Signifikan

Manusia ada yang berubah dan ada yang tidak. Manusia berubah secara mental dan fisik bisa dilihat dari semakin dewasa, semakin pintar, semakin berwawasan luas, semakin tinggi, semakin besar, semakin berisi, semakin kurus, semakin feminim atau maskulin, dan lainnya. Ada juga manusia yang tidak berubah yaitu perubahannya tidak terlihat atau tidak signifikan.

Sudah sepatutnya manusia berubah karena teori psikologi mengatakan harus begitu. Manusia hidup untuk berkembang, bergerak maju ke depan. Jika diam di satu tempat atau malah mundur ke belakang, dikatakan suatu gangguan.

Tapi apalah arti teori psikologi jika saya berada di kuadran manusia yang tidak berubah atau berubah secara tidak signifikan? Saya masih Nia yang dulu: Nia yang tidak feminim, yang rambutnya masih ikal, yang kulitnya masih hitam, yang badannya tetap berisi, dan kurang bisa menjalin berkomunikasi. Oke, ada beberapa yang berubah dari saya yaitu saya menjadi suka membaca buku dan tentunya saya bisa mengontrol emosi saya - itu saja.

Di bulan puasa kemarin, pasti banyak agenda buka puasa bersama. Tidak melulu dengan teman-teman sepermainan, tapi juga teman-teman zaman sekolahan. Mereka berubah oh berubah. Yang tadinya ikal menjadi lurus, yang tadinya gendut menjadi kurus, yang tadinya culun menjadi gaul, yang dulu rambutnya pendek menjadi panjang, yang tadinya biasa-biasa saja menjadi rupawan, yang tadinya anak baik-baik menjadi nakal, dan yang tidak feminim menjadi feminim. Bahkan ada yang tidak bisa dikenali sama sekali.
Bukankah itu yang kita harapkan ketika kita reunian yaitu melihat perubahan-perubahan orang yang kita pernah kenal?

Alkisah saya bertemu dengan seorang sahabat ketika saya kecil. Kita suka main sama-sama dan berkunjung ke rumah masing-masing. Saya pernah main ke rumahnya - sebuah rumah besar di bilangan Dago. Saya tahu kedua orang tuanya, saya tahu kakak dan adiknya. Mereka adalah orang kaya raya yang mempunyai halaman luas dengan beragam mainan dan sebuah vila menjulang dengan kolam renang di Dago atas. Setiap minggu, ia dan mobilnya selalu menjemput saya dan teman-teman lainnya untuk sekedar nongkrong di cafe dan minum strawberry milkshake atau jalan-jalan ke mall. Ibunya kurang ramah tapi Ayahnya baik sekali. Pada suatu hari ketika saya main di rumahnya, ayahnya bertanya kepada saya, "Kamu sudah makan?"
"Sudah, Om."
"Makan apa?"
"Makan sayur asem."
"Lho?? Kenapa tidak pesan Hoka-Hoka Bento?"
Sangat tidak mungkin untuk saya berkata bahwa Ibunya yang menyuruh saya makan sayur asem. Selain masih kecil, pemikiran saya belum sepicik itu.

Setelah kelulusan sekolah, dia masih nelepon saya sampai berjam-jam. Sampai akhirnya (entah mengapa) ia bersumpah serapah tidak akan pernah berhubungan dengan teman-teman kecilnya ini.

Dan waktu terus berjalan sampai saya dan dia dipertemukan pada sebuah kebetulan. Oooo, dia cantik sekali. Rambutnya yang dulu keriting kini lurus sekali. Perempuan setengah bule itu terlihat cantik di balik gaun setengah panjang. Saya menyapa. Apakah ia menyapa balik? Tentu tidak. Mungkin ia lupa dengan teman kecilnya - yang dulu suka bermain tamagochi dan rumah barbie - dan kini hanya memakai kaos, celana jeans, dan sendal jepit. Atau mungkin saya tidak cukup berubah sesuai dengan perubahannya? Apakah saya harus feminim, meluruskan rambut saya, dan menginjeksi dengan vitamin C agar bisa terlihat olehnya?

Oh teman, mungkin saya tidak seperti kamu. Saya tidak punya baju-baju yang cantik atau tas-tas yang mahal. Saya tidak diberkahi kulit seputih porselain atau badan tinggi menjulang. Saya asli Indonesia - lahir di tanah Jawa - tidak ada darah orang asing. Tapi apakah itu alasan untuk kamu melupakan teman masa kecilmu sendiri?

Comments

stey said…
zbsaya malah kepengen ngumpulin semua teman masa kecil sampe sekarang..coz they mean a lot..
vendy said…
eleh eleh...
memori itu kan ga kayak microsoft word... virus prasangka jangan ditanggepin...
mynameisnia said…
@vendy: kayaknya ini bukan prasangka deh dan bukan hanya karena perasaan gue. Karena gue sudah melalui serangkaian pesan untuk mengingatkan deh.
mynameisnia said…
@stey: reunian ternyata tidak sekedar saling bertemu kembali, tapi memperluas jaringan.
raffaell said…
Yep, memang signifikan, berat badan nambah 4 kg selama lebaran ini...
Begy said…
i've been there, done that (be in ur position, not her). gondok bo..
Andika said…
For some reason I feel really identified with your childhood friend.

Bagi gua suliit ketemu sama temen yang udah lamaa, nggak ketemu. Apalagi kalau temen itu keliatan seperti sosok yang masih bisa gua kenali. Sementara gua sudah berubah menjadi sosok yang gua sendiri bingung, ini itu siapa?
macangadungan said…
wah... pedih deh punya temen kayak gtu
JiMmY luVhaRa said…
Taqabbalallahu minna wa minkum
(Semoga ALLAH menerima segala amal & ibadah kita di bulan Ramadhan)
Minal 'aidin wa faizin mohon maaf lair batin. send all sorry :D

Popular Posts