Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2009

Labirin Birokrasi

Mungkin saya tidak belajar ilmu pemerintahan, namun izinkan saya menulis ini, wahai para ahli.

Saya baca di koran mengenai berita trafficking. Diujarkan bahwa salah satu faktor terjadinya trafficking adalah bobroknya birokrasi. Mungkin maksudnya birokrasi di Indonesia terlalu berbelit-belit sehingga untuk mengurus trafficking harus melalui jalur-jalur tertentu yang terkadang tidak mencapai tujuan. Hemat saya, birokrasi Indonesia seperti labirin.

Misalnya ketika akan lulus kuliah, saya harus mondar-mandir kampus bermedankan pegunungan hanya untuk memenuhi panggilan birokrasi oh birokrasi. Salah satunya, saya harus pergi ke BAAK yang notabene ada di bagian bawah kampus padahal transkrip nilai bisa di dapat dengan mudahnya di TIK yang notabene ada di depan kantor jurusan.

Dengan maksud sistematis, birokrasi di Indonesia sepertinya tidak efektif dan memakan biaya banyak. Misalnya ketika saat ini masa berlaku KTP saya habis, saya mendapatkan informasi dari ibu saya bahwa mengurus KTP membutuh…

The Extreme Euphoria

Jujur, ini berita paling aneh yang saya dapat dari koran Kompas, ketimbang surat pembaca yang berisi keluhan rambut yang tidak lurus-lurus.

Syukuran atau selametan atas dilantiknya Barack Hussein Obama menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) yang digelar di SDN Menteng 01, Jakarta Pusat, Rabu (21/1), dihadiri Duta Besar AS Cameron Hume dan Wali Kota Jakarta Pusat Sylviana Murni.

Acara ini juga menjadi ajang reuni alumni SD tersebut, khususnya teman sekelas Barack (Barry) Obama. Seperti diketahui, pada paruh pertama tahun 1970-an, Obama tinggal dan bersekolah di Jakarta, persisnya di SDN Menteng 01 di Jalan Besuki, Menteng. Pada tahun 1973, Obama meninggalkan Jakarta untuk tinggal bersama neneknya di Hawaii.

Sajian pada syukuran tersebut berupa jajanan murid SD di tahun 1970-an seperti aneka jajan pasar dan gulali. Sedangkan hiburan yang ditampilkan adalah gambang kromong yang dibawakan dengan apik oleh para murid SDN Menteng 01. Puncak acara syukuran ini adalah pemotongan tumpeng.

Ketua pan…

The Gay Science

Kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan pada diri saya saat ini membuat saya begitu sensitif. Misalnya kemarin, ketika saya nonton bareng The Bubble (review sudah saya tulis di Psigoblog) bersama dua orang teman baru writer's club. Mereka berpendapat bahwa film dengan tema homoseksual ini begitu vulgar dan hedonisme. Vulgarnya tidak menyeni, begitu selera barat, dan tidak sesuai dengan budaya timur - ujar mereka. Singkatnya, mereka tidak suka film The Bubble. Dari pernyataan mereka, sepertinya mereka tidak terbiasa nonton film seperti ini.

Seharusnya perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah namun saat itu saya tidak bisa kompromi. Saya pikir mereka ini naif sekali. Saya tanya ke mereka contoh film yang vulgar menyeni itu seperti apa, tapi mereka tidak bisa menjawab. Saya bilang ke mereka bahwa orang Indonesia yang katanya tinggal di timur saja gaya hidupnya sudah kebarat-baratan, mereka tidak bisa membalas untuk memuaskan argumen saya. Maksud saya bukan membenarkan apa yang saya …

Pertanyaan Untuk Para Seniman

Saya baru pulang dari Jogja, melarikan diri dari semua deru dan debu yang menerjang. Disana, saya berpapasan dengan seorang seniman yang melukis di depan Istana Negara. Tidak jauh dari tempat ia melukis, ada demonstrasi para wartawan (beritanya ada di harian Kompas). Seniman ini melukis tentang Palestina di canvas yang begitu besar. Ketika hujan pun, ia tetap melukis.

Disini, saya timbul pertanyaan. Setelah itu, lukisannya mau diapakan?

Beberapa hari sebelumnya, saya menonton acara Kick Andy yang menghadirkan pembuat komik strip di koran Kompas minggu. Salah satunya adalah Dwi Koendoro yang membuat Panji Koming. Ia bercerita bahwa ia bebas mengemukakan pendapatnya di zaman reformasi ketimbang zaman orde baru. Kebebasan itu seolah-olah seperti orang yang sudah lama menahan muntah: bermunculan beragam kritik tajam di karyanya.



Saya jadi bertanya. Setelah mengkritik, lalu mau apa?

Pertanyaan saya bukan pertanyaan sok mengkritisi profesi seniman, tapi ini berupa pernyataan naif tentang profes…

Revolusi Besar Di Dunia Yang Kecil Dan Sederhana

Saya mendapatkan sebuah pinjaman buku dari teman yang saya impulsif namun saya sayangi, Andika, disaat yang sangat tepat. Ia datang ke rumah dengan sebuah buku berwarna hijau dengan design cover yang sederhana. Buku itu berjudul Revolusi Iran: Dongeng Seorang Anak karya Marjane Satrapi.

Ini adalah buku komik sederhana yang bercerita tentang revolusi Islam di Iran dari sudut pandang seorang anak kecil. Bahasa yang digunakan sangat ringan, menggelitik, namun tetap tidak menghilangkan nilai historisnya. Satrapi, seorang anak yang menyaksikan munculnya ekstrimis-ekstrimis di Iran yang ditandai dengan jilbab panjang pada perempuan dan jenggot kelewat tebal pada laki-laki. Disini diceritakan keluarga Satrapi yang modern namun religius sebagai golongan yang menolak revolusi Islam.

Membaca buku ini sangat pas dengan pertentangan Israel dengan Hamas di Jalur Gaza yang sedang hangat-hangatnya. Bagi saya, Satrapi seolah-olah menggambarkan keadaan anak-anak di Palestina sekarang yang tumbuh dan ber…

The Consciousness

Ketika membaca surat kabar, saya membaca rubrik Surat Pembaca. Isinya seringkali berupa keluhan, kekecewaan, ucapan terima kasih, tanggapan, atau pemberitahuan. Indonesia sekarang sudah menjadi negara bebas untuk mengemukakan pendapat, sehingga orang harus berhati-hati dalam bertindak karena jika tidak, namanya akan tercoreng di Surat Pembaca. Cukup bermanfaat untuk memberikan info, memberikan saran, meningkatkan kewaspadaan, dan lainnya. Tapi mungkin surat pembaca juga mungkin cukup bermanfaat untuk menggambarkan self-esteem atau kepribadian seseorang.

Sebuah surat pembaca melayang ke koran Pikiran Rakyat.

NAMA saya Sari. Rambut saya diluruskan di Anata Salon, seharga Rp 560.000,00. Pertama saya tidak ngasih uang tips kepada yang mengerjakan pelurusan rambut saya. Rambut saya panjang dan mengembang. Setelah rambut saya selesai diluruskan , saya dianjurkan agar selama tiga hari jangan keramas dulu. Saya pun tidak keramas selama tiga hari.

Memang seharusnya kalau setelah rambut diluruskan…