Skip to main content

The Consciousness

Ketika membaca surat kabar, saya membaca rubrik Surat Pembaca. Isinya seringkali berupa keluhan, kekecewaan, ucapan terima kasih, tanggapan, atau pemberitahuan. Indonesia sekarang sudah menjadi negara bebas untuk mengemukakan pendapat, sehingga orang harus berhati-hati dalam bertindak karena jika tidak, namanya akan tercoreng di Surat Pembaca. Cukup bermanfaat untuk memberikan info, memberikan saran, meningkatkan kewaspadaan, dan lainnya. Tapi mungkin surat pembaca juga mungkin cukup bermanfaat untuk menggambarkan self-esteem atau kepribadian seseorang.

Sebuah surat pembaca melayang ke koran Pikiran Rakyat.

NAMA saya Sari. Rambut saya diluruskan di Anata Salon, seharga Rp 560.000,00. Pertama saya tidak ngasih uang tips kepada yang mengerjakan pelurusan rambut saya. Rambut saya panjang dan mengembang. Setelah rambut saya selesai diluruskan , saya dianjurkan agar selama tiga hari jangan keramas dulu. Saya pun tidak keramas selama tiga hari.

Memang seharusnya kalau setelah rambut diluruskan, jangan keramas dulu selama tiga hari? Setelah dikeramas, rambut saya kembali seperti semula. Tidak lurus dan tetap mengembang.

Saya datang lagi ke salon Anata untuk komplain, "Kok, rambut saya balik lagi ke semula?" Terus kata pihak Anata Salon agar diulang lagi saja. Ada garansi, kata pihak Anata Salon. Rambut saya diulang diluruskan lagi. Saya bayar Rp 35.000,00 dan memberi uang tips Rp 10.000,00. Jadi, totalnya Rp 45.000,00. Selesai diluruskan, seperti biasa saya nurut tidak keramas selama tiga hari.

Eh, ternyata rambut saya tetap mengembang dan tidak lurus. Saya datang lagi ke Anata Salon. Kan, rambut saya ingin lurus, kenapa mesti mengembang? (Anata Salon, harus perawatan dulu). Saya melakukan perawatan di rumah selama satu bulan memakai Elips hair vitamin dan keramas pakai sampo Dove.

Lalu, saya datang lagi ke Anata Salon, diluruskan lagi dengan membayar Rp 35.000,00, dan memberi uang tips Rp 10.000,00 yang totalnya Rp 45.000,00. Karyawan yang meluruskan rambut saya semuanya cowok. Akan tetapi, setelah keramas, kembali lagi mengembang dan tidak lurus. Malah rambut saja jadi rusak, patah-patah, dan rontok.

Saya sangat kecewa rambut saya diluruskan di Anata Salon. Padahal, rambut saya ingin lurus dan tidak mengembang. Hasilnya pun pengen bagus, makanya saya datang ke Anata Salon. Anata Salon kan gedungnya megah. Harga pelurusannya pun mahal, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan gedung yang mewah dan harga pelurusan yang mahal.

Kurang lebih satu bulan setengah yang lalu, (rambut) saya diluruskan di Anata Salon, Jln. Astanaanyar No. 49 C, Bandung, Telefon 022-4205656.


Sebelumnya saya mempertahankan pendapat saya mengenai penampilan. Ceritanya saya pernah nulis di status Facebook bahwa saya ingin berolahraga karena teman saya akan datang ke Indonesia. Di samping postingan itu bercanda, saya memang melakukan olah raga. Lama-lama saya lucu sendiri, kok saya olah raga demi apa kata orang lain? Teman saya bertanya apakah prosesi membentuk tubuh itu berhasil, saya jawab saya sudah tidak olah raga dan pasrah saja.

Teman saya bilang, "Kalo memang penilaian orang itu positif dan bagus buat diri kita sndiri, why not? Kan orang lain lebih bisa menilai tampilan kita lebih objektif."

Saya jawab, "Masalahnya gue nyaman dengan diri gue sendiri."

Dan ia menjawab lagi, "Well, if it suit u, that's great. Tp kamu harus bisa ngebedain yg namanya keukeuh karena nyaman dan percaya diri dibanding dengan keukeuh karena males atau egois sehingga muncul pembenaran argumen subjektif."

Saya terkesima. Saya pikir kepercayaan saya terhadap diri saya itu baik buat saya. Tapi ternyata ada asumsi egois. Saya heran, betul-betul heran. Ini ada orang punya kepercayaan bagus kok malah tidak didukung. Di psikologi, seorang psikolog (atau orang lain) mengubah mati-matian jalan pikir seseorang yang punya masalah dengan body image. Ini kok?

Tapi tidak mengapa karena ia mencoba memberikan saya sudut pandang yang baru. Terima kasih, Man!

Balik lagi ke surat pembaca. Kenapa orang harus bersikukuh meluruskan rambut? Jika sudah takdirnya keriting dan mengembang, kenapa harus lurus sampai mengeluarkan uang segitu banyak dan menyampaikan keluhan terbuka di surat kabar? Apakah Sari tidak percaya diri dengan rambutnya? Apakah Sari begitu memikirkan apa yang dikatakan orang lain atau memikirkan penampilan? Apakah Sari ... apakah Sari?

