The Boring Show!

Heyhoo, I'm back! Ya... meski enggak penting, tapi pastinya ada sangat segelintir orang yang mengharapkan gw meng-update blog lagi. Hak hak hak hak. Ya, kan? Ya, dong?
Anyways, pasca kelulusan, gw mulai melanjutkan hidup lagi. Mulai sibuk lagi: makan, tidur, main, bengong, dan berafiliasi dengan datang ke komunitas-komunitas lagi. Seperti halnya kemarin, setelah gw kelar menyambung hidup di Reading Lights Writer's Circle, gw datang ke sebuah acara pemutaran film independen di Rumah Buku. Film-film itu berasal dari satu komunitas di Jakarta. Namanya kalau enggak salah itu Lenteng Agung. Nah, pada acaranya ini diputar 9 film yang terinspirasi dari cerita pendek.
Kayak layar tancep! Dari pukul 19.00-21.30, kita duduk di halaman belakang Rumah Buku, beralaskan tikar, dengan layar segede dosa di depan. Seru sih, tapi film-filmnya bikin enggak seru. Seperti judul yang gw tulis, ini membosankan, my man!!
Gw nanya ke temen gw, "Sebenarnya, maksudnya film independen itu apa sih?"
Ok, sedikit gw jelaskan dari film-film yang diputer. Di setiap film, pasti saja ada adegan dimana kamera memperlihatkan suatu barang lama-lama (entah cangkir kopi, jalan, air). Syukur-syukur kalau ada narasi, tapi kalau penonton hanya dibuat bengong dengan adegan diam gitu? Ada seorang teman bilang kalau itu namanya video art dan biasanya idealis. Artinya, yang mengerti hanya orang yang membuat (ya, sedikit kontemporer) dan ini ada di setiap film, berarti ini seperti frame of reference bersama. Ada teman lain yang bilang ini open interpretation dan lainnya. Lalu apakah yang namanya independen itu harus aneh, tidak bisa dimengerti, dan mengandalkan efek kamera? Kenapa dari film-film yang gw tonton itu, tidak ada script yang bagus atau plot yang amazing? Masalahnya, film-film luar negeri yang gw tonton pun masih bisa dimengerti dan mempunyai cerita.
Gw memang tidak tahu tentang film independen. Gw nanya ke teman gw, "Mbak Rani (pemilik Rumah Buku dan suka membuat film independen), film-filmnya kayak gini enggak sih?"
Teman gw jawab, "Yang pasti, film buatan Mbak Rani, lebih dari ini!"
Salah satu dari film itu, Suara Kota, memperlihatkan sebuah boneka yang duduk di busway. Kamera hanya memperlihatkan boneka lama-lama, isi busway yang sudah kosong, dan lainnya. Gw bilang ke teman gw, "Ya elah, gitu doang sih gw bisa!!". Idealnya gw ketika gw membuat film adalah gw membuat film yang tidak bisa ditiru oleh orang lain.
Intinya, boring!

Comments

Erick S. said…
hmmmh... ada istilah yang cocok utk hal ini, dapet dari tmen gua : cinematic masturbation. Kepuasan hanya di diri pembuat.
Gua sih ga masalah, selama yang bikin juga tau kalo karyanya sulit dipahami. Tapi kalo si pembuat yang merasa orang-orang yang liat tidak secerdas dia, itu baru masalah.
Begy said…
Firstly, congrats for The S.Psi.! Hope I'll also have my name added with the title asap..

Secondly, to be honest, I'd rather waste my time watching blockbuster movies or award-winning movies. I think they won't be that boring (hell yeah).
maacangadungan said…
klo film indi e prancis keren2...
tp klo film indie kayak yg elo bilang, gue jg males nontonnya
XDDDDDD
mynameisnia said…
@semua: Ya.. intinya bagusan yang luar negeri (asia model thailand, singapura, filipina... belum terhitung).

Popular Posts