Skip to main content

The Gay Science

Kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan pada diri saya saat ini membuat saya begitu sensitif. Misalnya kemarin, ketika saya nonton bareng The Bubble (review sudah saya tulis di Psigoblog) bersama dua orang teman baru writer's club. Mereka berpendapat bahwa film dengan tema homoseksual ini begitu vulgar dan hedonisme. Vulgarnya tidak menyeni, begitu selera barat, dan tidak sesuai dengan budaya timur - ujar mereka. Singkatnya, mereka tidak suka film The Bubble. Dari pernyataan mereka, sepertinya mereka tidak terbiasa nonton film seperti ini.

Seharusnya perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah namun saat itu saya tidak bisa kompromi. Saya pikir mereka ini naif sekali. Saya tanya ke mereka contoh film yang vulgar menyeni itu seperti apa, tapi mereka tidak bisa menjawab. Saya bilang ke mereka bahwa orang Indonesia yang katanya tinggal di timur saja gaya hidupnya sudah kebarat-baratan, mereka tidak bisa membalas untuk memuaskan argumen saya. Maksud saya bukan membenarkan apa yang saya lihat di film itu, tapi maksudnya adalah bagaimana pikiran seseorang bisa terbuka dengan dunia global namun tetap bersikap lokal. Misalnya untuk meneliti tentang seks bebas, kita enggak perlu ikut-ikutan seks bebas, kan? Untuk meneliti tentang HIV/AIDS, kita enggak perlu ikut-ikutan HIV/AIDS, kan? Untuk memahami seseorang, kita enggak perlu dulu mengalami hal yang sama dengannya, kan? Bahkan dalam penelitian, yang namanya observasi partisipan adalah kita mengikuti aktivitasnya namun tidak dikatakan kita harus sama dengannya. Pandangan akan bias. Subjektif.

Jujur, saya fobia dengan homofobia. Mengerti maksudnya, kan? Pernah salah seorang teman laki-laki saya menyebut para homoseksual dengan subhuman karena dulu ada seorang teman di suatu forum yang dinilai gay (gara-gara orang itu suka sekali dengan Gwen Stefani) dan ia menghina orang itu habis-habisan. Sudah belagak Tuhan.

Bagaimana bisa mereka menilai seseorang padahal diri mereka tidak lebih baik? Bagaimana seseorang bisa menceramahi dengan berbagai macam konsep agama dengan alibi biar insyaf sementara dirinya yakin bahwa ia-lah yang paling benar dan yakin masuk surga namun ia tidak menerima seseorang apa adanya? Saya yakin, tanpa diceramahi pun, mereka tahu apa yang boleh dan apa yang tidak dalam agama. Sudah ada yang memegang tugas untuk menilai sesuatu sebagai dosa atau tidak yaitu Sang Penguasa Alam Semesta, Tuhan YME. Pikirkan keadaan orang lain. Bagaimana bisa orang-orang yang tidak memiliki orientasi seksual terhadap lawan jenis dan bingung dengan kondisinya sendiri masih harus menghadapi orang-orang yang tidak mau memahami?

Menurut saya, tidak adil seseorang meninggalkan orang lain karena satu kesalahan atau satu kelemahan. Bagi saya, misalnya alasan orientasi seksual, tidak cukup kuat untuk memutuskan suatu hubungan pertemanan.

(Foto diambil dari sini, sedangkan judul dipinjam dari karya Nietzsche yang rasanya cocok untuk judul tulisan ini)

Comments

Anonymous said…
Diserang gara2 suka Gwen Stefani? Hahahahaha. HEIL GWEN STEFANI!

Andika
vendy said…
oh well...

bagi sebagian dari kita, ada sebuah "penyamaan pikiran" bahwa gay tidak masuk nominasi untuk kategori normal

here's the question: sapa juga yang bikin kategori itu?

*sayang gw blom punya kenalan glbt, jadi ga bisa ngomong lebih jauh lagi :)
mynameisnia said…
@vendy: Ya.. lalu.. apakah yang tidak normal itu harus disingkirkan dan diperlakukan semena2? Enggak juga kan?

Lo tahu sendiri cerita gue sebelum gue kenal LGBT. Tapi pasti pandangan akan berubah kok. Ntah lebih baik atau makin buruk.
AHEAD said…
Tentang film vulgar yang nyeni....
hhmm.... gimana dengan "Perfume" ?
Itu keren walaupun banyak telanjang-telanjangnya ga ada kesan porno. Kalo emang itu maksudnya vulgar yang nyeni.

Tentang orang gay, itu menurutku memang tidak normal, karena semestinya sudah diciptakan alat kelamin yang ditujukan untuk berkembang biak bukan cuman untuk kenikmatan mencumbu semata.
Tapi untuk memperlakukan orang gay semena-mena ya.... ga bisa juga, karena sama-sama manusia. Gitu aja sih...
mynameisnia said…
@Ahead: semestinya sudah diciptakan alat kelamin yang ditujukan untuk berkembang biak bukan cuman untuk kenikmatan mencumbu semata.

v
v
v

Wah, ini jadi rumit ini, antara cinta dan nafsu. Wkwkwkwk.

