Skip to main content

Bahasa oleh Putu Wijaya

Baru saja saya membaca majalah Tempo edisi Sumpah Pemuda. Saya baca semua halaman dari penemu Indonesia sampai catatan pinggir yang ditulis oleh Goenawan Mohammad. Tapi dari setiap lembar yang saya baca, saya menyukai tulisan Putu Wijaya yang judulnya Bahasa!. Sebelumnya saya mengalami kesusahan mencari ini di Google, tapi akhirnya bisa ditemukan. Saya merasa lega, karena saya bisa berbagi dengan pembaca:

ADAKAH perbedaan antara Sumpah Pemuda dan Soempah Pemoeda? Sumpah adalah ucapan, ikrar yang berisi janji, tekad, atau batasan-batasan yang apabila dilanggar, ada sanksi spiritual yang fatal. Biasanya berakhir dengan kematian yang kejam. Tak bisa dielakkan, tak bisa disiasati, tak bisa disuap.

Dalam dongeng, manusia yang melanggar sumpah bisa seketika jadi batu. Dimungkinkan terkutuk tujuh turunan. Para pelanggar sumpah bisa lahir kembali sebagai binatang. Kadang menzalimi dirinya dengan sadis, karena dorongan rasa bersalah. Ancaman yang disiapkan bagi pelanggar sumpah menyebabkan sumpah menjadi mengerikan. Bila hukum dan norma sosial tidak mampu menetapkan keadilan terhadap suatu perkara, ditempuh jalan sumpah. Di Bali dikenal persidangan adat dengan ”sumpah cor”, dengan cara menenggak air. Dapat dipastikan yang bersalah akan menemui kematiannya sesudah persidangan itu.

Dalam wayang, Resi Bisma bersumpah tidak akan kawin. Dia memegang teguh sumpahnya. Tapi kemudian Srikandi, titisan Amba, membunuh Bisma dalam Bharatayudha. Jadi bukan yang melanggar saja, yang memegang sumpah pun bisa kecipratan maut.

Dalam sejarah Indonesia, ada sumpah Palapa. Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan buah palapa sebelum bisa mempersatukan Nusantara. Dan dia berhasil.

Sumpah adalah ”perangkat lunak” yang angker. Karena tidak berani menjamin akan mampu tidak melanggar sumpah, orang takut bersumpah. Kalau tidak sangat terdesak, sumpah lebih baik dihindari. Jadi, kalau sampai ditempuh jalan sumpah, artinya memang gawat.

Sumpah di dalam Soempah Pemoeda dekat dengan situasi kritis tak berdaya. Tak ada jalan lain untuk bebas dari penjajah yang sudah bercokol ratusan tahun, kecuali bersumpah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. ”Ketidakberdayaan” ternyata sekaligus kedigdayaan yang mandraguna. Hasilnya konkret: Indonesia merdeka.

Apakah ”ketidakberdayaan” sumpah di dalam Soempah Pemoeda sama dengan sumpah di dalam Sumpah Pemuda? Apakah sumpah di dalam Soempah Pemoeda sama saktinya seperti sumpah dalam Sumpah Pemuda?

Sumpah di dalam Soempah Pemoeda adalah sebuah peristiwa dahsyat, sakral, dan transendental. Sumpah dalam Soempah Pemoeda merupakan tekad sekaligus ancaman agar tidak ada manusia Indonesia yang berani melanggar persatuan yang diperlukan untuk merenggut kemerdekaan. Segala perbedaan, baik agama, adat-istiadat, panutan ideologi, dan sebagainya, bergotong-royong demi cita-cita merdeka.

Adapun sumpah di dalam Sumpah Pemuda lebih kepada sebuah kegiatan seremonial untuk mengatasi segala kegalauan. Sebab, setelah merdeka, perbedaan mulai menimbulkan gangguan. Sumpah Pemuda menjadi peringatan tentang Indonesia yang satu, kendati jurang perbedaan vertikal ataupun horizontal semakin melebar dalam banyak hal.

Setelah 80 tahun, nilai sakral sumpah berubah menjadi terapi psikologis untuk menghalangi erosi kebangsaan. Seremoni jadi penting karena dapat mendamaikan perbedaan sesuai dengan slogan: Bhinneka Tunggal Ika.

Sumpah di dalam Sumpah Pemuda tidak lagi mengancamkan hukuman ganas. Yang melakukannya berada dalam keadaan yang sangat bebas, tidak tertekan, rela, dan suka. Sama sekali tanpa sanksi. Di sana kekurangan/kelemahannya tetapi di situ pula kekuatan/kelebihannya.

Para pelaku Soempah Pemoeda mengucapkan sumpah seperti sumpah-sumpah di dalam dongeng, karena impian merdeka lebih penting dari segala-galanya. Di era kemerdekaan, kemerdekaan bukan lagi yang terpenting. Yang lebih penting justru ”menjaga ketidakmerdekaan”, membatasi kemerdekaan, agar tidak menodai kemerdekaan sesama warga yang juga merdeka.

