Djenar dan Yang Maha Kecil

Untuk mengisi bulan puasa dan menunggu buka, saya memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku. Bukan sok pintar atau sok keren, karena membaca buku memaksa saya untuk berada di rumah, tidak keliaran di jalanan menghabiskan uang - apalagi saat ini saya pengangguran. Jadi, uang siapa yang bisa dihabiskan?

Novel pertama adalah Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek dari Djenar Maesa Ayu. Ramadhan dan membaca buku ini adalah kesalahan yang besar. Bukan karena buku ini diharamkan di bulan Ramadhan, tapi Anda tahu lah tema-tema yang diangkat Djenar. Ibarat film, buku ini mengandung nudity, violence, rude words, dan lainnya. Sulit membaca tanpa membayangkan. Semoga pahala saya tetap diterima oleh Allah SWT.

Sebenarnya ini bukan novel, melainkan kumpulan cerpen. Dibandingkan tiga karya sebelumnya, saya kurang suka. Rasanya novel ini hanya dibuat untuk mempertahankan eksistensi saja, bukan masterpiece, seperti Filosofi Kopinya Dewi Lestari. Tapi dari semua cerita yang saya suka adalah cerita yang berjudul Pasien. Saya betul-betul suka! Saya tidak bisa menceritakan disini karena akan sama saja dengan spoiler, apalagi ending-nya sebagai gong dari keseluruhan cerita. Untuk menambah pengetahuan membaca mengenai keberagaman literatur di Indonesia, dipersilahkan membaca ini. Buku yang sangat tipis, hanya 111 halaman. Tapi kalau bisa, jangan ketika Anda berpuasa.


Novel yang kedua adalah The God of Small Things (Yang Maha Kecil). Jujur, saya merasa sangat sulit dan susah sekali membaca novel ini. Diawali dengan karakteristik diri yang tidak menyukai untuk membaca review, kata pengantar, atau mendengar kata orang mengenai novel akan yang saya baca. Saya ingin membaca tanpa ada interpretasi dari orang lain, tanpa ada campur tangan pendapat orang yang sudah membaca.
Tapi ketika membaca novel ini, jeng jeng jeng jenggg... sulit sekali! Peratama, yang membuat saya sulit membaca ini adalah kekagetan saya dengan latar belakang atau perbedaan budaya dari novel ini. Novel ini dibuat oleh Arundhati Roy, seorang penulis yang berasal dari India, penulis perempuan pertama yang meraih penghargaan prestisius, rekor penjualan yang sangat tinggi, dan karyanya mendapat banyak sekali pujian oleh masyarakat Barat. Selama ini saya terbiasa dengan nama tokoh dan tempat ala Barat, tapi kini saya disajikan Ayemenem, Baby Kochamma, Ammu, dan ala India lainnya. Ini pertama kalinya saya baca novel yang dibuat oleh orang India.

Kedua, saya tidak mengerti dengan bahasanya. Awalnya saya mengira terjemahannya sangat buruk sekali, tapi setelah selesai dan membaca kata pengantar, disana disebutkan bahwa Arundhati Roy sering menggunakan metafora, permainan kata-kata, dan struktur kata yang rumit. Jangan-jangan, secara Inggris pun, novel ini sedikit sulit dicerna.

