Skip to main content

Karya Sastra Itu Bernama Puisi

Gw menyukai seni, entah karena gw memang suka atau karena faktor pembelajaran dari sebagian besar keluarga yang kuli seni. Entah seni musik - yang dicekoki atau tidak, gw selalu didorong untuk menonton pertunjukan seni dari jazz kontemporer sampai band enggak jelas, seni lukis - dimana semenjak kecil gw disuguhkan lukisan abstrak yang sulit di interpretasi dan begitu menyesal ketika gw tidak bisa datang bersama teman-teman the circle ke Jendela Ide, dan seni tulis menulis. Beda dengan seni yang lain, gw suka dengan seni tulis menulis karena dorongan diri dan terkadang rasa sesal kenapa gw tidak masuk ke jurusan sastra itu masih ada.
Gw memang enggak tahu-tahu amat sama yang namanya sastra, tapi mulai sedikit mempelajarilah semenjak gw punya banyak teman di sastra. Gw benar-benar buta dengan puisi! Mencoba membaca puisi Remy Sylado 'Mbeling', ok juga. Mencoba membaca puisi Goenawan Mohammad, rasanya gimanaa gitu. Tadi malam, sekitar pukul setengah delapan malam, gw datang ke sebuah launcing buku kumpulan puisi dengan judul 'Selingkuh' oleh Slamet Widodo.


Launching ini tidak disajikan dalam panggung besar, dengan mikrofon, meja, dan kursi. Gw juga tidak disajikan pembawa acara formal. Karena tempat ini diselenggarakan di Ultimus (toko buku sekaligus komunitas), semuanya berbeda. Hanya tenda kecil yang dibuat dari bambu yang dilapisi kain dan bangku bambu panjang sebanyak 15 buah. Suasana gelap, dengan lampu seadanya, dan lilin-lilin temaran yang bertebaran di paving blok. Kebanyakan yang datang memakai baju hitam, termasuk gw. Warna yang sama dengan langit malam itu karena kita langsung terarah pada langit tanpa penghalang. Jadi kalau waktu itu hujan, bisa-bisa jadi misbar: gerimis bubar.
Rokok. Bajigur. Kue kampung. Para pecinta puisi maupun penikmat pemula.
Puisi yang berjudul 'Tempe' dibawakan oleh seorang wanita bule. Rasanya lucu, puisi yang kata-katanya terkadang nyeleneh dan bukan bahasa baku, dibawakan seorang bule yang masih blah-bleh-bloh bahasa Indonesianya. Selain itu, ini bule sangat ekspresif dan gila juga. Tidak sedikit orang yang tertawa melihatnya.
Puisi selanjutnya mengenai poligami seorang ulama yang diceritakan dengan bahasa yang lucu namun sinis, nakal, dan menyentil. Desi membawakan puisi itu dengan baik sekali, ia menempatkan dirinya sebagai perempuan yang ironis dengan issue poligami. Saya tahu Desi, ia seorang aktivis perempuan. Ia pernah mengkritik salah satu buku ketika ada diskusi buku mengenai LGBT dan cukup menyulut teman-temannya untuk mengkritik salah satu penerbit ternama.
Mereka membawakan puisi dengan caranya masing-masing. Ada yang seperti orasi, ada yang biasa saja, ada yang benar-benar emosional, dan ada yang benar-benar advance seperti Kang Ayi.
Kang Ayi bercerita mengenai perilaku buang air besar di kali Ciliwung, Jakarta. Caranya berpuisi, benar-benar membuat pendengar membayangkan dan terhanyut dalam kata-katanya.Selama pembacaan puisi berlangsung, kami disuguhkan dengan hiburan yang menarik dan kreatif. Gw sampai amazing, bagaimana mereka yang hanya bermodalkan kursi dan stik drum, bisa menciptakan musik yang aneh-aneh. Atau mereka yang membacakan puisi beserta siluet-siluet cahaya warna-warni nan indah yang berasal dari kertas mika. Cara kreatifitas bekerja itu betul-betul misteri sekaligus anugerah!
Overall, gw cukup menikmati apresiasi puisi ini. Gw jadi ingat dengan pengalaman teman gw ketika ia ikutan workshop menulis di Bali. Ia bercerita seluruh peserta yang kebanyakan bule, tidak mengerti ketika orang Indonesia membacakan puisinya berapi-api. Yah, kita ini beda latar belakang. Mungkin karena intonasi Soekarno pada saat proklamasi, sekaligus kita melalui penjajahan, intonasi Soekarno begitu mengilhami!

Comments

macangadungan said…
kayaknya acaranya seru...
kok ga ngajak gue sih? XDDD
Rozi Kembara said…
SALAM PUISI...
puisi bagi gw laut, yang ga seorang pun tau seberapa dalemnya.
puisi bagi gw ombak, yang ga pernah lelah nerjang karang
puisi bagi gw cinta,hal yang ga bisa di jelasin sama kata-kata

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…