Mereka Yang Definitif

Sahabat saya yang bernama Yudo pernah berkata, "Semakin seseorang membenci orang lain, maka sifatnya akan semakin mirip dengan orang dibenci itu."

Awalnya saya tidak mengerti karena ia mengatakan kalimat itu ketika saya masih duduk di bangku SMP. Seiring dengan pengalaman bertemu dengan banyak orang, saya semakin mengerti. Saya mengerti apa yang dikatakan sahabat saya karena saya mendapatkan sebuah contoh di laboratorium hidup dan hasilnya benar.

Sebutlah seorang perempuan yang bernama X. Semenjak ayahnya meninggal, perempuan ini sangat membenci ibunya. Alasan ia membenci ibunya adalah ia yakin selama ini ayahnya menjadi tameng dari sifat buruk ibunya sehingga tidak pernah "terlihat" oleh anak-anaknya maupun orang lain. Ia yakin bahwa ayahnya meninggal dalam keadaan menderita dan stress karena ibunya yang selalu menuntut untuk punya uang padahal sang ayah tidak bekerja. Ibunya yang selalu memanjakan adik laki-laki yang sudah dewasa namun tidak bekerja, sementara X - si sulung - dituntut ini itu. Ia merasa disingkirkan oleh ibunya sendiri, merasa ditinggalkan, dan merasa tidak dianggap sebagai anak. Dan puncaknya ia berkata, "Saya benci ibu karena ia menginginkan uang tanpa ingin bersusah payah. Ia meminta ke orang lain, mengemis, dan mengasihani diri sendiri agar mendapat belas kasihan. Seperti yang sudah paling menderita saja!"

Saya manggut-manggut saja. Saya tidak berkata 'jangan seperti itu dong, dia kan ibu kamu' karena saya pernah tahu bagaimana rasanya membenci orang tua - terutama ayah. Di pertengahan tahun 1998, inilah puncak-puncaknya saya membenci sosok ayah. Saya tidak ingin bertemu, tidak ingin berbicara, tidak ingin melihat, sehingga saya memutuskan untuk benar-benar tidak ingin menemuinya. Begitu terus hingga SMA. Hanya berhadap-hadapan saja sudah membuat saya marah dan kesal karena sosok ayah menarik saya ke masa lalu ketika saya masih kecil. Disana saya diajarkan sebuah kekerasan emosional dalam bentuk amarah dan ketidakpedulian oleh seorang guru terbaik - ayah. Bahkan pada saat itu, saya enggan memanggilnya 'ayah' atau bahkan namanya saja. Saya hanya menyebutnya 'dia'.

Saya tahu saya dosa. Walaupun surga ada di telapak kaki ibu, tetap saja itu orang tua. Saya paling tidak suka ketika orang lain berkata 'gitu-gitu juga, dia ayah kamu' karena mereka tidak merasakan apa yang saya rasakan. Mereka tidak pernah berada di posisi saya. Saya butuh sebuah dukungan dan nasihat, bukan sebuah judgement kasat mata. Jika ada yang berkata seperti itu, saya akan menjawab, "Saya tidak minta dilahirkan. Dia bukan ayah saya. Dia suami ibu!"

Namun saya semakin tua sehingga saya harus mengerti bagaimana situasi keadaan keluarga pada saat itu dan semakin dewasa untuk menyikapi suatu masalah. Sekarang saya tidak membenci ayah - hanya kurang membicarakan tentangnya saja.

Sama seperti X, sifat saya semakin dekat dengan sifat ayah. Tanpa X sadari, sifatnya semakin dekat dengan sifat ibunya. Ia sering menceritakan bahwa ibunya merasa paling sengsara di dunia, begitu juga X. Jika saya bercerita tentang pengalaman pahit saya, ia selalu membalas, "Alaaah... kamu itu belum seberapa. Saya itu yang paling menderita. Kamu sih enak, saudara-saudara kamu banyak. Banyak yang mau bantu kamu. Nah, saya? Siapa yang mau bantu saya? Kamu itu belum ada apa-apanya."

Lain dengan X, kedekatan sifat saya kepada ayah tergambar jelas ketika saya SMP dan SMA. Saya mudah marah, saya mudah tersinggung, saya enggan dikritik, dan lainnya. Ibu sering bercerita bahwa sifat saya mirip dengan ayah. Disanalah saya sadar bahwa perkataan sahabat saya itu benar: semakin seseorang membenci orang lain, maka sifatnya akan semakin mirip dengan orang yang dibenci itu. Saya tidak mau mirip dengan ayah saya, sehingga saya merubah sifat saya. Kini keluarga yang tahu saya, mereka berkata, "Nia sekarang berubah ya. Lebih dewasa, tahu menyikapi masalah. Bukan dengan gelora amarah, tapi dengan akal sehat."

Kenapa? Ceritanya panjang lebar. Mungkin orang lain punya waktu untuk mendengarkan, tapi saya tidak punya kekuatan untuk membicarakan. Jika tulisan ini adalah cangkang, maka yang saya ceritakan hanyalah permukaannya saja. Sahabat saya itu adalah satu-satunya orang lain yang tahu masalah saya. Dia sering berkata bahwa sifat saya mirip dengan sosok ayah yang sering saya ceritakan. Bukanlah hal yang mudah mengemukakan suatu hal yang telah menjadi rahasia selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, saya menceritakannya melalui beragam metafora melalui media cerpen yang saya kirim lewat email. Saya merasa diselamatkan oleh sahabat saya dengan kalimat itu karena membuat saya sadar dan mengubah diri saya. Saya tidak bisa mengubah orang lain, saya hanya bisa mengubah diri saya.

