Skip to main content

Untuk Apa Kamu Jungkir Balik?

Beberapa waktu yang lalu, teman gw bertanya tanpa tedeng aling-aling, "Apa sih tujuan kamu hidup?"
Gw diam saja. Satu menit... dua menit... tiga menit... pada akhirnya gw cuman bisa jawab, "Kalau jawaban yang bagus tuh ya, mungkin tujuan orang hidup adalah untuk kembali kepada fitrah-Nya, mengikuti semua perintah-Nya dan larangan-Nya agar mendapatkan apa yang Ia janjikan, yaitu surga."
Dan gw yakin, kalimat itu tidak merepresentasikan jawaban gw yang sebenarnya. Apakah gw ingin sukses? Terkenal? Muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga? Gw memang ingin itu, tapi gw enggak hanya sebatas ingin itu. Rasanya gw ingin mendapatkan apa yang orang lain tidak dapatkan. Ya... semacam peak experience-lah, yang membuat gw merasa, 'Ok. That's it! Got it! I can't ask for more and I am so ready to die.'
Katanya hidup itu seperti minum air laut. Semakin diminum, semakin haus. Semakin sukses, semakin ingin sukses. Semakin kaya, semakin ingin kaya. Teringat gw akan Bulyan Royan. Apa sih yang ia cari, padahal ia kaya raya? Kenapa ia harus korupsi? Uang tidak akan dibawa mati dan dia pun sudah tua. Mau kaya pun bukan dia yang menikmati kekayaannya, tapi anak-anaknya.
Katanya hidup itu ditakdirkan untuk mati. Enggak adil karena kita enggak memilih untuk hidup, tetapi ketika kita sudah nyaman berada di dunia, kita divonis untuk mati. Jadi, apakah tujuan untuk hidup sekarang ini adalah untuk mempersiapkan diri ke kehidupan selanjutnya?
Secara agama, SQ gw sepertinya berada di titik nadir. Gw pernah benci dengan agama ketika gw pertama kali masuk kuliah. Gw merasa ditelanjangi, disalahkan, dipandang rendah, oleh makhluk-makhluk soleh yang pakai kerudung panjang di mesjid. Gw ingin belajar mengenai Islam dengan banyak bertanya, tapi ada seorang perempuan, malah menjawab, "Jujur, saya tidak suka pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan saya sebal dengan orang yang melontarkan pertanyaannya (ok, dia benci gw). Kenapa sih manusia tidak saja mengikuti skenario yang ada dan percaya bahwa Tuhan itu ada?"
Memang, akal manusia harus dibatasi, karena nanti dia bisa gila sendiri memikirkan agama. Misalnya ada yang bertanya ke gw, "Nia, kalau di psikologi, meyakini bahwa melihat atau merasakan objek-objek yang sebenarnya tidak ada dinamakan halusinasi. Lalu bukannya Tuhan itu tidak ada secara kasat mata? Apa Tuhan itu sebenarnya hanya halusinasi?"
Tadinya mau gw jawab, "Beda dengan halusinasi, manusia meyakini adanya Tuhan, ia merasakan dan meresapi kehadiran-Nya." Tapi gw jadi skeptis sendiri karena ingat kasus teman gw ketika berkunjung ke RSJ. Bukankah orang schizophrenia juga merasakan, meyakini, dan meresapi bahwa ada makhluk menakutkan yang mengejar-ngejarnya?
Jangan dilanjutkan dan dipikirkan, jawaban ini pasti salah. Sudah dapat jawaban salah, atheis pula. Nista amat.
Itu salah satunya, setiap gw bertanya, gw merasa disalahkan. Lalu untuk apa gw baca huruf-huruf keriting jika tidak mengerti artinya? Lalu untuk apa gw jungkir balik sembahyang jika tidak bisa menghayatinya? Untuk apa beragama jika tidak bisa dijadikan pedoman dan hanya sebatas KTP doang?
Jujur, bukannya bangga, ini malu! Gw malu akan ketidaktahuan gw. Gw malu akan ketidakpedulian gw. Juga malu terhadap orang-orang yang katanya muslim tapi kelakuan tidak seperti muslim. Kenapa? Alkisah salah seorang teman gw yang mualaf, yang sedang giat-giat mencari pengetahuan mengenai agama, datang ke sebuah pengajian. Siapa sangka ketika seusai pengajian, guru ngaji itu menarik biaya setiap orangnya Rp.150.000,-! Seperti ESQ juga. Orang ingin mengerti tentang agama, ditarik biaya besar-besaran. Padahal hanya modal seperangkat audio visual yang sangat sophisticated dan modal sugesti doang!
Atau kasus lain deh. Teman gw, A, ceritanya mau ikutan sebuah organisasi tentang pendidikan berbasis Islam (dan yang punya kebetulan teman kuliah gw sendiri). Teman gw ini pakai kerudung, pakai celana jeans. Salah satu aturan Islam adalah tidak boleh menggunakan baju yang membentuk tubuh, salah satunya celana jeans. A cerita kalau ia disindir habis-habisan karena ia pakai celana jeans oleh teman gw yang punya organisasi itu. Gw heran. Ok, A mungkin salah. Tapi bisa enggak sih diberi tahu secara baik-baik bahwa sebaiknya dia pakai rok panjang. Teman kuliah gw yang absurd, katanya anak psikologi dan katanya muslim yang taat, tapi kok tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu orang lain tanpa menyakiti perasaannya?
Kasus lain juga. Teman laki-laki gw, B, yang katanya aktivis dibawah organisasi Islam, yang sudah tidak diragukan imannya, yang dianggap baik oleh teman-temannya, yang isi blognya berisi kalimat-kalimat rohani, tetapi suka mengirimkan sms jorok yang bernada seksual, punya YM dengan display image seorang perempuan yang sedang melakukan oral sex?? COME ON!! Apakah elo dengan label manusia beragama sudah tidak cukup munafik? Apakah tujuan hidup lo hanyalah berpura-pura untuk orang lain terlihat baik? Apa elo hidup karena permintaan pasar?
Mungkin ini ciri manusia modern. Semakin jauh dari dirinya, semakin kering, semakin terhapus hubungan secara vertikal dan horizontal. Semakin canggihnya materi, semakin berlomba-lomba mendapatkannya. Baik jika bisa mendapatkan keduanya: jasmani dan rohani. Tapi susah.
Tadi siang gw mendengarkan KLCBS (duh..). Penyiarnya mengemukakan beberapa ayat Al-Qur'an (entah ayat berapa). Kira-kira rangkuman ayat-ayat tersebut begini: Ketika semua bergetar dan saling bertabrakan, orang-orang yang tidak menjalankan perintahnya akan didorong keras-keras menuju neraka. Di dunia, orang-orang yang zalim menertawakan orang-orang yang shaleh. Di akhirat, orang-orang yang shaleh akan menertawakan orang-orang yang zalim.
Dan gw tidak mau ditertawakan. Gw tidak mau sok Islam tapi busuk di dalam.
Dengan segala kelemahan dan ketidaktahuan gw, gw bersedia mencari tahu. Mungkin itu bisa menjadi salah satu cara untuk tahu apa sih tujuan gw hidup. Sepertinya tujuan gw bukan untuk kelar skripsi, lulus, kerja, beranak, kemudian mati. Hidup gw seperti puzzle, pasti ada satu kepingan yang belum ditemukan. Malu mati kalau masih bingung, malu mati kalau masih jadi manusia tanggung.
Gw belum menemukan apa jawabannya. Mungkin postingan ini seperti menebar aib sendiri. Tapi, mungkin dengan semakin orang banyak tahu, maka semakin banyak orang mau membantu?
Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah menemukan jawabannya?

