Tentang Ending

Malam minggu kemarin, gw ngumpul sama teman-teman. Kita terlibat polemik antara sad ending dan happy ending. Walaupun topiknya berawal dari pertanyaan, "Elo lebih suka sad/happy ending?" ternyata menimbulkan perdebatan masalah prinsip, perasaan, filosofi, (bahkan bawa-bawa agama), dan lainnya.
Mari gw perkenalkan dua teman gw yang akan ada di sepanjang cerita. Yang pertama, Myra, pecinta dengan sad ending. Dan Dea, lebih menyukai happy ending.
Dea ini menganut aliran positivisme (entah benar atau tidak), itu sih kata teman-teman. Hehe. Dia mengeluarkan buku Salamatahari dan Dunia Adin (buku anak-anak) yang begitu positif. Myra pernah becanda kalau dia enggak tahan dengan dunia postifinya Dea. Hehe, dasar Myra.
Dan kemarin Dea bawa karyanya sambil bilang, "Ini karya bener-bener bukan karya gw banget. Ini gw bikin cerita yang kelam."
Jadi, dia buat cerita bahwa sempurna itu enggak harus sepasang. Tokoh memakai satu sepatu di kakinya karena dia berpikir untuk sempurna, ya tidak harus sepasang. Ini analogi dari ceritanya bahwa si tokoh punya ayah angkat yang gay. Sang ayah berperan sebagai ayah dan juga ibu. Karena norma masyarakat yang mengharuskan setiap orang lebih enak terlihat berpasangan, ia dipaksa menikah dengan seorang perempuan. Malah, bukannya menjadi lebih baik, si ayah itu menjadi tidak nyaman dengan dirinya, dan berimbas pada hubungan dia dan anaknya yang juga tidak nyaman.
Myra bilang kalau dia suka sama ceritanya dan sebaiknya dijadikan novel. Dea menyerah. Dea bilang, "Gw enggak akan tahan bikin cerita suram sebanyak halaman novel."
Dea beranggapan bahwa dari hal-hal bahagia, dia bisa banyak menarik hikmah. Dengan matahari yang menyentuh tangannya, dia bahagia. Dengan kupu-kupu yang berterbangan, dia bahagia.
Sedangkan karya-karya Myra sangat dekat dengan kematian, bunuh diri, dan lainnya. Gw ditanya kenapa gw suka sad ending. Gw bilang, "Ya hidup enggak selamanya happy ending. Kalau gw sih lebih senang melihat orang lain menderita. Haha. Gw sendiri ending yang happy itu kok kayaknya terlalu naif ya."
Teman-teman lainnya banyak yang enggak suka dengan pemikiran gw dan Myra, "Ok. Kalau hidup enggak selamanya bahagia, tapi hidup juga enggak selamanya yang suram-suram."
Dea tanya ke Myra, "Elo menghayati kebahagiaan itu gimana sih?"
Myra jawab, "Gw ya pernah mengalami bahagia. Tapi gw hanya melewatinya begitu saja. Kalau gw mengalami penderitaan, gw tahan perasaannya dan mencoba menghayatinya. Gw lebih banyak belajar dari penderitaan. Gini, gw punya cerita. Ada seorang pengemis tua dan orang kaya. Suatu saat orang kaya itu mengajaknya hidup bersama dan tinggal di apartemen yang mewah. Tapi lama kelamaan, pengemis itu minta pulang. Yang kaya itu tanya kenapa dia ingin pulang. Pengemis menjawab, 'Ketika saya tidur dipinggir jalan, saya terus bermimpi bahagia bahwa saya orang kaya. Tapi selama saya tinggal disini, saya terus bermimpi buruk kalau saya akan jatuh miskin dan kembali ke pinggir jalan.' Lalu pengemis itu pun kembali ke tempat asalnya," Myra melanjutkan, "Nah, itu yang gw pelajari. Gw lebih memilih di tempat si miskin. Karena gw takut kalau gw bahagia, gw lebih ketakutan untuk menderita. Sedangkan dengan menderita, gw lebih bisa prepare masalah yang akan datang."
Gw menengahi, "Ya... kita enggak bisa bilang kalau Myra ini orangnya selalu menderita. Pasti dia pernah bahagia, sama seperti yang lainnya. Mungkin Myra lebih nyaman dengan situasi menderita. Mungkin kalau dia enggak pernah buat cerita yang bahagia, karena mungkin dia pernah merasa bahagia tapi dia lebih mudah mengeksrepsikan perasaan menderita."
Intinya, klise, tapi tergantung orang itu sendiri, apakah orang itu lebih merasa nyaman dengan cerita yang sad ending atau happy ending. Mau happy atau sad, ending itu sangat crucial bagi suatu cerita. Katanya bagus tidaknya cerita, dilihat dari endingnya. Mau ceritanya sepanjang dosa, kalau endingnya jelek, ia akan merusak keseluruhan cerita. Pun seperti kehidupan. Ketika manusia sudah mencapai akhir hayatnya, sebaiknya ditutup dengan ending yang sempurna.

Comments

Anonymous said…
he he he ... jd mengingat moment ituuhh. Tapi niy .. kayanya mesti diekspose kesan perdebatannya ... keep writing
Erick S. said…
Wah coba gw ga telat ya...
Tp mungkin sad end - happy end itu sama kaya optimis pesimis, ngeliat gelas setengah penuh ato setengah kosong. Cerpen yang kita bikin kan hanya satu segmen dari kehidupan si tokoh, sementara di kehidupan kita, ada saja segmen yang bersakit2 dahulu, senang kemudian, ada juga yang sebaliknya. Yang jelas, tulisan itu bagian kecil dari cerita yang panjang, ending pada tulisan juga ending kecil. Kalo tokohnya mati? Emangnya cerita selesai gitu dengan adanya kematian? Nah looh...
macangadungan said…
gw lebih suka cerita happy ending, soalnya bikin pikiran jadi positif. titik.
hahahah...
vendy said…
oke, mari ngebandingin dari 2 sisi. gue suka film "The Click", dan "Ju-On". dua film itu mewakili kedua temen loe.

tidak ada yang bisa tahu ending dari hidup ini seperti apa. lagipula, sesuai kata loe, tergantung orangnya sendiri. definisi bahagia/sedih begitu relatif...

aih, bahagia :D
mynameisnia said…
@erick: kayaknya ini pas elo engga dateng deh, bukan pas telat. eh enggak tau deng.
Extraordinary said…
tergantung cerita. asal nyambung ama jalannya cerita n pas, gak jadi masalah sad or happy ending. akhir yang tidak terduga-duga malah lebih nyenengin. hehehehe
mau rada nyerempet ke film, sampai saat ini film yang buatku ending ok banget tu, The Departed. semua tokoh penting mati dengan cara yang gak diduga. gak bikin sakit hati yang nonton...coba deh tonton...
stey said…
gw lebih suka akhir yg menggantung..membuat kita berpikir buat menyelesaikan sendiri. Tapi sebenernya happy or sad ending tu menurut gw only a beginning..
mynameisnia said…
stey, ditulis lagi doms url web elo. gw udah nyari2 kok gak ada...
stey said…
it's theishtar.wordpress.com
Begy said…
ah i see.. u've been actively involved in Reading Lights..

well, maybe i'll c u there someday hehe..
mynameisnia said…
ya... ditunggu aja kedatangannya, beg :D

Popular Posts