Laila Majnun

Gw membeli buku ini di pameran buku murah meriah ketika gw masih mengerjakan skripsi. Selama itu, gw belum baca buku ini dan gw janji gw akan baca setelah sidang.
Ternyata memang pilihan gw untuk baca setelah sidang itu adalah pilihan yang benar. Ternyata buku ini sedikit susah dibaca, karena banyak sekali metafora. Lalu banyak dialog yang panjaaang sekali. Jadi, sedikit lelah gitu.
Ok, mungkin beberapa pembaca sudah pernah baca buku ini, karena ini karya sastra Islam yang sangat fenomenal. Buku ini dibuat oleh Nizami, seorang penyair Persia, yang ditugaskan untuk menulis Laila Majnun oleh penguasa Kauskasia, Shirvanshah, pada tahun 1188 Masehi. Raja tersebut meminta Nizami untuk menulis sebuah epik romantis yang diambil dari cerita rakyat Arab: kisah mengenai Majnun yang melegenda, sang penyair yang "gila cinta", dan Laila yang terkenal karena kecantikannya. Kurang dari empat bulan, Nizami menyelesaikan 8000 baris syair.
Bukunya sendiri bercerita mengenai seorang pemuda yang terhormat dan dari kalangan yang disegani, Qais, jatuh cinta dengan seorang perempuan yang sangat cantik bernama Laila. Ternyata orang-orang memperhatikan perilaku kedua orang tersebut dan membicarakannya. Karena mereka dari keluarga yang terhormat, mereka harus menjaga jarak untuk menjaga martabat. Disinilah bagaimana kepedihan cinta itu dimulai. Qais, yang dulu sehat jasmani dan rohani, memutuskan meninggalkan keluarganya dan mengasingkan diri di padang pasir. Ia seperti tidak sadar karena ia selalu berbicara mengenai syair-syair cintanya kepada Laila, berjalan tidak karuan seperti orang gila (majnun). Dari mulut ke mulut, syair-syairnya menjadi sangat terkenal. Ia berubah menjadi pria tanpa pakaian, yang hidup di jurang dan gua, rambut yang tidak tertata rapi, hidup dengan para binatang, dan hanya sedikit makan. Bahkan kedatangan orang tua untuk menjemputnya dan menawarkan kenyamanan pun tidak berhasil.
Semula gw kesel banget baca karya ini. Karena selama seratus halaman, gw disajikan bertapa 'gila'nya, tersiksa, dan melankolisnya si Majnun ini. Majnun yang begitu tergila-gila karena cinta mengarahkan pikirannya ke Laila. Gw sampai berpikir, "Gila. Ini orang musyrik amat! Mana cinta pada Tuhannya? Kok ini orang mencari petunjuk dengan bertanya ke planet Venus dan Jupiter sih, bukan ke Tuhan?"
Sampai akhirnya gw baca epilog mengenai Nizami dan cerita ini. Ternyata Laila adalah metafora dari Tuhan. Majnun rela meninggalkan kehidupan duniawinya karena kecintaannya kepada Tuhan. Bahkan untuk makan saja, ia menolak, karena makan terasa begitu duniawi dan memuaskan nafsu semata. Ini adalah kisah mengenai perjalanan seorang sufi yang mencari Tuhannya. Diceritakan bahwa ia mengembara kemana-kemana untuk menemukan Tuhannya. Meninggalkan kenyamanan semu sampai akhir hayatnya. Gilaaa! Mana ada orang kayak gitu di zaman sekarang ini!
FYI, gw juga seorang sufi (suka film). Hehe. Untuk menggenjot sisi rohani dalam diri, silahkan baca buku ini. Sama seperti tema yang diusung, buku ini universal.

Comments

Raffaell said…
Aku juga pernah baca tentang buku orang gila ini, hahaha
mynameisnia said…
Bagus kan.. bagus kan...?

Popular Posts