eksistensi seseorang secara mendalam.
Kalau mencintai adalah sebuah perjuangan, maka dicintai adalah sebuah keberanian. Artinya ia siap membuka makna dan arti dirinya untuk diketahui orang lain, dan sebaliknya. Cinta adalah kesadaran kita akan keunikan yang dimiliki orang lain sebagai seorang individu dan secara intuitif memahami potensinya sebagai seorang manusia. Sama seperti Reba, ia menemukan keunikan Tooth Fairy sebagai sebuah misteri. Cinta, kata Frankl, adalah tujuan terakhir dan tertinggi yang dapat dicita-citakan manusia.
Gw pikir, kalau kita lihat secara kasat mata, kayaknya Frankl kok terlalu berlebihan, naif, dan menjadikan cinta seolah-olah berhala. Mungkin maksudnya tidak seperti itu. Bayangkan kalau Anda hidup di usia dewasa akhir. Sudah tua dan sendirian, sudah tidak ada yang bisa Anda lakukan. Pada saat itu, hanya cinta yang Anda miliki. Beruntung kalau masih ada pasangan atau keluarga yang bisa menemani hari tua, nah... kalau tidak? Pada akhirnya, ketika semua terpenuhi, tujuan hidup Anda hanya ingin mencintai dan dicintai.
Seperti koin yang mempunyai dua sisi, cinta bisa menjadi sebuah penyemangat utama agar seseorang bisa bangkit dari kesusahan dan penderitaan. Tetapi cinta juga bisa menjadi penyebab kejatuhan seseorang itu sendiri.

(Tulisan ini seolah-olah menguatkan postingan sebelumnya, ya? Janji deh, besok-besok nggak nulis tema ini lagi. Hihi.)

Comments

Anonymous said…
gw c lupa2 inget pelemnya..pernah nonton apa 1/2 molor nntonnya :D
"Cinta itu bukan efek samping dari seks, malah seks merupakan cara mengungkapkan sebuah kebersamaan penting dari sesuatu yang dinamakan cinta. Cinta hanyalah satu-satunya cara untuk memahami eksistensi seseorang secara mendalam."---> demikian kah bu? nampak kaka lu yg ngomong :p. semoga gw gk mules2 lg yak..heheh

tp emang kalo mbahas cinta dlm pelem(walo secara filsafat bkn melayu), bosenin jg bu..kyk liat tokoh lana lang yg berkutat di tjinta2an
gw lebih suka ngamatin perilaku sadismenya, keunikannya..
mung sedoyo sampun apik nyaris perfect ;)

-aprill-
Raffaell said…
masih tergila gila sama hannibal akumah
vendy said…
cinta punya dua sisi yah. jadi inget Kahlil Gibran.

never been there, never know what it's like :p
Erick S. said…
Hmm, jadi dilema atuh ya? Tapi kalo mau cari aman, menyepi di gunung, bertapa seumur hidup, saya pikir saya mending milih mencintai.
Extraordinary said…
settingan Red Dragon, adalah sebelum Silence of the Lambs...
sebelum Dr. Lecter ditangkap, sebelum ada detektif Starling. fimnya keren kan??aku suka banget...yang masih bikin aku penasaran adalah hal yang jadi pemicu si hannibal jadi psikopat gitu. sadar gak siy kalo dia sebenernya "membunuh" melalui pemikiran dan perkataannya. dia jenius banget dalam membaca dalemnya hati orang, dan mengutarakannya.sehingga orang itu langsung kikuk begitu perasaan terdalam mereka ditebak sama si hannibal. Anthony Hopkins luar biasa banget. hehehe
btw, ngomong soal cinta...weleh..weleh...
apa siy yang gak bisa dilakuin karena cinta? Taj Mahal berdiri karena sang Raja pengen nunjukkin perasaan cintanya sama si permaisurinya. sejahat2nya manusia, kalo udah kenal cinta mah pasti luluh. hitler itu kejam, tapi dia cinta setengah mati sama Eva Braun..
atau kasus terbaru, saat diriku rela bersusah-susah "belajar" baca komik karena si cinta-ku seneng banget baca komik (padahal otak ini tidak ter-set untuk melihat cerita bergambar)pengorbanan yang sungguh sia-sia ternyata..hehehe..curhat colongan...
tapi, apapun arti cinta itu, dia ada karena keharusannya untuk mengimbangi benci. dia juga ada dengan sendirinya. he....

n.b: Ralph Fiennes juga cocok banget jadi tooth fairy-nya..hehehe

oh iya, aku masih bingung, si hannibal ituh sebenernya cinta gak sih sama Starling??kok dia baek banget ma cewe itu...(mungkin salah satu contoh???hahahaha)
mynameisnia said…
@buat yang ingin dibahas mengenai kanibal:

adduuhh, gw mah nyerah deh. kanibal bikin gw eneeegggg!!! *oeek*

Popular Posts