Tenggelam

Apakah ketakutan terbesar Anda?
Kalau gw, gw paling takut dengan laut. Gw pernah ketakutan setengah mati ketika gw dibawa ke laut di Yogyakarta pakai perahu kecil. Teman gw bilang, "Nia... elo tahu balon-balon yang mengapung ini apa? Ini adalah batas laut. Sekarang kita sudah ada di laut lepas."
Gw menengok ke bawah. Gw - yang hanya pakai perahu kayu - terombang-ambing oleh ombak dan sangat amat jauh sekali dengan daratan, rasanya gw ingin teriak sekaligus muntah.
Bukan karena mabuk laut, tapi gw benar-benar takut dengan laut. Gw tidak pernah membayangkan yang indah-indah tentang laut seperti sunset atau sunrise. Pasti mengenai mati tenggelam lah, dicabik-cabik monster laut Anglerfish lah, atau kesedot oleh pusaran lah.
Laut adalah kerajaan air yang elo enggak tahu dalamnya, apa saja yang hidup di dalamnya, apa yang mereka makan, dan yang pasti ia tidak akan bersahabat ketika elo sudah kelelahan untuk berenang. Elo terasing, elo kesepian. Elo terombang-ambing oleh ketidakpastian dan elo dikelilingi oleh kematian. Mau diminum sampai habis pun enggak mungkin. Yang ada hanya rasa sakit yang tidak tertahankan di paru-paru karena oksigen sudah habis.
Gw pernah ikutan kuis di friendster yang judulnya 'How Will You Die'. Ternyata hasilnya gw drown. Dia bilang, "Mungkin gelembung air adalah hal terakhir yang kamu lihat. Aneh, tetapi romantis." Ya... walaupun gw penganut romantisme, gw tidak mendukung bahwa tenggelam itu kematian yang romantis. Ditambah lagi semalam gw mimpi tenggelam, badan gw terhimpit di jurang kecil sehingga gw enggak bisa berenang ke atas.
Memang, tenggelam ini asal usulnya sudah jelek banget. Di Eropa pada abad 17 dan 18, tenggelam (menenggelamkan) digunakan sebagai hukuman. Dulu, menenggelamkan digunakan sebagai cara untuk membedakan apakah seorang perempuan itu penyihir atau bukan. Idenya adalah perempuan penyihir akan terapung sedangkan yang bukan penyihir akan tenggelam. Dan biasanya ini digunakan untuk mengeksekusi perempuan, dibandingkan laki-laki. Dan kenapa pula kok Virginia Woolf bunuh dirinya dengan cara menenggelamkan diri sih? Asumsi gw: susah kalau jadi penulis yang melankolis karena ia akan mencari cara mati yang romantis sekaligus dramatis.
Apapun Anda, sebaiknya dicoba untuk tidak dihayati atau tidak diingat-ingat. Karena ketakutan itu akan membawa Anda ke objek yang Anda takuti. Mungkin dalam kasus gw... semakin gw takut tenggelam, mungkin gw memang akan mati tenggelam.
Who knows?
Source: Picture

(Anyways, mau tahu kalau penulis membaca lukisan atau penulis lagi nonton film tanpa perspektif? Silahkan berkunjung ke: http://indeks.blogsome.com/)

Comments

Begy said…
dulu pernah baca di koran, kalo orang mati tenggelam di laut katanya mati syahid.. katanya ini juga.. katanya.. mungkin harus dicek lagi kebenarannya..
AnG9r4eN1 said…
katanya sih, memang kalo kita takut malah cenderung malah melakukan ketakutan kita itu....hehehehe
aku malah cinta pantai bu....
eh, ada yang baru di bolehbaca.blogspot.com....
datang dan berikan komentar
eheheheh
Raffaell said…
Hammmm, ketauan gak bisa berenang, kalo gitu mulai berlarjar berenang yah
vendy said…
"Dan kenapa pula kok Virginia Woolf bunuh dirinya dengan cara menenggelamkan diri sih? Asumsi gw: susah kalau jadi penulis yang melankolis karena ia akan mencari cara mati yang romantis sekaligus dramatis."

aiiiiiiii... pait bener jadi orang melankolis... tapi kayaknya gw ngerti sih kenapa dia kepengen tenggelam.

mungkin dia berpikir kalau laut adalah rahim terbesar, dan kita hanya berpulang ke tempat yang seharusnya...

*yang merasa tersindir :D
macangadungan said…
gue takut laut,karena alasan yg sama kayak lo

tp gue suka pantai

heheeh
mynameisnia said…
@raffael: eiiittss.. gw bisa renang yaaaa.

@vendy: oh ya? laut adalah rahim terbesar? ok juga. hehe. tapi tetep, laut adalah neraka biru yang dingin dan sepi.

Popular Posts