Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2008

Sebuah Ulasan Mengenai Bilangan Fu

Ayu Utami, penulis yang memulai karirnya sebagai wartawan di zaman Orde Baru. Jangan heran jika novel-novelnya selalu memiliki aroma kemiliteran dan pemerintahan.
Seperti novel Bilangan Fu ini, yang memiliki 536 halaman. Beruntung kertasnya cokelat, bukan HVS 80 gram, karena akan sangat pas untuk memukul orang yang Anda kasihi.
Kali ini, Ayu Utami memberikan nafas spritualisme kritis pada novelnya. Ia mengangkat wancana spritual - keagamaan, kebatinan, maupun mistik. Novel ini bercerita mengenai seorang pemanjat tebing yang bernama Yuda - seseorang yang mengabaikan nilai-nilai lama, takhayul, budaya, dan sangat membenci televisi ini - memiliki sahabat baru yang misterius bernama Parang Jati. Melalui Parang Jati, cara pandangnya mulai berubah. Ia mulai melihat nilai-nilai budaya yang selama ini ia abaikan, ia belajar menghormati alam, ia belajar menghormati apa yang biasanya ia sebut sebagai takhayul (misalnya sesajen, Nyi Rara Kidul, dan lainnya) hanya sebagai bentuk penghormatan dan ra…

The Boring Show!

Heyhoo, I'm back! Ya... meski enggak penting, tapi pastinya ada sangat segelintir orang yang mengharapkan gw meng-update blog lagi. Hak hak hak hak. Ya, kan? Ya, dong?
Anyways, pasca kelulusan, gw mulai melanjutkan hidup lagi. Mulai sibuk lagi: makan, tidur, main, bengong, dan berafiliasi dengan datang ke komunitas-komunitas lagi. Seperti halnya kemarin, setelah gw kelar menyambung hidup di Reading Lights Writer's Circle, gw datang ke sebuah acara pemutaran film independen di Rumah Buku. Film-film itu berasal dari satu komunitas di Jakarta. Namanya kalau enggak salah itu Lenteng Agung. Nah, pada acaranya ini diputar 9 film yang terinspirasi dari cerita pendek.
Kayak layar tancep! Dari pukul 19.00-21.30, kita duduk di halaman belakang Rumah Buku, beralaskan tikar, dengan layar segede dosa di depan. Seru sih, tapi film-filmnya bikin enggak seru. Seperti judul yang gw tulis, ini membosankan, my man!!
Gw nanya ke temen gw, "Sebenarnya, maksudnya film independen itu apa sih?"…

Laila Majnun

Gw membeli buku ini di pameran buku murah meriah ketika gw masih mengerjakan skripsi. Selama itu, gw belum baca buku ini dan gw janji gw akan baca setelah sidang.
Ternyata memang pilihan gw untuk baca setelah sidang itu adalah pilihan yang benar. Ternyata buku ini sedikit susah dibaca, karena banyak sekali metafora. Lalu banyak dialog yang panjaaang sekali. Jadi, sedikit lelah gitu.
Ok, mungkin beberapa pembaca sudah pernah baca buku ini, karena ini karya sastra Islam yang sangat fenomenal. Buku ini dibuat oleh Nizami, seorang penyair Persia, yang ditugaskan untuk menulis Laila Majnun oleh penguasa Kauskasia, Shirvanshah, pada tahun 1188 Masehi. Raja tersebut meminta Nizami untuk menulis sebuah epik romantis yang diambil dari cerita rakyat Arab: kisah mengenai Majnun yang melegenda, sang penyair yang "gila cinta", dan Laila yang terkenal karena kecantikannya. Kurang dari empat bulan, Nizami menyelesaikan 8000 baris syair.
Bukunya sendiri bercerita mengenai seorang pemuda yang t…

Ego-Transmitted

Mungkin semua orang punya idola. Biasanya idola itu mencerminkan ideal-self seseorang. Seseorang pasti mempunyai keinginan untuk lebih pintar, cantik, cakep, terkenal, atau memiliki semua-muanya dari orang lain. Mungkin kalau mengidolakan artis karena tampangnya yang rupawan sudah biasa. Seperti gw yang adore banget dengan segala bakatnya Alicia Keys, dengan kegantengan, kecantengan, dan ketampanan Christian Bale dan Fachri Albar. Hehe.
Kalau kita adore sama orang karena kepintarannnya, dengan pemikirannya, dengan karya-karyanya, akan beda banget. Misalnya gw adore dengan the way of thinking-nya para filsuf sehingga gw ingin banget tinggal di zaman mereka, ingin tahu kenapa di masa-masa seperti itu, para pemikir itu bermunculan. Ingin tahu kenapa Freud begitu terobsesi dengan dorongan seksual, Kierkegaard yang melankolis, Nietzsche yang rapuh, dan Husserl yang menciptakan sebuah metode Fenomenologi yang sulit dan kenapa pula gw memakainya di skripsi gw. Huff.. sedikit menyesal.
Enggak u…

Karya Sastra Itu Bernama Puisi

Gw menyukai seni, entah karena gw memang suka atau karena faktor pembelajaran dari sebagian besar keluarga yang kuli seni. Entah seni musik - yang dicekoki atau tidak, gw selalu didorong untuk menonton pertunjukan seni dari jazz kontemporer sampai band enggak jelas, seni lukis - dimana semenjak kecil gw disuguhkan lukisan abstrak yang sulit di interpretasi dan begitu menyesal ketika gw tidak bisa datang bersama teman-teman the circle ke Jendela Ide, dan seni tulis menulis. Beda dengan seni yang lain, gw suka dengan seni tulis menulis karena dorongan diri dan terkadang rasa sesal kenapa gw tidak masuk ke jurusan sastra itu masih ada.
Gw memang enggak tahu-tahu amat sama yang namanya sastra, tapi mulai sedikit mempelajarilah semenjak gw punya banyak teman di sastra. Gw benar-benar buta dengan puisi! Mencoba membaca puisi Remy Sylado 'Mbeling', ok juga. Mencoba membaca puisi Goenawan Mohammad, rasanya gimanaa gitu. Tadi malam, sekitar pukul setengah delapan malam, gw datang ke seb…