Nonsense

Terkadang, untuk menemukan hal-hal yang tidak masuk akal, manusia tidak perlu mengelilingi semesta hanya untuk mencari satu fenomena ganjil yang jarang dilihat di kehidupan nyata. Hal-hal yang tidak masuk akal lekat dengan kehidupan sehari-hari akibat dari percakapan secara lisan maupun tulisan yang artinya sulit dicerna atau diindentifikasi dan biasanya menimbulkan reaksi menggelitik pada hati manusia.

Contohnya saya membaca buku Laskar Pelangi sehingga membuat saya bertanya-tanya apa sih yang membuat buku ini bagus padahal isinya banyak menuliskan keangkuhan sang penulis mengenai pengetahuan yang dimiliki atau bahasa yang terlewat indah menurut sudut pandang anak kecil? Apakah yang membuat bagus adalah tema yang sangat mulia (menaikan martabat pendidikan Indonesia), warga Indonesia yang sudah jengah dengan teenlit atau marketing yang kelewat berhasil?

Mengapa Ikal dipaksa untuk menjadi peran utama sementara Lintang yang seharusnya dapat podium itu? Kenapa harus jumlah penonton Laskar Pelangi harus dibandingkan dengan Ayat-ayat Cinta yang notabene sama-sama film adaptasi dari novel yang sama-sama tidak masuk akal?

Mengapa manusia menyukai hal-hal yang ... nonsense?

Comments

Erick S. said…
Patokannya, kalau dalam satu dekade masih dibicarakan, baru teruji kualitasnya. Kalau hanya eforia sesaat, itu sih kerjanya tim marketing.
Begy said…
hmm.. don't u think u're being too cynical? most people praised them a lot, rite?

or is it actually a problem that lies beneath those prides in our society? (and somebody has to be worried and do sumthin bout it, unless they want this -as nia put it- "nonsense" society to exist and grow greatly).
mynameisnia said…
@erick: Satu dekade itu sepuluh tahun, kan?

@begy: Sebenarnya kalau dibilang saya sinis, ya mungkin. Tapi mungkin juga ini kritik saya untuk LP. Selain itu banyak orang yang tidak suka karena gaya bahasa penulis LP, salah satunya yang terbitkan di Khazanah - Pikiran Rakyat yang ada di blog ini:

http://cabiklunik.blogspot.com/2008/11/pertanyaan-untuk-laskar-pelangi.html

Maksud saya, yang ingin saya utarakan mengenai nonsense ini bukan masalah LP atau AAC. Tapi bagaimana masyarakat menyukai gaya cerita yang kelewat hebat sehingga menjadi tidak masuk akal.

Contohnya di LP, diceritakan dari sudut pandang aku yang masih kecil, kan? Nah, coba kalau kita bandingkan dengan karya To Kill A Mocking Bird atau Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran yang menggunakan aku sebagai tokoh utama - tapi bahasa yang digunakan begitu sederhana khas anak-anak.

Atau mungkin saya yang terlalu menyukai cerita-cerita berbahasa sederhana atau tokoh yang benar-benar sesuai dengan realita?
Anonymous said…
Absurdnya lagi, oleh media (http://id.yahoo.com/s/160334) kita dipaksa untuk peduli status keperjakaannya Andrea Hirata. Britney Spears banget kan.

Well, personally I think that nonsense is enjoyable and OK.:)

Andika
mynameisnia said…
Mungkin Begy bisa kenal Andika yang notabene orang writer's circle RL pertama yang mengobarkan sinisme ttg LP. Huehuehue.

Kidding ah.
Sundea said…
Ni, gue link, ya ...
mynameisnia said…
Okey, De.
Begy said…
waduh nia jadi grogi nih sampe mw dikenalin segala..

(nia: "apa seh beg..")

heuheu
Smaragdina said…
nonsense brings people joy, that's for sure ahahaha.

salah jaman yang lagi susah, orang pengen hal yang mudah dimengerti, mudah didapat biar bahagia.salah euforia pelangi-pelangian dan ayat-ayatan sampe orang mau percaya kalo hidup itu gak terlalu susah untuk dijalani, kalo masih ada harapan.

tapi yaaahhhhh...selama gak bikin masalah terlalu hebat, gpp lah buku-buku pelangi pelangi, bait-bait , kalimat-kalimat atau ayat2 itu beredar dan difilmkan. ahahah ( which is, heran apa masih ada yang mau baca?! )

gak masalah jadi sedikit synical...bagian dari kritis toh. Oya, salam kenal ^^ saya link blognya ya
mynameisnia said…
Makasih.. makasih..
jujur, gw belum pernah baca novel yang 'terkenal' itu.. tapi gw suka film nya karena bahasa yang mereka pake dekat dengan kehidupan gw, karena nyokap gw berbahasa melayu seperti anak-anak itu.

tapi abis baca tulisan lo, selain tokoh ibu guru yang mulia itu, gw juga baru nyadar kenapa Lintang ga jadi tokoh utamanya ya???

kalo boleh membela diri, dibandingkan dengan hal-hal yang nonsense gw lebih suka mimpi indah, meskipun mimpi itu juga kadang nonsense, he...
mynameisnia said…
Hehehe, beda doms. Kalau mimpi kan buat sendiri, jadi ke-non-sense-nya itu buat sendiri.

Lha, ini malah bagi-bagi. Wkwkwkwkw.

Popular Posts