Skip to main content

Ini perasaan gw saja, atau...

Gak tahu ya. Ini perasaan gw bahwasanya ada sebuah kesalahan atau hal ambigu yang sudah tidak dipermasalahkan karena diucapkan secara massal, atau ternyata memang bukan sebuah kesalahan (karena harus diucapkan seperti itu), gw enggak tahu.
Entahlah, ucapan seperti ini betul-betul menganggu, apalagi kalau diucapkan oleh orang yang berpendidikan. Hal-hal tersebut adalah:

1. "Yang di atas"
Ketika seseorang sedang membahas sisi spiritual/religi di dalam dirinya atau ia sedang mencoba berpasrah diri, seringkali ia berkata, "Terserah yang di atas."
Ini betul-betul ambigu, apa yang berada di atas? Awan? Burung? Langit? Langit-langit? Apa? Atau siapa?
Gw tahu bahwa mereka menunjuk suatu kekuatan yang melebihinya. Kenapa mereka tidak memilih berkata "terserah Tuhan" saja? Ini baru jelas. ia sedang membicarakan Tuhan yang itu. Tuhan yang abstrak. Tuhan yang pemimpin makhluk dunia. Tuhan yang menggerakan dunia fana. Lagipula, memangnya Tuhan hanya ada di atas? Tuhan ada dimana-mana: di kanan, kiri, bawah, depan, belakang, dan Tuhan ada di hati.
Apakah pengucapan kata 'di atas' adalah salah satu bentuk ketakutan atau penolakan akan adanya Tuhan? Atau mungkin ia merasa malu, merasa bertanggung jawab, atau merasa berdosa walaupun hanya untuk menyebutkan namanya?
2. "We-we-we"
Gw enggak tahu, apakah pengucapannya memang dari sananya begitu atau gimana. Ini yang paling gw sebal. Semua orang, bahkan mereka yang bekerja di kantoran, yang katanya para eksekutif, berpendidikan tinggi, sekolah jurusan IT, tenaga pengajar, dan lainnya - menggunakan kata 'we-we-we' dot friendster dot com.
Kesalahan terbesarnya adalah mencampuradukkan kata antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kalau mau, bisa diucapkan 'we-we-we titik friendster titik kom'. Kalau mau pakai bahasa Inggris, 'we-we-we' diucapkan dengan double-you double-you double-you atau triple-double-you. Mungkin Indonesia maunya bilang way-way-way ala Deutch kali ya.
Jadinya, 'triple-double-you' dot friendster dot com.
Tapi mungkin ini enggak salah, karena setiap negara berbeda cara pengucapannya. Menarik, silahkan lihat disini.

Iya, ini cuman perasaan gw kali ya.

Comments

Erick S. said…
Buat yang nomer 1, menurut gua memang yang nyebut merasa kurang layak dengan istilah Tuhan, jadi pake yang lebih friendly...
vendy said…
ceritanya, gw merasa tersindir dengan option nomor satu :p

imvho (in my very humble opinion), kenapa kita bisa2nya menamakan suatu kekuatan yang ada di luar pemahaman kita sendiri?

mungkin bagi A, itu berarti Tuhan. mungkin bagi B, itu berarti Allah SWT. mungkin bagi C, itu berarti Buddha. dst.

so, "Yang Di Atas", imvho lagi, adalah generalisasi :p
Avante said…
Wah ini sih pembahasan masalah sastra, tapi untuk masalah no.1 kenapa Tuhan selalu di-identikkan dengan kata "Yang Di Atas". Ini sama halnya dengan kata bijak "Jangan selalu melihat yang 'di atas' tetapi juga yang 'di bawah'" Dimana kata atas selalu identik dengan sesuatu yang melebihi dirinya sebagai manusia.

Hal ini berlaku sejak zaman Dewa-dewa dimana mereka digambarkan tinggal di tempat-tempat yang tinggi seperti Gunung (Olympus) atau bahkan langit (Nirwana).

