Skip to main content

Prelude

Hari ini saya bertemu dengan Pak Christoper, seorang teknisi piano semenjak tahun 1985. Awal mula saya bertemu dengan beliau adalah saudara saya menitipkan pianonya untuk diperbaiki. Ternyata ketika piano dibuka, oh... ini sudah menjadi sarang tikus. Pak Chris mematok harga Rp. 475.000,- untuk membersihkan dan memperbaiki setiap nada. Sangat mahal, Bapak! Tapi akhirnya saya setuju dengan melihat kondisi piano yang sangat parah. Kasihan sekali Richard Mayers ini, dibuat dengan mahal namun hanya digunakan sebagai rumah yang nyaman oleh binatang pengerat.
Selama memperbaiki piano, saya dan Pak Chris mengobrol banyak sekali.

Pak Chris: Nia ya?
Saya: Iya.
Pak Chris: Asli sini?
Saya: Iya.
Pak Chris: Kuliah?
Saya: Sudah lulus.
Pak Chris: Oh ya? Ambil jurusan apa?
Saya: Psikologi.
Pak Chris: Oooo.. berapa tahun?
Saya: Empat.
Pak Chris: S-1?
Saya: Iya.
Pak Chris: Memang dari dulu sudah mau jadi psikolog?
Saya: Sebenarnya ini terjebak.
Pak Chris: Wah, memang dulunya mau masuk mana?
Saya: Sastra.
Pak Chris: Memang cita-citanya jadi apa?
Saya: Penulis. Tapi ternyata saya cocok di Psikologi.
Pak Chris: Cocoknya dimana?
Saya: Psikologi juga belajar filsafat dan saya suka hubungan antar manusia.
Pak Chris: Ooo.. gitu? Memangnya mau bekerja sebagai apa?
Saya: Idealnya sih, saya ingin kerja di LSM.
Pak Chris: Kenapa?
Saya: Enggak tahu, saya hanya merasa bahwa saya suka berhubungan dengan masyarakat yang dipinggirkan - seperti anak jalanan atau korban kekerasan. Skripsi saya dulu tentang HIV/AIDS, jadi saya penelitian di LSM.
Pak Chris: Sebenarnya tujuan kerja di LSM apa?
Saya: Saya sebenarnya ingin membawa tema-tema diskriminatif ke masyarakat luas, agar masyarakat memberikan dukungan.
Pak Chris: Oh, gitu. Sekarang kerja?
Saya: Belum, masih nganggur.
Pak Chris: Lalu, selama nganggur, ngapain saja?
Saya: Saya mengajar piano.
Pak Chris: Oh, bisa main piano ya.
Saya: Bapak ini dosen?
Pak Chris: Hahaha, kenapa bisa bertanya seperti itu?
Saya: Habisnya pertanyaan Bapak seperti dosen saya.
Pak Chris: Oh ya, Nia suka dengan pengembangan diri enggak?
Saya: Wah, belum kepikiran. Maksudnya gimana ya?
Pak Chris: Ya Nia ikut suatu kegiatan untuk mengembangkan diri.
Saya: Maksudnya seperti seminar atau pelatihan gitu?
Pak Chris: Iya.
Saya: Enggak.
Pak Chris: Saya mau tanya, menurut Nia, saya tipe kepribadiannya apa?
Saya: Saya lihat Bapak orangnya phlegmatis-sangunis ya. Bapak pintar memberi sugesti ke orang, pintar bergaul, dan Bapak orangnya optimis.
Pak Chris: Tahu enggak, saya tuh dulunya phlegmatis-melankolis. Saya bisa berubah bisa berbicara dengan orang lain ya karena Amway. Saya belajar merekrut orang.
Saya: OOO.. BAPAK IKUTAN AMWAY? Bapak mau memberi sugesti ya?
Pak Chris: Saya bukan memberi sugesti, tapi saya ingin berbagi keyakinan yang baik. Tahu enggak, ketika Nia belanja, Nia tidak akan miskin, melainkan sejahtera. Nah, coba lihat buku Bapak. Kira-kira Nia punya keinginan apa? Nia bisa keluar negeri gratis, bahkan bawa duit ketika pulang! Hanya Amway yang bisa seperti ini!

Oh, mampus. Saya terjebak oleh orang MLM yang sangat agresif ini, yang penuh basa basi dengan mulut yang berbisa. Rupanya semenjak awal ia mencoba mendekati saya untuk masuk ke dalam jaringnya. Ketika dia berbicara, saya terus melakukan pertahanan diri agar tidak tersugesti orang MLM ini. Oh, Tuhan. Ia berbicara tanpa henti. Apa yang harus saya lakukan?!
Beruntung Ibu saya memanggil karena dokter menelepon dan mempertanyakan mengenai hasil general check up Ibu. Saya diselamatkan oleh Ibu saya! (cerita lebih lanjut untuk general check up ibu, silahkan lihat disini)
Pada awalnya saya respek sekali dengan Pak Chris. Bagaimana tidak respek, saya bisa berbicara dengan seorang teknisi piano yang tidak bisa saya temui setiap hari! Saya bisa melihat bagaimana seorang teknisi piano mempreteli setiap elemen piano hingga berupa kerangka - hal yang tidak bisa saya lakukan dengan piano rumah karena saya akan dikubur hidup-hidup jika ketahuan. Tapi pandangan saya berubah ketika Pak Chris mempromosikan MLMnya.
Ah, andai saja Bapak tidak sebasi itu, akan saya tulis tentang Bapak di blog saya dengan sangat baik.

Comments

vendy said…
tema diskriminatif eh? gimana kabar gay yang kemarin itu? :))

btw, koq sastra?

*merasa senang karena ada yang senasib :D
Anonymous said…
Whahaha....
Welcome 2 d club...

mereka ada disekitar kita
-Bolehbaca-
mynameisnia said…
@vendy: kenapa sastra? sastra itu antik, ven! Hehehe.

@Tiwi: Yeah, of course. Thank you. Huhu.
vendy said…
dulu gw kepengen masuk sastra Inggris/Jepang, tp terjebak dengan iming2 semerbaknya dunia IT awal taon 2000...
mynameisnia said…
kalo gue pengen Jerman...

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…