Di masa Soempah Pemoeda, pemuda adalah mereka yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka. Umumnya kaum muda usia. Sebab, hanya yang mudalah yang punya cita-cita lepas dari cengkeraman penjajahan, mengubah keadaan, menentukan nasibnya sendiri. Mereka bertindak bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk ideologi, agama, partai, kelompok etnik, kelas masyarakat tertentu, tetapi untuk cita-cita Indonesia.

Pemuda dalam Sumpah Pemuda berarti mereka yang memiliki semangat muda. Usia boleh gaek tetapi kalau menjadi anggota sebuah organisasi pemuda, dia tetap dianggap pemuda walaupun sudah ompong dan ubanan. Pemuda adalah mereka yang masih mencoba terus memikirkan kehidupan bernegara (baca: politik) di samping kepentingan pribadi dan kelompok atau golongannya. Pemuda berarti semua mereka yang aktif, tak peduli berjuang semata-mata untuk kepentingan tertentu, bahkan tak peduli kalau sama sekali tidak berpihak pada kepentingan bersama (baca: Indonesia).

Maka Soempah Pemoeda menjadi sangat berbeda nuansanya dengan Sumpah Pemuda karena konteksnya lain. Kini kita hidup di era Sumpah Pemuda, tetapi tak sedikit orang rindu ingin kembali ke masa Soempah Pemoeda.


Sebelumnya saya membaca mengenai Siti Sundari - seorang anak bangsawan yang meninggalkan bahasa intelektualnya (Belanda) dan bahasa ibunya (bahasa daerah) demi sumpahnya pada Sumpah Pemuda, yaitu menggunakan bahasa Indonesia. Di artikel itu disebutkan bahwa Sundari membutuhkan seorang penerjemah bahasa Indonesia dan ia terbata-bata ketika mengucapkan pidatonya mengenai anti poligami (poligami sudah menjadi issue perempuan semenjak tahun 1928, dan sekarang dengan suksesnya dikobarkan oleh Aa Gym yang mempunyai anak). Artinya bahasa Indonesia pada zaman dahulu bukanlah sebuah media yang menjembatani orang untuk berbicara, tetapi lebih dari itu. Ya, seperti yang disebutkan oleh Putu Wijaya, ada makna spiritual di dalamnya. Ada ribuan harapan akan kemerdekaan dan persatuan. Eh ... sekarang orang-orang malah berlomba-lomba pakai bahasa gaul. rEPp ya9h cMmnt aq, aq kHan syGss kMu!

Sekarang Sumpah Pemuda dikenang ketika upacara saja. Tidak usah jauh-jauh, saya juga demikian. Malah saya bertanya kepada teman saya, "Sumpah Pemuda itu tanggal berapa sih?"

Kurang ajar amat sebagai warga negara.

Beda sih, karena kini saya merdeka, tidak terbelenggu dan terpenjara oleh penjajah, jadinya saya bisa mengingat hari besar Indonesia sedangkal itu. Tapi sepertinya saya tidak sendirian.

Sedikit berbagi cerita. Ketika saya wisuda kemarin (28/10), saya mengenakan toga bersama ratusan mahasiswa lainnya. Suasana begitu khidmat. Kami berdiri serentak. Tiba-tiba paduan suara dan orkestra Kabumi (UKM kampus yang sudah mendunia) menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tanpa saya sangka, saya tergerak untuk menghayati esensi Sumpah Pemuda.

Comments

Begy said…
merinding euy baca paragraf yang di-bold itu...
mynameisnia said…
Katanya bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang bangga menggunakan bahasanya. Sementara SBY - ketika penyambutan ABG di Bali - menggunakan bahasa Inggris. Mengapa SBY tidak menggunakan bahasa Indonesia? Apa eksistensi SBY pada saat itu ada untuk orang luar negeri?

Gimana ya, sementara itu katanya kita harus modern-global-atau apalah namanya, otomatis harus menggunakan bahasa Inggris. Lalu bahasa Indonesia harus dikemanakan?

Kenapa TOEFL begitu terkenal tapi UKBI begitu jarang terdengar? (dalam koran Pikiran Rakyat 01/11 rubrik Khazanah).

Mengapa orang Indonesia begitu bingung dengan jati dirinya - seperti saya yang bingung mengapa saya mengomentari tulisan saya sendiri?
Anonymous said…
iya, kadang saya jengah ngeliat bahasanya anak sekarang, cuma mereka yang mengerti.
agak absurd sih karena kalo kelamaan, bisa jadi loh bahasa indonesia ilang,
jamannya kita tumbuh aja, bahasa gaol merajalela getoh (salah satu contoh)dan bikin pusing, pa lagi nanti jaman anak2 kita..hehehehe
saya sadar sih bahasa indonesia saya gak bagus dan gak baik, nyampur juga...tapi gak jauh lah dari esesi bahasa yang asli (hehehe...membela diri)

-bolehbaca-
vendy said…
saatnya untuk malu mungkin?
dialthespider said…
potret hidup pemuda indonesia sekarang..seharusnya kita harus lebih sering-sering lagi ' ber c e r m i n'
mynameisnia said…
@dialthespider: people is too afraid to look into the mirror - sometimes.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…