Skip to main content

Orang Indonesia Semakin Jahat!

Benar-benar seru itu berita Ryan, tersangka pembunuhan berantai yang membunuh pasangan homoseksualnya. Bagi gw, itu seru!
Sebelum ada embel-embel pembunuhan berantai yang ternyata sudah ada semenjak tahun 1977, Indonesia sedang diramaikan dengan mutilasi dan manusia yang dikubur oleh semen. Benar-benar semakin kejam manusia Indonesia. Mereka benar-benar melakukan cara kotor dan menjijikan. Mungkin gw kalau jadi pembunuh, gw akan pakai cara bersih seperti memberi racun. Masalah buang mayat, suruh siapa kek. Apa yang ada dipikiran para pembunuh itu? Dan apa juga yang ada dipikiran gw? Hehe.
Tadi malam gw nonton Apa Kabar Indonesia di TvOne yang membahas mengenai kasus Ryan ini. Dalam diskusi ini dihadirkan seorang ahli forensik, krimolog (Erlangga Masdiana), psikiater (Surya Widya), keluarga korban (Dion), perwakilan dari komunitas homoseksual (Toyo), dan seorang jurnalis TvOne. Dion yakin sekali bahwa adiknya bukan seorang homoseksual dan Toyo sangat tidak suka kalau kaum homoseks jadi tersangkut paut dengan kasus ini. Ketika ditanya apakah homoseksual berhubungan dengan psikopat, Erlangga bilang, "Homoseksual sendiri adalah perilaku menyimpang. Orangnya sendiri saja sudah menyimpang, perlakuannya pasti menyimpang."
Lalu Toyo tersinggung, "Saya tidak setuju. Homoseksual itu bukan perilaku menyimpang. Coba tanya psikolog. Kita ini sama dengan heteroseksual, hanya orientasi lawan jenis yang berbeda. Tolong dibedakan antara normal dan tidak normal."
Mungkin Erlangga merasa tidak enak, ia berkata dengan klise, "Kita kan disini hidup dengan norma..."
Sangat disayangkan, gw setuju dengan Toyo. Gw selalu setuju dengan Toyo bahwa cemburu itu hinggap di siapa saja - baik hetero maupun homo - dan cemburu tidak selalu berakhir dengan pembunuhan. Dan gw setuju bahwa homoseksual tidak masuk ke penyakit kejiwaan. Homoseksualitas sudah resmi dihapus dari kategori gangguan mental atau gangguan jiwa baik oleh WHO maupun Depkes sendiri. Bahkan, homoseksualitas kini dikategorikan sebagai bagian identitas diri sendiri seseorang. Dan penyebab utamanya adalah faktor genetik biologis (sumber dan sumber). Terdengar legal ya? :) Bisa di cek jika salah satu saudara Anda gay, Anda harus berhati-hati. Hoho.
Mengenai hubungan psikopat dengan homoseksual, mari kita bahas satu persatu.
Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral). Ini bisa diakibatkan lack of compassion atau bisa jadi tidak pernah mendapatkan kasih sayang sama sekali. Mungkin kalau Ryan itu beneran psikopat, bisa jadi dia masa kecilnya kurang baik. Ini bisa dilacak masa kecilnya dan profil orang tuanya. Tapi kita yang sebagai orang awam, jangan terburu-buru mendengar kriminolog yang seandainya langsung bilang dia adalah psikopat. Dengarkan apa kata psikolog atau psikiater yang sudah melewati pemeriksaan dan diagnosis tertentu kepada Ryan. Dan gw setuju sama Pak Surya ketika ditanya apakah Ryan psikopat atau bukan, lalu Pak Surya bilang, "Ketika mendiagnosis, dokter harus memeriksa dulu, bukan?"
Sayangnya, pembunuhan ini dilakukan oleh seorang homoseks sehingga muncul issue bahwa homoseks itu sadis. Coba kalau pembunuhan ini dilakukan oleh lesbian atau orang depresi. Pasti issue yang muncul bahwa orang lesbian atau orang depresi itu berbahaya dan sadis. Gw enggak setuju kalau ini disangkut pautkan dengan orientasi seksual seseorang. Tapi bisa jadi kejadian ini menguatkan teori bahwa salah satu simptom (gejala) psikopat adalah sering dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksual, transvestism, pedofil, fetishm, sadism, serangan atau perkosaan seksual, pembunuhan dan pengerusakan jasad karena motif seks (coba baca deh Kartini Kartono).
Kalau dilihat dari pembunuhan dan pengerusakan jasad karena motif seks, ini klop pernyataan ahli forensik itu bahwa seorang pembunuh yang merusak alat kelamin korban, pasti memiliki motif seksual. Dan yang membuat gw tertarik adalah ketika ahli forensik itu berkata, "Ada pembunuh yang menyayat bibir korban, mungkin karena korban tersebut terlalu banyak omong atau suka ingkar janji. Orang psikopat biasanya menjilati darah korban. Dan sepertinya Ryan ini menikmati proses pembunuhan karena banyaknya sayatan dangkal di daerah dada. Selain itu banyak luka yang berbentuk bulat, kemungkinan tersangka menggunakan linggis. Dan mungkin pada saat itu, korban belum mati."
WOOOOTTTT! Ini menarik sekali! Elo disayat, dimutilasi, dalam keadaan belum mati? Film SAW sekali!
Tapi jujur, gw penasaran banget pengen wawancara Ryan - sama seperti penasarannya gw ketika gw melihat tatapan mata dukun palsu pengganda uang yang baru dieksekusi mati. Ryan, matanya sayu. Sedangkan dukun palsu itu, matanya mengerikan sekali. Gw ingin nanya, apa sih rasanya ketika memotong bagian tubuh korban? Apakah ia menikmatinya? Apa ia tidak jijik dengan darah atau isi tubuh yang terburai? Kenapa korban harus dibunuh? Pantaskah ia?
Coba kalau ada kesempatan mahasiswa-psikologi-stuck-di-bab-5 bisa wawancara Ryan sebelum diekskusi. Praduga dinamika homoseksual dan psikopat, pasti sangat rumit.
Menarik!

Source: Picture

[baca selengkapnya di: Psigoblog]

Comments

Anonymous said…
apakah si gw yang harus mewawancarainya????
hehehehehehehehe.....
yang gak jadi psikopat aja lieur verbatimnya...hahahaha.....

nti skripsi si gw dipublikasiin ah secara luas...biar agak merubah cara pandang masyarakat awam tentang mereka....cie...gaya lah...hahahaha

--bolehbaca--
Pritha Khalida said…
Wuuuwwhh...
Iya nih skarang kayaknya banyak banget kasus yang penyelesaiannya asal main bunuh aja!
Dikira dengan bunuh2an, masalah selesai gitu?? Kan enggak...
AnG9r4eN1 said…
www.bolehbaca.blogspot.com

disana, mahasiswi analisis-eksistensial berbicara....

hehehehehehehhhehehe ;D
Anonymous said…
gwa lebih menyanjung keberanian lu, ni, buat mewawancarainya.
kalo dipikir, ya? ryan itu kan cakep juga nggak, standar orang indonesia, lah...
vendy said…
sudah jadi trademark sebagian dari kita untuk main pukul rata toh?

soal perilaku mirip SAW itu, hmmm... menarik sih memang, tapi koq gw blom pernah denger ya?

I wanna play a game >:)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…