Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2008

Sekelumit Tentang Daging

Di luar halal dan haram, pernah makan selain daging ayam? Pernah makan daging yang tidak biasa selain kambing atau sapi?
Dulu gw pernah makan daging ular, itupun karena katanya untuk menyembuhkan asma. Entah benar atau tidak, memang dari gw kecil sampai sekarang, asma gw enggak pernah kambuh. Beruntung karena waktu itu gw masih kecil. Coba sekarang disuruh makan daging ular, mungkin gw bisa muntah. FYI, saudara gw pernah menyarankan makan empedu ular untuk menghilangkan jerawat. Gw bilang dia dulu saja. Tahunya, setelah dia makan empedu ular, jerawatnya enggak hilang-hilang. Untung deh gw enggak makan.
Anyways, kemarin ini gw diajak ke sebuah rumah makan bebek yang terkenal enaknya. Teman gw - seorang korban acara kuliner di televisi - pun dengan semangatnya mempromosikan enaknya bebek. Awalnya gw tidak tertarik, karena gw tidak suka bebek. Lama-lama gw penasaran. Teman gw meyakinkan, "Temen gw yang suka pilih-pilih makanan saja doyan makan ini bebek. Habisnya bebeknya kering bange…

Dilecehkan Itu Sakit!

Sebelumnya, tulisan ini gw post di website http://psigoblog.com, dan akan gw post disini karena gw pikir tulisan ini cukup penting untuk dibaca. FYI, website itu berisi kumpulan artikel psikologi mahasiswa UI (dan entah mengapa gw tiba-tiba bisa ikut nulis disana). Jadi, bagi Anda yang ingin mengetahui dari berbagai macam perspektif, silahkan berkunjung.
By the way, ini tulisannya.

Rumah saya lagi direnovasi. Otomatis banyak kuli bangunan yang berwara-wiri dan mondar-mandir kesana kemari. Di rumah saya, ada beberapa orang pegawai perempuan. Para kuli sering menggoda seperti batuk berlebihan (entah mengapa rasanya saya ingin menyumpahi agar dia TBC sekalian) atau mengeluarkan bunyi 'sit suit' atau 'tak tok tak tok', yang mana itu sangat menganggu sekali. Begitu juga saya. Saya pun tidak terlepas dari gairah gejolak muda para kuli dalam kicauan suit menyuit.
Bagi saya dan teman-teman perempuan saya, ini sangat menganggu sekali. Rasanya untuk bersimpati bahwa mereka terlalu …

Tentang Ending

Malam minggu kemarin, gw ngumpul sama teman-teman. Kita terlibat polemik antara sad ending dan happy ending. Walaupun topiknya berawal dari pertanyaan, "Elo lebih suka sad/happy ending?" ternyata menimbulkan perdebatan masalah prinsip, perasaan, filosofi, (bahkan bawa-bawa agama), dan lainnya.
Mari gw perkenalkan dua teman gw yang akan ada di sepanjang cerita. Yang pertama, Myra, pecinta dengan sad ending. Dan Dea, lebih menyukai happy ending.
Dea ini menganut aliran positivisme (entah benar atau tidak), itu sih kata teman-teman. Hehe. Dia mengeluarkan buku Salamatahari dan Dunia Adin (buku anak-anak) yang begitu positif. Myra pernah becanda kalau dia enggak tahan dengan dunia postifinya Dea. Hehe, dasar Myra.
Dan kemarin Dea bawa karyanya sambil bilang, "Ini karya bener-bener bukan karya gw banget. Ini gw bikin cerita yang kelam."
Jadi, dia buat cerita bahwa sempurna itu enggak harus sepasang. Tokoh memakai satu sepatu di kakinya karena dia berpikir untuk sempurna, y…

Ini perasaan gw saja, atau...

Gak tahu ya. Ini perasaan gw bahwasanya ada sebuah kesalahan atau hal ambigu yang sudah tidak dipermasalahkan karena diucapkan secara massal, atau ternyata memang bukan sebuah kesalahan (karena harus diucapkan seperti itu), gw enggak tahu.
Entahlah, ucapan seperti ini betul-betul menganggu, apalagi kalau diucapkan oleh orang yang berpendidikan. Hal-hal tersebut adalah:

1. "Yang di atas"
Ketika seseorang sedang membahas sisi spiritual/religi di dalam dirinya atau ia sedang mencoba berpasrah diri, seringkali ia berkata, "Terserah yang di atas."
Ini betul-betul ambigu, apa yang berada di atas? Awan? Burung? Langit? Langit-langit? Apa? Atau siapa?
Gw tahu bahwa mereka menunjuk suatu kekuatan yang melebihinya. Kenapa mereka tidak memilih berkata "terserah Tuhan" saja? Ini baru jelas. ia sedang membicarakan Tuhan yang itu. Tuhan yang abstrak. Tuhan yang pemimpin makhluk dunia. Tuhan yang menggerakan dunia fana. Lagipula, memangnya Tuhan hanya ada di atas? Tuhan ada …

Gw anak siapa?

Sangat jelas kalo gw sangat mirip bokap, tapi enggak satupun gw mirip nyokap. Nyokap gw berperawakan chinese-look-a-like, sedangkan gw jawa-medan paten. Kalau nyokap gw sering disangka Konghucu, maka gw Katolik fanatik. Intinya, kita ini dua titik bipolar yang tidak pernah sama. Hitam dan putih, rendah dan tinggi, kaya dan miskin - ya seperti itulah!
Teman-teman gw yang sering datang ke rumah, atau setidaknya pernah ketemu nyokap dalam satu kebetulan, mereka sering bertanya, "Hah, itu nyokap lo? Yakin? Ntar deh gw ajak temen-temen yang lain untuk ngumpulin uang buat modal tes DNA." Semula candaan itu sama sekali enggak ditanggapi serius, tapi lama kelamaan sifat nyokap yang selalu mementingkan orang lain daripada anaknya itu yang membuat gw ragu.
Nyokap gw selalu baik (sekali) dengan orang lain, dibandingkan anaknya sendiri. Nyokap gw sangat royal, tapi ke gw pelit nauzubillah. Seperti kemarin, alkisah saudara perempuan gw yang lagi berantem sama emaknya, kabur ke rumah gw dan…