Berbeda dengan X, ia tidak tahu tentang itu. Saya tidak bisa memberi tahu karena ia sudah dewasa dan sudah punya anak - yang mana seharusnya lebih bijak. Saya takut disangka kurang ajar.

Ini tidak bertujuan untuk membuka borok sendiri atau borok orang lain. Jujur, untuk menulis ini dan publikasi di blog, ada perasaan tidak nyaman dalam diri saya. Tapi saya harus keluar dari comfort zone itu! Saya ingin mengajak orang lain untuk jujur pada dirinya, menghadapi apapun masalah yang di dalam dirinya. Bukan dengan menyangkal atau menerobos dengan amarah. Jangan membenci orang lain karena kita tidak cukup sempurna untuk merasa paling benar. Lagipula saya pribadi percaya dengan karma. Dan siapa tahu, bagi pembaca yang sedang mengalami hal yang sama - yang semakin mirip saja dengan objek kekesalan, mungkin bisa merenungkan apa yang pernah saya lakukan: jangan pernah mau mirip!

Well, how do you know you're not broken if you're afraid to look into the mirror?

Comments

AnG9r4eN1 said…
ya katanya sih begitu
sama seperti ketika kita takut akan sesuatu, kita malah cenderung melakukan ketakutan kita itu..

apakah ini disebut law of attraction??
mynameisnia said…
Kalau nia sih cenderung tidak setuju dengan law of attraction karena seperti mengajarkan manusia dapat mengendalikan alam dengan pikiran.

Kayaknya bukan deh, ini hanya karena manusia tidak 'berkaca' sebelum menghakimi orang lain.
Bubble-pinkz said…
Saya jg seperti itu... Ga suka dengan cara bokap memperlakukan nyokap, apalagi dengan sifatnya yg gampang marah gitu... Cuma.. lama2 sifat saya jadi mirip bokap... Hmm.. dan lama2 saya jadi berpikir untuk lebih melihat kebaikan orang dibanding kejelekan org... Thx's yach buat sharingnya... membantu loh... hehehehehe...
vendy said…
"merusak itu gampang. menyembuhkan itu yang susah."
Begy said…
Hoh ternyata bukan saya saja yang mengalami hal seperti itu. Tapi sepertinya kemiripan itu hanya berlaku jika ada hubungan darah (misal benci sm ayah/ibu). Kalo ke complete stranger c keknya ga berlaku. Jadi, ga masalah ga suka/benci orang lain, asal jangan benci orang tua sendiri. Coz I believe that it is impossible to love, or at least, like every single person. Kalo ada yg ngaku gitu hipokrit namanya.
mynameisnia said…
Thank Lord, I'm not alone.
Anonymous said…
emhm gitu ya bun...
aku benci.benci sekali pada orang yang melakukan kekerasan yang melukai mamah.apapun yang dia lakukan meskipun hal itu baik, nampak biasa bahkan buruk dimata saya.
aku ga mau jadi orang yang paling aku benci saat ini. jadi aku ga boleh ngebenci dia ya???
sulit bun, apalagi luka yang sudah ia torehkan di hati mamah dan aku secara tidak langsung, meski mamah terus mencari alasan dan membelanya.eeuuuggghhh
ronis bukan, ketika aku mengkaji domestic violence sdgkn org terdekat ku mengalaminya.hany krn aku masih "cilik" dimata mrk, bukan "seseorang yang layak didengar karena kopetensi yang dipunya" (meski belum S,Psi).
tapi kalau udeh baca apa yang kata temen mu bilang, aku juga mu belajar ah...
mynameisnia said…
Hey, anonymous yang sepertinya nia tahu. He..

Iya say, kita bukan malaikat yang gak punya amarah. Tapi bener lho, karena orang tua - yang kata Begy lebih mungkin mirip jika ada hubungan darah - tapi secara logika memang iya, karena orang tua tempat kita belajar pertama.

Betul, sulit itu untuk tidak membenci orang apalagi dia melakukan kekerasan kepada orang yang kita sayang (nia jg ngalamin!).

Ngomong2 kamu yang suka dianggep anak kecil, ya terima aja. Karena sampai kamu gede pun, sampai kamu kerja pun, kamu akan selalu "anak kecil"-nya mereka.

Ya mdh2an post ini kembali ke tujuan awal ya yaitu berguna untuk orang yang juga mengalaminya.

Seperti kata Nietzsche, "You need chaos in your soul to give birth to a dancing star."
Erick S. said…
Pilih blogroll untuk nampilin kaya di blog gw. tinggal dimasukin url doang kok.
JiMmY luVhaRa said…
ah kalau saja saya bisa mengerti.. andaipun saya mengerti matahari dan bulan itu pasti mentertawai saya.. dimana peri kasih mu ??? entah lah ,, sahabatku bertanya dimana gerbang pintu itu..
mynameisnia said…
@jimmy: tersesat? kok nanya gerbang?
Anonymous said…
bener banget, karena gw juga berfikir seperti itu.
mynameisnia said…
Oh, ok. Welkom to the club, then.
Nina_da_oRy said…
saya gak suka nonton sinetron...krn gak suka ma artis2nya yg gtu2 aja....
kok saya gak mirip artis ya????

-NiNa- (kenalin org baru,,, hehhe) ^_^
mynameisnia said…
Jeng, ini kyai, bukan artis! Hehehe.


Welkom, then...
Muheinz is me said…
Alhamdulillah, untungnya saya tidak membenci ayah saya. Hanya ingin membunuhnya saja
Anonymous said…
yudo: dari smp yah? buset...lama amat yak ??
Nia Janiar said…
@Zein: Pernyataan kayak gini enaknya ditanggepin kayak gimana yah?

@Yudo: Yep.

Popular Posts