Skip to main content

Kuku Falsu

Ditengah-tengah kesibukan saya menonton ulang dvd konser Incubus di Red Rocks (harap maklum, mungkin tema 'pengangguran' akan terus berulang di postingan selanjutnya), saya iseng melakukan nail done dengan memakai kuku palsu yang saya dapat dari pembalut. Boleh juga idenya, wahai pembalut.
Dengan 12 kuku palsu (mungkin jari yang berjumlah 10 sudah tidak zaman, atau selama ini jari yang jumlahnya 10 hanya saya saja?) dan sebuah lem berbentuk pasta, saya memalsukan kuku saya. Ternyata mengerikan ketika kuku kita harus diberi lem yang tidak jelas kandungannya. Apalagi ketika saya baca lebih lanjut, disana tertulis 'CAUTION: FLAMMABLE MIXTURE, DO NOT USE NEAR HEAT OR FLAME USE WITH ADEQUATE VENTILATION. KEEP OUT OF REACH OF CHILDREN' yang mengingatkan saya pada kompor portable.
Ok, hasilnya adalah seperti ini. Hanya dengan beragam pencahayaan, citra kuku palsu pun bisa berubah. Yang semula seharusnya menjadi baik, malah berubah menjadi mengerikan. Cocok menggaruk orang terkasih ketika ketahuan selingkuh.



Baru beberapa menit pakai kuku palsu yang ternyata sangat amat menghambat, beberapa buku saya pakai acara jatuh segala dari rak buku dan ini semakin mempersulit gerak gerik membereskan buku. Beberapa ide lainnya saya lakukan yaitu mengupil, mengetik, bermain piano, menggaruk, bahkan mematikan tombol monitor komputer susahnya minta ampun!
Selanjutnya, saya pikir proses pencopotan kuku palsu ini mudah, ternyata menakutkan karena saya ngeri ketika saya copot kuku palsu ini, yang aslinya ikutan. Ya... walaupun salah sendiri juga sih iseng-iseng pakai kuku palsu, ada dua hikmah yang bisa saya ambil: 1) pernah mencoba kuku palsu dan, 2) bisa saya jadikan bahan tulisan di blog.
Saya bersyukur manusia menciptakan gunting kuku. Gimana ceritanya sih perempuan bisa french manicure kalau gerak atau mau makan ayam sambel terasi dan lalapan saja susah? Demi estetika, kok hidup ribet amat yak?

(Nia's journal)

Comments

JiMmY luVhaRa said…
masih mending kuku palsu ni.. coba kalau kuku macan ..tuh macan pasti minta balik lagi tuh kuku..

oia satu lagi.. hati2 pada penggunaan kuku palsu dapet mengakibatkan tekanan batin, impotensi dan gangguan janin jika di gunakan berlebihan.

just jokin .. dont be angry .. senyum dunk .. ^_^

jIMzSe
mynameisnia said…
Jika digunakan sambil merokok, mungkin iya.
mynameisnia said…
Jika digunakan sambil merokok, mungkin iya.
Erick S. said…
Hmm, kalo (maaf) cebok pake kuku palsu, kayanya ribet ya?
mynameisnia said…
Ah erick, katanya bule, pake tissue doommmss. Hehe.

Tapi ini tidak seberapa dibandingkan Marshanda yang pakai anting kuku. Dan beruntungnya, pada saat itu gue gak lagi ingin melakukan sekresi dalam bentuk apapun.
pushandaka said…
Nia.., hi!

Lama gak main ke sini..

Btw, tentang kuku palsu.., emang kuku aslimu kenapa? :p
Pake yang asli aja neng. Yang pasti, kuku asli lebih awet daripada yang palsu..
mynameisnia said…
Hey, udah lama gak kesini!

Gpp c, iseng aja pengen tahu rasanya pakai kuku palsu. Hehe.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…