Skip to main content

Womb-man

Manusia dengan rahim namanya perempuan. Bisa jadi awal dari kehidupan atau akhir dari kematian. Awal dari kehidupan terjadi jika melahirkan bayi sehat walafiat, menangis setelah keluar dari pejalnya dinding vagina, dan tumbuh dewasa. Itu namanya kehidupan. Akhir dari kematian terjadi jika kena kanker rahim, ada kista atau mium, tumor ganas atau kematian peran jika rahim harus diangkat. Itu baru namanya kematian.
Apa jadinya jika perempuan tanpa rahim? Apakah perempuan akan sama dengan laki-laki? Apakah perempuan masih ada manfaatnya lagi? Apakah kelebihan perempuan - selain mempunyai cadangan kasih sayang yang berlebih? Apakah suami akan meninggalkan perempuan tanpa rahim karena hubungan seksual dirasa tidak enak?
Rahim kadang menjadi anugrah dan kadang menjadi masalah. Anugerahnya adalah: wanita mendapat kehormatan untuk mendapatkannya. Masalahnya adalah: hadirnya janin yang tidak diinginkan dan rahim turut berkontribusi bahwa wanita dianggap tidak produktif atau terhambat.
Masalah yang dimiliki perempuan yang saya lihat di ruang USG pun sama: masalah penyakit rahim dan masalah gender. Ada sebuah tumor jinak dalam rahimnya dengan diameter 8.5 cm. Mungkin itu sudah sebesar kepala manusia. Disisi lain, ia pun dinyatakan positif hamil tiga bulan oleh dokter. Dokter merogoh vaginanya untuk melakukan USG dan ternyata janin menempel pada tumor tersebut. Dokter memutuskan untuk melihat perkembangan janin dan mengenyampingkan peluruhan.
Entah benar keputusan dokter atau tidak, perempuan itu pendarahan. Seperti yang saya lihat di kamar mandi, kencingnya berdarah. Gumpalan-gumpalan kecil berwarna merah hati keluar dari vagina, seperti makanan hati. Sementara itu sang suami malah enak-enak saja keluar kota. Katanya bekerja, ya... mungkin bekerja untuk mencari uang. Namun ketika sang istri menangis tentang sakitnya dan berpikir mengenai operasi, suami berkata, "Wah, enggak ada uangnya." lalu suami pun pergi ke luar kota, meninggalkan istrinya sendiri pulang pergi ke dokter, menangis sendiri di ruang pemeriksaan.
Perempuan itu berkata lirih kepada saya, "Saya ini punya suami atau tidak sih? Kadang merasa saya ini hanya seorang PSK. Di dalam rahim saya, ada anak dia!"
Sebelumnya saya tahu karakter suaminya. Tipe orang cuek. Tapi cuek bukan berarti tidak peduli, kan? Saya tidak mendiskriminasikan ia sebagai laki-laki namun saya tidak menyukai sifatnya. Kurangnya dukungan dan sifat tidak pedulinya membuat ia seperti 'cuci tangan' dari masalah ini.
Kini perempuan itu - dengan gejolak emosi yang sangat tidak stabil dan kondisi ekonomi karena operasi besar membutuhkan dana belasan rupiah- merasa mendapat musibah dari apa yang seharusnya menjadi anugerah. Sebuah rahim.

Comments

Vendy said…
aish. nasi udah jadi bubur. mau diseselin jg percuma.
mynameisnia said…
yang mana? yang mempunyai rahim atau kenap penyakit?

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…