Skip to main content

Rayakan Kebebasan Anda!


Kita, sebagai manusia, memang tidak bebas secara absolut. Bahkan ketika di akhirat pun, manusia akan diarahkan 'nih kamu yang baik ke kanan, yang jahat ke kiri, nanti kamu kesini untuk ditimbang pahala dan dosanya' (ya anggap saja kata-katanya begitu). Jika hewan dikendalikan oleh insting, manusia dikendalikan oleh tradisi dan norma masyarakat. Bebas disini berupa kebebasan mengambil keputusan untuk memilih dan kebebasan secara ruang personal yang kita hayati. Namun bukan itu yang gw mau bahas, melainkan kebebasan ruang fisik, yang jelas-jelas nyata sekarang inilah yang Anda diami.
Kemarin-kemarin ini gw ke Museum Fatahilah, Jakarta. Di salah satu sudut ruangan, terdapat sebuah ruangan kecil yang menjorok ke bawah. Guide berkata secara horor, "Ini adalah penjara wanita."


Penjara wanita di zaman Belanda ini, tempat Cut Nyak Dien pernah ditahan, hanyalah sebuah ruangan bau, sumpek, pengap, gelap, tingginya tidak lebih dari satu meter, tidak ada ventilasi, tidak bisa berdiri, tidak ada toilet, tidak ada pemandangan, dan sangat... mengerikan. Jelas mengerikan, puluhan perempuan Indonesia pernah ditahan di sana. Semoga waktu itu phobia terhadap ruangan sempit belum ada.


Berikutnya, masih dengan nada horor, guide berkata, "Ini adalah penjara laki-laki."


Dibandingkan penjara wanita, penjara laki-laki berada di luar ruangan (seperti kos-kosan gitu), dengan sedikit cahaya, dengan dua rangkap teralis besi, tapi kondisi lainnya enggak ada bedanya. Guide bilang, setidaknya ada 60 pemuda Indonesia dipenjara di sini. Mereka tidak diberi makan dan mereka harus tidur, buang air besar dan kecil di tempat yang sama. Coba Anda bayangkan kalau Anda berada di paling pojok ruangan penjara yang paling dalam, yang paling jauh dari teralis besi. Anda setiap harinya menghirup 60 aroma tahi dan kencing baru, lalu Anda tidak diberi makan, harus bergulat dengan pengap udara Jakarta yang panas, dan mencoba menggapai-gapai udara baru. Kemungkinan matinya ada dua: mati terkena penyakit karena tahi dimana-mana atau mati karena gila.

Berikutnya, guide menunjukkan penjara yang ada di luar gedung Fatahilah. Ini adalah penjara air. Kalau penjara-penjara sebelumnya adalah untuk orang-orang yang melakukan kriminal seperti mencuri, penjara air ini dibuat untuk para pemberontak. Tingginya hanya 160cm, berupa lorong panjang yang gelap, terdapat mata air di dalamnya sehingga air akan terus naik. Mungkin kalau airnya normal, hanya sebatas pinggang. Mungkin kalau ditambah hujan, para pemberontak mati tenggelam. Tapi coba Anda bayangkan Anda berada di dalam air 24 jam, selama satu minggu, dikalikan satu bulan. Mungkin Anda akan mati dengan kaki membusuk.
Mungkin ini salah satu penyebab kenapa Indonesia baru merdeka 300 tahun kemudian. Masyarakat Indonesia sangat takut dengan hukumannya yang membunuh perlahan-lahan itu. Beda dengan penjara sekarang, penjara dulu benar-benar tidak berperikemanusiaan. Memang sih di zaman Renaissance seperti itu, jangankan orang normal, orang gila aja dikerangkeng layaknya binatang. Konon katanya di Yunani, mereka melakukan perbuatan zinah, pengadilan memberikan hukuman untuk mencungkil salah satu mata dari kedua pasangan tersebut. Waah, kalau ini diterapkan di Indonesia, pasti banyak nih yang bermata satu. Ketika Belanda masih menjajah, Belanda sering kali menggantung atau memenggal kepala mereka-mereka yang berbuat kriminal. Mungkin ini bisa diterapkan, Pak SBY? :D
Kini Indonesia sudah merdeka, Anda juga merdeka. Walaupun misalnya sekarang Anda di balik meja kerja dan rasanya seperti berada di penjara karena tidak bisa melarikan diri dan diburu tenggat waktu. Setidaknya sesudah pekerjaan kelar, Anda masih bisa keluar, pulang ke rumah, bertemu dengan orang yang dicintai, lalu tidur di kasur empuk.

Comments

Extraordinary said…
penjara jaman belanda dan LP-LP di indonesia sekarang gak jauh beda, sama2 sempit.
kalo jaman belanda mah karena memang didesain sempit, kalo LP sekarang sempit karena kebanyakan penjahat. hehehehe. walau udah over load tetep aja dipaksain.
enaknya kalo termasuk penjahat berkerah putih, penjara itu sebelas duabelas ma hotel.hehehehe..
kamar kost lah paling gak...yang pasti, aku benci tempat sempit.
Alhamdulillah, "ruang" yang aku maknai hari ini sangat luas.....hehehehehehehhehehehehehehehehehheheheh

btw, foto2nya serem, kenapa gak ikut yang wisata malem ja?lebih asik tampaknya bu....:D
mynameisnia said…
masalah tentang masyarakat Indonesia yang semakin jahat dan buas, itu menjijikan ya. Mutilasi atau bahkan di cor sama semen. AJEGILE!! Kalo penjara sekarang sih kayak sekolahan baru, yang jahat makin jahat. Yang tadinya cuman nyolong ayam, jadi bisa nyolong mobil. Huhuh.

Hahah, kalo malem mah bukan wisata atuh, tapi jurit malam.
vendy said…
bebas yah...

pertanyaan: siapa yang merampas kebebasan itu? orang lain, kita atau pikiran kita sendiri? :p
Raffaell said…
bagus ya, ke tempat tempat bersejarah, mengingat kembali masalalu kita dan membuat kita bersyukur.
Dn Bagus said…
Serem banget
Nia Janiar said…
Keren yaa?

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…