Skip to main content

Warna langit masih biru, Kawan.

Hore! Mulai menulis lagi!
Kemarin-kemarin banyak ide untuk nulis, tapi hanya mengendap di pikiran. Gw sedang dalam fase malas-malasnya untuk dituangkan ke tulisan. Tapi kalau dibiarkan, ide-ide tersebut akan menghilang. Daripada mubadzir, memang harus ada unsur paksaan. Hmf.
Ada sedikit pengalaman menarik hasil dari observasi tanpa rencana tadi siang. Waktu gw mau ke kampus naik angkutan kota, ada orang tuna netra menghampiri angkot yang sedang menurunkan penumpang. Supir bertanya, "Ledeng, Mas?" lalu ia menjawab, "Iya."
Tanpa gw sadari, gw mendapatkan kesan pertama yang menarik ketika dia bertanya. Karena dia langsung tahu dimana angkot berhenti dan dia langsung berdiri di depan pintu angkot. Keren.
Kemudian ia masuk ke dalam angkot. Ia duduk di kursi paling luar padahal angkot tidak terlalu penuh. Supir bilang, "Ke kanan, Mas!" karena ia bingung, gw mengarahkan agar ia duduk di samping gw karena tempat gw sebelumnya itu dekat dengan tempatnya semula dan luas.
Selama perjalanan ke kampus, gw merhatiin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mungkin umurnya diatas 25 tahun, kulitnya sawo matang, dan teksturnya kasar. Tapi ia tidak berjenggot dan berkumis. Gw memikirkan bagaimana dia mencukurnya. Mungkin bukan masalah yang besar karena terkadang perempuan yang bisa melihat pun bisa membersihkan mukanya tanpa melihat kaca. Ia memakai kemeja, celana kain, sepatu suede yang modelnya ketinggalan zaman. Dia memakai tas laptop yang kumal, yang gw yakin isinya bukan laptop. Ya memang, orang tuna netra tidak mempunyai alasan untuk berdandan mewah dan membawa barang mahal karena lebih mengundang para pencuri. Rambutnya sedikit panjang dan tidak teurus. Siapa yang dulu memotong rambutnya? Apakah ia protes ketika model rambutnya tidak sesuai dengan bentuk mukanya? Apakah ia tahu bentuk rambutnya?
Orang tuna netra bukanlah hal yang aneh bagi gw karena kampus gw adalah satu-satunya kampus yang memberikan pendidikan khusus bagi tuna netra. Jadi, di kampus gw banyak orang tuna netra. Mereka jalan menggunakan tongkat yang digerakkan ke kiri dan kanan. Mungkin mereka sambil menghitung langkah kaki dari gerbang sampai gedung. Orientasi pikiran mengenai langkah, hancur ketika kampus sedang direnovasi. Yang semula mereka punya mind map dari gerbang ke gedung, hancur ketika jalan yang seharusnya mereka lewati dihalangi oleh reruntuhan gedung. Mungkin ke sekian kalinya gw bantu mereka mencarikan gedung. Gw tanya gimana caranya mereka menemukan gedung, mereka bilang mereka menghitung langkahnya.
Orang tuna netra tidak bodoh. Indera perasa dan pendengarnya lebih jeli dari orang yang bisa melihat. Walaupun tidak bersuara, ia sudah bisa mengenali orang dengan cara menyentuhnya. Mereka tahu dari tekstur kulit orang lain, suhu tubuh, cara menggenggam, cara memegang, cara melangkah, dan lainnya. Mungkin ini juga sama seperti orang yang gw temui di angkot tadi siang, ia tahu dimana letak pintu dan dimana angkutan berhenti.
Balik lagi ke orang ini, gw lihat matanya yang terus tertutup. Isinya kopong, ada apa di dalamnya? Lalu gw mencoba membandingkan dengan mata orang yang tertidur yang ada di depan gw. Ada sebuah benjolan kecil yang menandakan ada mata di dalamnya.
Hiruk pikuk jalan, panas, suara klakson, supir yang berteriak kasar, ia tetap hening di dunia hitamnya. Ada apa disana? Apa isinya? Apa yang ia bayangkan? Apakah ia tidak merasa bosan dengan hitam? Apa ia membayangkan seperti apa warna langit? Apakah langit hari ini cerah atau mendung? Apakah langit masih biru? Lalu apakah itu biru?
Lalu gw mencoba menutup mata, berpura-pura buta. Banyak siluet merah, biru, dan putih, hasil dari pantulan cahaya benda-benda disekitar. Rasanya aneh dan mengerikan. Karena gw bergerak pada sesuatu di luar kontrol diri. Gw tidak bisa hidup di ruang abstrak yang hanya menduga-duga apa yang terjadi di luar sana. Beruntungnya kita yang punya mata.
Ia diam dan turun ketika sudah sampai tujuan. Ia menggerakkan tongkatnya ke kiri dan ke kanan, mungkin ia sedang menghitung langkahnya, seperti yang orang lain lakukan. Mencoba membayangkan jalan kampus yang berkelok. Bukan dalam merah dan putih, hijau atau biru, tetapi dalam hitam yang kelam.

Lihat tulisan Nia, sebagai kontributor, yang lainnya di: http://www.psigoblog.com/

Comments

Extraordinary said…
amazing, my friend....
gak salah dirimu jadi mahasiswa anex nya bu ifa...
benar2 mendalami...
tetep nulis yah...
walau skripsi menggempurmu dari berbagai arah dan harus jatuh bangun mengejar dosen dan OP...hahaha...
skripsi hanya bagian KECIL dari hidup yang menentukan langkah BESAR menuju masa depan....
cie....
SMANGAT!!!!!!
btw, Tuhan tidak pernah mengurangi milik hambaNya tanpa memberikan lebih untuk hal yang lain...tergantung seberapa dewasa orang2 tersebut mengambil arti atau hikmah dari apa yang Tuhan putuskan.
"Allah mencintaiku karena Dia memberi apa yang kuinginkan.
tapi, aku tahu Dia juga mencintaiku, ketika Dia tidak memberi apa yang Kuinginkan"
(kalo gak nyambung, ya disambung-sambungin ajah yah...)hehehe
stey said…
kita kadang baru bisa mensyukuri sesuatu yang kita punya jika kita membandingkannya dengan orang lain,kadang sesuatu yg kita punya kita anggap biasa saja such as our eyes. Sementara kita diberi kemudahan buat melihat segala yg indah ciptaan Tuhan, kadang kita salahgunakan untuk hal2 yg malah buat Dia berduka..
mynameisnia said…
@extraordinary: haduh.. ini on the way sedang menyelami dunia mana yang harus diselam oleh bu ifa, mengenai alam manusia.. ia dan pikirannya. huehehue.. ah serem ah. but thanks anyways! tiwi juga semangat ya!!

@stey: bener banget! mungkin selama ini kita terlalu melihat ke atas, yang lebih sempurna. jadinya gak bersyukur dan self-pity. yang normal aja bisa begitu, nggak kebayang mereka yang diberi ketidaksempurnaan. tapi Tuhan sungguh memberi kesabaran yang berlebih.

aduuuhh, jadi kayak blog siraman rohani. hihihi.
vendy said…
jadi kepikiran, seberapa jauh kita menilai diri sendiri lebih normal ketimbang mereka2 yang kekurangan ya...

nice article :D
mynameisnia said…
@vendy: thank you :D
primaningrum said…
salam hangat dari bunda,.. sila mampir di www.allaboutbalqiz.blogspot.com

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…