Skip to main content

Serba Salah

Mulutmu, harimaumu - itu benar!
Kalau di blog mungkin jadi: tulisanmu (bisa jadi awal mula sangsakala kebangkitanmu), perangkapmu.

Akhir-akhir ini saya dicurigai. Maksudnya ketika saya mengorek informasi tentang seseorang atau sesuatu hal, orang sering berkata, "Mau ditulis di blog ya??" Kemungkinannya bisa dua: 1) Memang untuk bahan blog atau, 2) Untuk pengetahuan pribadi.

Saya suka berbagi, maksudnya saya suka menceritakan kembali apa yang saya alami. Mau jalan-jalankah itu, mau hasil berbicara dengan orang lainkah itu, mau hasil baca, hasil debat kusir, hasil bertengkar dengan orang lain, selama bisa dibagi - ya saya bagi. Dan tampaknya ada segilintir orang yang menikmatinya, kan? Terkadang ada beberapa teman yang berharap namanya masuk ke blog juga sih :D

Tapi mungkin ada segelintir orang yang tidak suka, entah karena dia masuk dalam topik blog atau tulisan plus pendapat yang saya kemukakan. Lama-lama saya merasa tidak enak. Mau gimana lagi, tulisan-tulisan ini bukan bohong. Ini hasil saya berinteraksi dengan orang lain.

Kalau dibilang saya terlalu banyak cerita (baca: banyak omong dan bocor) ya enggak juga. Karena saya kan bercerita atau berpendapat sampai batas aman. Sama atau beda pendapat kan wajar, namun terkadang ada saja yang ngomel dibelakang kalau saya sok tahu, sok pintar, sok ngerti, sotoy, siomay, atau apalah. Dan bukankah manusia memiliki hak untuk mengemukakan pendapat? Lama-lama, yang namanya blog (milik siapapun) kalau terlalu kritis dan membahayakan masyarakat dan permerintah, bisa-bisa ditutup juga deh.

Kalau begini terus, kalau semua orang yang saya tulis di blog ini tahu (walaupun nama tidak ditulis dan orang lain pun tidak akan tahu) saya bisa dirajam mungkin. Padahal - seperti kata Nietzsche - talking much about oneself can also be a means to conceal oneself.

Atau saya harus menghindar dari topik sensitif seperti ras, agama, budaya, kekerasan rumah tangga, gender, karya orang lain, dan lainnya. Komentar baik-baik, tidak pedas, tidak menyinyir, tidak mengkritisi, tidak bertanya, dan lainnya. Semuanya dong?

Coba, tolong, ini harus bagaimana?

Comments

vendy said…
"bebas dan bertanggung jawab" versus "emoh disinggung"

gimana kalo "tulis diam-diam" :))
Begy said…
ato pake inisial? ah tapi tar kayak tersangka di berita2 kriminal.. heuheu..
Anonymous said…
emang susah sih pasti keluar idealis.. "ini khan blog saya, gimana saya donk". haha :D

inisial memicu keributan juga. kalau saya lebih amannya, vacum menulis untuk publik,,, setelah reda.. mari berbagi lagi. ^^

alhasil menulis untuk diri sendiri dan berbagi untuk orang yang dipercayai dan yang mau dibagi hehe ^^
Sundea said…
tetep nulis, Ni, tau apa yg boleh ditulis dan enggak itu dari latian. Makin sering nulis, makin tau proporsinya. Jadi jangan sampe brenti nulis, ya ... ^_^
Anonymous said…
ada sih kasus yang blognya sempet di tutup karena terlalu "keras" dalam menulis, tapi...balik lagi kalo mau beralasan HAM...

ini kita kok yang nulis, otomatis kita yang bertanggung jawab..walau tetep ada batasan khusus mengenai suatu topik...

oh, iya...kok aku gak masuk2 cerita di blog ibu sihhhh???
hehehehe
pengen banget eksis....

hheheheheheheheh

-bolehbaca-
Bubble-pinkz said…
Bukannya kita nulis di blog karena kita pengen nulis semaunya...

Buat saya yang amat sangat ga bisa ngejaga mulut, mending ngoceh2 di blog..

Urusan menyinggung atau ga mah urusan belakangan... Toh blog juga blog kita... Kita bebas mengekspresikan apapun jg kan... hehehehehe...

Semangat!!!
mynameisnia said…
Tapi gimana ya, jeng bubble, sepertinya membuat blog pun kita harus memikirkan yang baca. Intinya, menulis untuk pembaca, layaknya menerbitkan sebuah buku.

Itu yang membuat saya dilematis.

Tapi ya sudahlah, terima kasih ya untuk semangat2nya, semuanya!
Bubble-pinkz said…
Hooo... Blog mba nia banyak yg baca sech yach... Kalo saya mah nulis blog mang buat konsumsi pribadi doank... hehehehehe... Ada yg baca ya bagus, ga ada yg baca ya ud.. gpp.. hehehehe...

Makasih yach ud comment di blogku...

Tetap semangat!!

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…