Yang gw kasihan adalah imej buruk yag menimpa Dewa-dewa laut semacam Neptunus dan Empat Dewa Naga (dalam mitos Sun Go Kong) karena tinggalnya 'di bawah' jadi cenderung terlupakan...

Poor them :)
Extraordinary said…
ah, itu hanya perasaan dek nia sajah...
jadi begini ya, bu...
saya termasuk kumpulan massa yang "secara tidak sadar" sering menyebut kan kata2..Yang Di Atas..
kalo secara keilmuan siy, bisa jadi dikarenakan manusia sekarang ini telah terbentuk menjadi manusia yang bersifat "massa" atau serupa antara manusia yang satu dengan yang lainnya. atau karena sudah menjadi suatu ketidaksadaran kolektif (kalo gak slah dibahas Jung) yang saking seringnya dipakai, kita udah seceplosnya aja kalo ngomong. istilah umum lah...
atau mungkin dalam beberapa kasus masih ada yang "enggan" atau "kagok" menyebut Tuhan, Allah dan lainnya...gak tau napa...
trus yang ke dua, we-we-we...ah, itu hanya masalah pelafalan sajah. karena masyarakat blom sepenuhnya menerima kalo kita sok british...
banyak yang protes ketika aku menyebut : ei-vi-gi...alias AVG..."kenapa ei-vi-gi?a-ve-ge aja kaleeee...."
atau b-em-double u alias BMW, yah kebudayaan berbeda-beda..dari pada kedengeran lucu karena kurang pantas mengucapkan pelafalan asing, mending diketawain sekalian pake lafal indo walau....
btw, maaf kepanjangan...lagi penuh otaknya....hehehehe
smangat!!!
raffaell said…
Wah, aku ngga pernah tuh bilang wewewew.... url dong. ehehehe
mynameisnia said…
@erick:
kalo gw pribadi, gw merasa friendly kalau gw nyebut nama temen gw. Misalnya, "si Budi tuh." Daripada gw nyebut, "eh si itu tuh." Maksudnya kan, 'itu' dan 'yang di atas' kan ambigu. Hehe.
Tapi mungkin bisa dimaafkan karena ketika orang nyebut 'yang di atas', mereka udah tahu kalau itu tentang Tuhan.

@vendy: kesindir ya? hahaha. IMO, malah bagi gw yang me-generalisasi itu Tuhan. Buktinya di Pancasila kan disebutnya "ke-Tuhan-an Yang Maha Esa" itukan maksudnya bisa Allah, Alloh SWT, Buddha, dll dsb. Pancasila kan dibuat untuk semuanya, dan dia gak bilang, "Yang di atas yang Maha Esa" hueheuheu. Tapi ya beda2 kali ya. Hihihi..

@Adam: Neputunus gak terlupakan lho...

@extraordinary: tapi menyebut AVGnya, walaupun Indonesia, bagus. Artinya ei-vi-gi dan a-ve-ge digunakan satu2. Enggak ei-ve-ge. Wkwkwkwkw.. Ah kayaknya 'yang di atas' kalo disebut ketidaksadaran kolektif kebagusan deh. Bagusan hasil pembelajaran seseorang dari orang tuanya atau dari orang lain. Hehehe.

@raffa: bagus! hehehe. mohon disebarluaskan yak.
thanks y'all!
mynameisnia said…
dan satu lagi. hehe. entah benar atau tidak.

orang banyak ngomong CDMA menjadi: si-di-em-a

harusnya kan si-di-em-ei

wkwkwkw..
macangadungan said…
hmmm... buat yg nomer satu, emang gw akdang2 suka ngmg gtu. tp jarang. rasanya lebih sopan aja nyebut yg di Atas, drpd sekedar Tuhan.
klo wewewe... gw kadang bilangnya gtu, cuma gara2 lidah gw sering kesrimpet klo ngmg tripeldabelyu. hehehehe...
aVank said…
GRRRRRR
trus salah ya ngomong bgitu
ekspresi ngamok




:p

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…