Jelas jika Sari membaca ini, postingan ini hanya bercanda. Hanya ini lucu saja.

Comments

Anonymous said…
Hah! Gw juga baca ini di pe-er! Karikatur yang jadi ilustrasi surat ini lucu banget. Well, gw juga akan menulis ke surat pembaca kalo usaha gw meluruskan rambut dengan mengeluarkan duit lebih dari setengah juta juga gagal.

Andika
Begy said…
Hahaha Beg juga baca surat yang ini di PR! Antara geli dan prihatin sebenernya. Mungkin Mba Sari itu lagi bosen aja sama rambutnya yang mengembang, Ni...
mynameisnia said…
@Andika: Mungkin elo akan berpikir dua kali sebelum menghabiskan jutaan rupiah demi pelurusan rambut. Hehe. Lebih mending 160 dvd bajakan, kan?

@Begy: Dicukur 35rb pasti langsung kelar. Hehe.
Erick S. said…
Hmm kayanya boleh dicoba tuh... sayang gw ga berambut...
Avante said…
Ditinjau dari sudut untung rugi, menurut gw hal yang wajar konsumen yang sudah dirugikan menulisksn perihal kerugiannya di surat pembaca...

Kita tidak bisa melarang dia memiliki rambut lurus bila hal itu ternyata menguntungkan dia sebagaimana menyuruh kamu berolahraga kalau ternyata hal itu malah merugikan kamu :p

Btw long time no see this blog, Senang punya kesempatan tuk kembali berkunjung.
AHEAD said…
jadi diri sendiri itu enak, tapi kalo tidak percaya pada diri sendiri bahwa kita dapat terlihat unik dan bagus di mata orang, itu yang bikin seseorang mengubah penampilan.

Untuk jadi diri sendiri butuh keberanian.
dendi said…
mungkin waktu kecil si Sari sering dikeramasin pake baking soda, makanya walo sudah direbonding, tetep aja rambutnya mengembang hehehehe....

nice blog


salam kenal juga
dia lagi naksir cowok kayaknya. ampe bela"in lurus"in rambut. tapi salonnya juga gak bener tuh. klo emang gak bisa, kan mestinya bilang dari awal..
macangadungan said…
oke... maaf aja, tp itu mungkin surat pembaca yang terkonyol yang gue baca
harusnya si tukang salon ngomong aja... tingkat keberhasilan ngelurusin rambut emang tergantung ama kesehatan dan tekstur rambutnya...

atau sekalian aja, emang kehendak Tuhan. hehehe....
mynameisnia said…
@Erick: Perihal rambut lo pernah jadi dibicarakan di klab. Hehehe.

@Avante: Well, sering2 lah kemari :D

@Ahead: Betul!

@Dendi: Wah... parah nih commentnya :))

@macan: Wakakakak... kehendak Tuhan, ada2 aja!
Anonymous said…
Telat banget ya Mbak Nia komennya. Baru baca soalnya. Hehe.
Saya salah satu penggemar tulisan-tulisan Mbak Nia, tentu sepaket dengan pemikiran-pemikiran Mbak Nia dalam tulisan.
Tapi kenapa ya kok saya kurang senang sama tulisan yang ini.
Kesannya seperti menertawakan orang.
Menurut saya pribadi, mau berlaku seperti apapun orang pada dirinya, selama tidak menganggu orang lain, itu tidak masalah. Urusan dia ingin tampil cantik atau apapun, terserah dia. Mungkin itulah dirinya. Dia yang sebenarnya, yang sangat ingin tampil cantik dengan rambut lurus. Mungkin dia ingin merasakan menjadi perempuan berambut lurus, yang menurut dia lebih menarik.
Dan, saya setuju sekali dengan pendapat teman Mbak Nia tentang keukeuh karena egois. Menampar diri saya sendiri juga.Haha

-Adel-
Nia Janiar said…
Halo Adel,

Makasih yaa udah meninggalkan comment. Hehe. Saya jadi balik lagi ke sini dan baca tulisan tahun 2009, yang notabene 6 tahun lalu, yang jalan pikirnya berbeda kalau dibandingkan sekarang.

Saya setuju sama Adel kalau tulisan ini terkesan menertawakan. Mungkin saat itu pikirannya adalah biasanya surat pembaca memuat masalah2 serius, bukan masalah "tidak penting" daripada penampilan. Jadi, terkesan menggelikan.

Betul kata Adel kalau ya terserah dia mau bagaimana, apalagi kalau dia mau eksperimen atau dia nyaman dengan rambut lurus. Kalau gagal kan uang dia yang hilang. Dan tidak ada kata kalau dia melakukan itu untuk memuaskan orang lain.

Sebenernya maksud tulisannya ingin menekankan tentang penerimaan diri apa adanya, tanpa harus mengubah apa dalam diri--apalagi sampai nerima pengalaman buruk seperti hilang uang atau rambut rusak.

Begitu, Adel. Terima kasih yaa sudah main-main ke sini. :)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…