Comments

Extraordinary said…
well...hehehehe...tampak kenal dengan pernyataan diatas...:D....
jawabannya???hmmm....
ada satu hal yang terus dipertanyakan dalam diri tapi tidak bisa dijelaskan secara bahasa lisan....
masih bingung??ya, bisa dibilang gitu....
butuh waktu dan pendalaman diri buat nyari yang bener....heehehehe
aku setuju ma peak experience itu, gak perlu dijelaskan, karena hanya kita yang bisa merasakannya...
kalo secara agama, yah....gak ada yang "paling" disisi Allah..aku percaya itu aja....
tinggal seberapa besar keinginan kita untuk terus menjadi manusia yang lebih baik....dan adalah urusan Tuhan untuk menilainya.....bukan orang lain....(walau kadang aku masih menilai orang lain sih...hehehehehe....gak sinkron....maap :D)
Extraordinary said…
bu.....mampir doms ke www.bolehbaca.blogspot.com
kasih komentar ya....newbie neyyy..
heheheh
thx
FFI said…
masuk ajah www.indonesia.faithfreedom.org
mynameisnia said…
@extra: ah, pernyataan tidak sinkron dengan perbuatan, sulit dipercaya. heheh.

sudah bisa jadi target faithfreedom detector aja, mgkn ntar akan ada FPI kemari.
Extraordinary said…
hehehe...iyah sih...ya..diriku masih mencoba. karena semakin dipikir, semakin bingung juga ternyata...hehehe...
mynameisnia said…
atau jangan2 selama ini kita sibuk mikir tapi dikerjakan tidak.

misalnya, "aduh.. lagi sibuk mikirin skripsi"

hehehe.
M. Lim said…
:) hihi.
galau ya?
Nia Janiar said…
Hehe, iya :)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…