Skip to main content

Dull Flame of Desire

Saya baru melihatnya lagi - setelah sekian lama. Pemuda itu sudah tumbuh besar, beranjak dari remaja menuju dewasa. Saya memperkirakan berapa umurnya, apakah hanya terpaut beberapa tahun ataukah sama. Saya mempertanyakan statusnya, apakah masih sendiri ataukah berdua.
Saya tampak kecil disampingnya, tampak seperti kutu yang akan mati dalam sekali pitas. Mungkin saya memang kutu, karena disampingnya saya mati kutu. Tidak bisa bertanya bagaimana kehidupannya, bagaimana kabar orang tuanya, atau sekedar bertanya kabarnya. Saya termanggu sementara ia tertawa lepas, bercengkrama dengan teman-teman lainnya. Pemuda itu rupanya tidak memperhatikan ada seorang perempuan yang tidak bisa melepaskan pandangan darinya. Bersyukurlah, Nia. Karena jika ia menyadari dan mengarahkan pandangannya ke kamu, kamu akan gelagapan.
Sepertinya ia baru turun gunung karena hiking adalah kegemarannya. Tubuhnya besar karena otot, bukan lemak. Kulitnya menghitam, menggelapkan warnanya yang putih pucat. Wajahnya yang selalu murung - yang terlihat ia membawa beban keluarganya kemana-mana - kini berseri, mungkin ia sedang merayakan kebebasan yang baru dikecapnya dengan sangat.
Sementara waktu terus berjalan untuk memperhatikan seorang pemuda yang kini telah dewasa, saya bersenandung lagu Bjork dengan Anthony Hegarty, "I love your eyes, my dear. Their splendid sparkling fire. When suddenly you raise them so to cast a swift embracing glance, like lightning flashing in the sky. But there's a charm that is greater still. When my love's eyes are lowered, when all is fired by passion's kiss. And through the downcast lashes
I see the dull flame of desire.
"

[Memberi inspirasi cerita melalui makanan, silahkan lihat di: http://rlwriterscircle.blogspot.com]

Comments

Andika said…
Ini tentang Fadil ya, Ni? Boleh nyebut merek ga sih?
mynameisnia said…
Ah, persamaannya kan cuman 2: waktu dan warna kulit, jangan langsung digeneralisir, menimbulkan gosip, dan hubungan tidak enak ah. Jelas2 ini hikers.

Elo sepertinya menikmati suasana canggung dan tidak enak ya, Dik. Hahahaha.
raffaell said…
Ini tentang apa ya. sepertinya hanya kamu yang memahaminya, hehehehe
JiMmY luVhaRa said…
jimmy kira nia ngomongin jimmy (pede..pede.. hohohoho..) tapi pas baca yang ini "Tubuhnya besar karena otot, bukan lemak. Kulitnya menghitam, menggelapkan warnanya yang putih pucat" ternyata bukan deng .. hohohoho.. kalau di ganti mungkin gini "Tubuhnya besar karena lemak, bukan otot. Kulitnya putih, diantar rambutnya hitam nan gundul, di sertai dengan badan yang montok .. hahahaha.. piss ..
piss..
mynameisnia said…
@raffael: hey, sudah lama tak kemari! Ini bukan tentang apa atau siapa kok, i'm just pay attention.

@jimmy: emang nia ngomongin jimmy kok... hehehe.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…