Ketiga, alur cerita yang tidak biasa. Mungkin selama ini pembaca Indonesia (atau saya) terbiasa dengan alur cerita yang lurus. Padahal alur cerita novel ini adalah alur cerita spiral. Alur diawali dengan kilas balik 23 tahun setelah kejadian utama berlalu kemudian bab demi bab berselang seling antara dua titik waktu yang dipisahkan selama 23 tahun. Setelah saya selesai membaca novel ini, saya tidak mengerti apa maksudnya. Barulah saya mencari pencerahan di kata pengantar yang ditulis Melani Budianta. Begini ringkasannya:"The God of Small Things menunjukkan bahwa komunisme maupun agama yang mengajarkan kesetaraan manusia - secara sosial maupun di mata Tuhan - ternyata sama sekali tidak mengubah sistem pembedaan manusia yang sangat diskriminatif dan patriarkis. Novel ini membahas mengenai masalah kasta, kemunafikan, gengsi, pelecehan perempuan karena budaya patriarki, kekerasan rumah tangga, kekuasaan yang terjadi dilakukan oleh orang yang berkuasa maupun rakyat kecil, terhadap laki-laki, perempuan, sampai anak-anak, dan homophobia. Tokoh Rahel dan Estha, sepasang anak kembar, hasil dari perkawinan antara Kristen Syria yang terhormat dengan pemuda Hindu lalu cerai (artinya: aib berlipat ganda), kedua anak itu tahu rasanya menjadi yang terpinggir, yang tidak berarti, yang sewaktu-waktu bisa kehingalangan segalanya. Tema keterpinggiran ini semakin mencuat ketika diletakkan dalam konteks potkolonial yang disimbolkan melalui tokoh Sophie Mol. Sophie Mol adalah gadis hasil perkawinan lelaki India dan perempuan Inggris. Ia menjadi pusat perhatian dan kebanggaan pemilik pabrik acar dan selai itu yang dipuja dengan sikap 'Anglofilia'. Gadis berwarna kulit putih seperti pasir, rambuh nyaris pirang, mata biru adalah kecantikan yang diidolakan, kecantikan yang berasosiasi dengan semua yang datang dari Barat (Inggris). Tokoh Pappachi, seorang ilmuwan terhormat dan santun di muka umum, adalah seseorang suami egois penyiksa berhati dingin istri dan anak perempuannya sendiri, dan lainnya."

Semua tema itu dibahas dengan baik dan digambarkan dengan baik melalui tokoh-tokohnya secara detail, berselang seling tanpa kehilangan benang merahnya, namun banyak menggunakan metafora sehingga saya kebingungan dan capek membacanya. Ulasan saya mengenai buku ini kurang baik tentunya, jadi sebaiknya Anda membaca langsung saja. Apalagi novel ini direkomendasikan dalam buku '1001 Books You Must Read Before You Die'.

Oh ya, mumpung ini adalah postingan pertama di bulan Ramdhan, bagi yang muslim, apapun cara Anda mengisi waktu berpuasa (selain ibadah tentunya), saya mengucapkan selamat berpuasa. Semoga amal dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Amen.

Comments

vendy said…
beberapa orang sempet berkomentar kalau "The God of Small Things" itu adalah kondisi India apa adanya. memang sih, alur waktunya ngejelimet banget...

kalau karya Djenar, coba baca tulisan dia yang berjudul "Jendela".

sebagian besar karya Djenar sih, not recommended buat bulan puasa =P
mynameisnia said…
Memang, betul-betul terasa kondisi India apa adanya. Eh btw, bahasa India tuh ada kategori feminim-maskulin enggak sih kayak jerman? Karena gw rada terganggu dengan istilah "Re-Returned", "Returned", atau kata-kata yang awalnya pakai huruf besar Seperti Ini.

Bingung.
Begy said…
This comment has been removed by the author.
Begy said…
saya juga suka PASIEN, rasanya dekat sekali dengan profesi kita (???!).

truz pas saya selesai baca HA..HA..HA.., langsung inget sama MENYUSU AYAH.

however, i love djenar.
macangadungan said…
wahhh... pengen baca...
tapi gue ga berani baca novel yang terlalu idealis. takut kecewa.
gue inget pernah baca "atap" dan "biru"... terlalu idealis. bikin jidat gue mengkerut.'

mungkin lebih seru baca karyanya Djenar daripada The God of Small Things, apalagi dengan istilah2 yg katanya rumit. jangan2 otak gue ga nyampe XDDD tapi tetep aja, baca referensi lo bikin guepenasaran buat baca.
JeNgKoLHoLiC said…
Dah lama gak ke gramedia .., lagi gak update ttg buku .. :D
mynameisnia said…
@macan: gw juga ada dosen yang rock on abis. kita share buku, komunitas, dan lainnya. wah.. bisa tuh sekali2 gw dipertemukan dengan dosen lo. pura2 kuliah disana kali ya? :D

@jengkol: ah, buku lama ini..
adit said…
Halo Nia, Gimana kabarnya nih? Udah lama euy ngga kedengeran kabarnya :) Aduh kalau baca buku yang susah dimengerti bukannya enakan ditutup terus tidur aja? he..he..he..
mynameisnia said…
@adit: Eits, Adit, masih idup aja nih? Hehehe. Ah, kalo ditutup, jadi makin enggak ngerti doms namanya... hehehe

Popular Posts