Skip to main content

Ego-Transmitted

Mungkin semua orang punya idola. Biasanya idola itu mencerminkan ideal-self seseorang. Seseorang pasti mempunyai keinginan untuk lebih pintar, cantik, cakep, terkenal, atau memiliki semua-muanya dari orang lain. Mungkin kalau mengidolakan artis karena tampangnya yang rupawan sudah biasa. Seperti gw yang adore banget dengan segala bakatnya Alicia Keys, dengan kegantengan, kecantengan, dan ketampanan Christian Bale dan Fachri Albar. Hehe.
Kalau kita adore sama orang karena kepintarannnya, dengan pemikirannya, dengan karya-karyanya, akan beda banget. Misalnya gw adore dengan the way of thinking-nya para filsuf sehingga gw ingin banget tinggal di zaman mereka, ingin tahu kenapa di masa-masa seperti itu, para pemikir itu bermunculan. Ingin tahu kenapa Freud begitu terobsesi dengan dorongan seksual, Kierkegaard yang melankolis, Nietzsche yang rapuh, dan Husserl yang menciptakan sebuah metode Fenomenologi yang sulit dan kenapa pula gw memakainya di skripsi gw. Huff.. sedikit menyesal.
Enggak usah jauh-jauh ke filsuf zaman dulu, beberapa hari yang lalu gw berkesempatan untuk ngobrol dengan seorang penulis buku Analisis Eksistensial dan Filsafat Manusia - yang mana kedua buku itu menjadi bahan acuan gw untuk menulis skripsi, seorang doktor dan guest lecturer di UI. Ia adalah Dr. Zainal Abidin, M.Si.
Diawali dengan kebingungan gw akan metode penelitian yang gw pakai. Gw dan teman gw bertanya kesana kemari. Tanya ke dosen filsafat, malah dicekokin filosofi mengapa beliau dulu seorang atheis. Tanya ke dosen psikologi, beliau juga kurang begitu mengerti karena metode ini cenderung baru dipakai di kampus gw. Akhirnya di suatu malam, dosen psikologi itu nelepon gw.
Beliau bilang, "Nia, saya kasih nomer Zainal Abidin ya. Kamu telepon dia besok di jam yang sama."
Gw mabok darat pas dibilangin begitu. Gw bisa mati kutu dan ketahuan begonya. Gw takut Pak Zainal Abidin berpikir, 'Duile... ini anak, berani bener ambil analisis eksistensial'
Beberapa saat kemudian, gw sms dosen gw dengan harap-harap cemas, "Saya deg-degan, Bu. Saya, mahasiswa pemula Analisis Eksistensial, harus menelepon orang yang bukunya saya baca."
Beliau bales sms gw, "Tenang... dia manusia juga, cuman lebih dulu tahu. Justru penulis buku akan lebih respect pada pembaca bukunya yang mau bertanya. Ok, tenangkan hatimu. Good luck!"
Gw berasa diterapi lewat sms.
Akhirnya gw nelepon Bapak Zainal Abidin. Betul kata dosen gw, walaupun deg-degan, bapak ini baik sekali. Beliau rela menjelaskan metode yang gw pakai di skripsi gw mulai dari sejarahnya! Bahkan beliau nanya email gw untuk memberikan bahan dari dia, padahal gw ini bukan mahasiswanya. Beliau tanya gw ini ambil konsentrasi apa, kenapa gw meneliti ini, beliau memberi petunjuk aspek-aspek apa saja yang harus gw gali.
Rasanya ngobrol dengan orang selama ini elo baca bukunya dan dijadikan panduan lo itu gimana ya... rasanya seperti elo ingin bertanya semua-muanya dan menyerap isi otaknya. Gw sampai ngetik pertanyaan-pertanyaan gw karena gw enggak mau hilang arah ditengah obrolan. Hampir setengah jam gw interlokal, tapi tidak mengapa. Selain untuk ilmu, bukan gw juga yang bayar.
Yah, begitulah kawan, salah satu alasan mengapa gw jarang update blog ini. Doakan gw sukses ya sidang tanggal 19 Agustus dan bisa mempertahankan skripsi gw ya. Pokoknya ntar kalau gw online, sudah jadi sarjana Psikologi deh. Amin! :D

Comments

AnG9r4eN1 said…
hahaha...
kalo buat aku, nama zainal abidin mengingatkanku akan nama calon mertua yang gak jadi...waktu awal liat bukunya, aku kira itu dia...tapi gak mungkin coz si bapak ini masih muda..
hahaha...secara nama kayak itu banyak kan?....hahaha
curhat....

siapa superman????
ada deh.....hahahaha
mynameisnia said…
Keren atuh wi kalau misalnya memang iya. Pan kita bisa dateng ke rumahnya terus tanya2 langsung. Hehe.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…