Skip to main content

Memperjuangkan Nasib oh Nasib

Saya pernah bertanya kepada saudara saya yang bekerja sebagai fotografer padahal dulunya kuliah sastra Inggris (dan sampai sekarang tidak kelar - padahal sudah menikah). Pertanyaan saya adalah, "Kenapa orang bisa menganggur padahal setiap minggu di koran banyak sekali lowongan pekerjaan?"
Saudara saya menjawab, "Lowongan pekerjaan memang banyak tapi posisi yang dibutuhkan hanya sedikit. Jadi persaingannya ketat. Apalagi banyak yang pendidikannya rendah, bersaing dengan pendidikan yang lebih tinggi. Pengalaman sedikit, bersaing dengan pengalaman lebih banyak."
"Tidak setuju. Karena banyak pekerjaan yang membutuhkan orang-orang yang berpendidikan rendah dan ada juga yang tidak berpengalaman. Tapi kenapa banyak pengangguran?"
"Mungkin malas mencari pekerjaan?"

Jawaban itu saya simpan hingga kemarin - ketika saya menghadiri job fair di ITB. Job fair ini hebat sekali, dihadiri oleh perusahaan-perusahaan besar terutama di bidang tambang dan minyak. Dan yang datang bukan orang Bandung saja, tapi dari Ciamis hingga Yogyakarta.

Saya apply ke P&G dan lolos di seleksi pertama. Ketika saya melihat list orang-orang yang lolos, wah ... mereka berasal dari universitas ternama dari ITB sampai UI! Sementara orang-orang yang lolos dari kampus saya hanya sedikit (atau yang apply sedikit?). Saya pikir, "Gila! Saya harus berkompetisi sama orang-orang ini!". Apalagi setelah menyelesaikan soal P&G yang begitu Inggris dan internasional. Oh, apa ini?

Memang ketika job fair ini penuhnya gila-gilaan. Masing-masing orang membawa puluhan lamaran dan ribuan harapan. Para sarjana muda dari universitas ternama ini sama saja seperti saya, sama-sama pengangguran. Mungkin dari ratusan orang yang datang ke sini, hanya beberapa orang yang diterima oleh perusahaan yang bersangkutan.

Apply lamaran, tidak ada panggilan, atau tidak lolos seleksi mungkin membuat orang lelah untuk melamar, jenuh, hingga akhirnya berhenti berusaha melamar pekerjaan. Apalagi ditambah lagi pikiran mengenai ketatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Apakah ini yang membuat manusia Indonesia banyak yang menganggur karena menyerah?

Semoga saya tidak menyerah karena saya tidak mau menjadi pengangguran. Saya kuliah 4 tahun bukan untuk berakhir di rumah untuk masak, cuci piring, dan lainnya. Memang kuliah untuk membentuk jalan pikiran. Tapi kalau ujung-ujungnya gitu, ya dari SMA saja saya berhenti sekolah.

Comments

Begy said…
wah serem sekali ya tampaknya dunia setelah universitas. apakah saya harus mempanjang status mahasiswa saya? (tidaaaaaaaaaak!!)

ayo nia, DON'T GIVE UP!!!

nothing is impossible (esp. in job seeking).

everything starts with a dream, so DREAM BIG! (no, I'm not Oprah or something).
Begy said…
oh, dan btw, yang diceritain di awal itu kakaknya fardin ya? hehe..
mynameisnia said…
Hehehe, iya... kok tahu?

Iyalah, harus semangat.
AnG9r4eN1 said…
ah, kadang-kadang ada juga yang HRD-nya terlalu ngawang kalo bikin kriteria...
udah lah, bikin perusahaan sendiri gitu ato ngelamar jadi IBU PENGUSAHA ato IBU PEJABAT...
hehehehe...
suami dapet, kerja gak susah, duit dapet....TENAR PULA.....
hahahahaha


stresssss sayahhhhhhhhhhh
Elys Welt said…
ayo ... tetap semangat ! never give up !
Begy said…
tau lah, fardin pernah cerita ko.
mynameisnia said…
@Tiwi: iya kalo si bapak pejabatnya mau? Hehehehe. Tiwi nih ah, diam2 stress.
vendy said…
No matter how great and destructive your problems may seem now, remember, you've probably only seen the tip of them ~ despair.com :D

*kabur
Erick S. said…
Lamar aja teroos. Kadang bukan karena kampusnya atau perusahaan, atau skill kita. Cewe gua tembus lamaran di perusahaan yang dia pilih di prioritas terakhir. Dan ternyata perusahaan yang dia incer malah kerjanya rodi banget, yang sekarang malah enak.
Sometimes life gets unpredictable when we thought it is predictable.
mynameisnia said…
Yah, entah itu dukungan atau apapun, terima kasih semuanya!


Uhuhuuhuhuhuhu...
macangadungan said…
wahh..penyakit yg baru pada lulus, susah nyari kerjaan.

semoga sukses ya!
mynameisnia said…
Thank you, can.. thank you!

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…