Masalah berkembang biak, itu memang sudah tanggung jawab manusia sih untuk meneruskan spesiesnya. Mungkin karena itu banyak orang homoseksual tapi menikah dengan lawan jenisnya.
vendy said…
itu dia Ni
setiap orang punya hasil dari bibit yang ditanam sama seseorang, entah itu orang tua, guru, teman, lingkungan, de-el-el

pada akhirnya kembali ke laptop...... maksudnya ke orang itu sendiri. apakah ybs bisa ngeliat glbt sebagai manusia (dengan darah, daging, nyawa), ato enggak.

menjadi glbt jg bukan atas dasar genetik atau lingkungan, tapi atas dasar pilihan (cmiiw) ;)
AnG9r4eN1 said…
Prasangka itu lebih hebat.Ga smw orang bs buka pikiran lebih luas.
Pelm vulgar yang nyeni?Ah,itu mah tergantung bagaimana otak kita merespon pelm itu.Hehehe
macangadungan said…
haha... iya, gue benci banget sama orang yang merasa dirinya udah pantas menghakimi orang lain.
mau homo itu ga normal, kek... dosa, kek... udah lah...itu urusan dia sama Tuhan. bukan urusan kita.
seharusnya kita tetep menghormati mereka, gimanapun semua manusia kan sama di mata Tuhan, biar mereka gay sekalipun
dendi said…
Gue ga benci sama gay, tapi mungkin gue termasuk orang yang homophobia itu.

ada beberapa temen cowo gue yang emang keliatan "gemulai", and it's fine for me. ga ada masalah sama sekali bagi gue selama ga mengganggu dan kita masih temenen sampe sekarang. dan juga kayanya dia cuma "gemulai", ga sampe menyukai sesama jenis.(i hope so)

tapi jika ada cowo udah menyerempet ke hal2 itu, you can say i'm one of homophobia.
can you imagine if someone with the same sex with you, send you some flirting sms'?

phobia terjadi karena seseorang mengalami kejadian yang membuat dia trauma terhadap sesuatu.

kalo temen kamu sampe menghina orang yang dianggap gay cuma gara2 suka dengan gwen stevani, itu namanya bukan homophobia, tapi homohater, atau temen kamu yang ga beres.
Begy said…
kebetulan gw kenal dua orang homoseksual. sebutlah yg satu baik, yg satu ga baik.

gw lebih dulu kenal sama yg ga baik. jujur Ni, kapok.

tp gw tetep berusaha open-minded dan ga judgemental. gw merasa ga mungkin semua gay ga baik. dan terbukti, karena baru-baru ini gw kenal sm gay yg ternyata baik.

nah mungkin sebagian homophobic ato homohater pernah berinteraksi sama yg ga baik itu. cuma mereka ga ngasih kesempatan kedua ke diri mereka untuk lebih open-minded.
mynameisnia said…
@begy: Gay yang tidak baik? Maksudnya spt apa, Beg?
Begy said…
maksudnya ga baik ya jahat, Ni.

ga usah dijelasin detilnya, karena nanti akan terbongkar siapa dia.
mynameisnia said…
@Begy: Gak udah detail atuh, perilakunya aja. Tapi terserah sih.


@all: Anyways, baru diingetin, contoh film vulgar yang nyeni (aneh, kesannya kekeuh pengen nonton film vulgar tapi dibalik nama seni) judulnya Talk To Her.

Monggo kalau mau bergulat dengan metafora dan simbolik.
bung tobing said…
kok kayaknya tau ceritanya nia yang homofobia? yahahaha. ah sudahlah, gw juga kena kritik ama lo kok lewat tulisan ini, gw sendiri juga ngeri sama homo, sumpah, coba aja beberapa kali dicolek atau dikedapkedipin homo (bukan cuma 1), dijamin pada ngersa kayak gw.
mynameisnia said…
@Sherwin: Bukan homofobic sebenarnya, tapi itu adalah bentuk kekagetan gue karena disuguhkan adegan make out oleh ybs. Hehe.
r3sc4lboys said…
Bagian dari crita fulgar itu sendiri sebenarnya timbul dari jiwa moral seseorang karna di negeri kita senderi yg begitu kental dengan akidah akidah agama begitu kuat sehingga terkekang dalam lingkup agama,di saat kluar dari lingkaran agama tersebut seakan dia lupa diri dan seperti orng yang kehausan ingin menikamti semuanya.

Contoh saja di korea antara hukum dan moral sangat begitu kuat padahal di sini bisa di bilang 99% negara bebas,tapi hal yang dikatakan fulgar itu sama sekali tidaka ada.Satu contoh yang paling real dalam hal ini adalah orang korea pria maupun wanita dewasa merasa dirinya paling berdosa kalu asik menikmati hiburan yang fulgar tanpa ada yang menemani.

Apa orang kita mampi melakikan hal tersebut? saya rasa kebalikan nya.jadi pemikiran sebaiknya ketrebatsan justeru tempat mencari jati diri sendiri.
mynameisnia said…
Ah, enggak juga.

Coba deh di Amerika. Mereka adalah negara liberal dengan gay yang lebih coming out dan homophobic yang juga banyak. Menurut saya, seperti keterkekangan tidak menentukan seseorang menentukan orientasi seksualnya dan tidak menentukan pendiskriminasian.
Anonymous said…
sampurasun...
salam kenal untuk semuanya dan terutama buat author, nia.

saya tertarik dengan tulisan nia. menarik. apalagi setelah dikomentari oleh teman-teman yang lain.

saya mengetik dalam keadaan gemetar, alasannya jelas, selain karena udara dingin kota bandung di malam hari dan karena saya seorang gay.

saya ingin bercerita: saya sudah menjalani kehidupan gay saya selama kurang lebih 3 tahun, dan 2 2 tahun terakhir ini saya hanya berhubungan dengan satu orang saja, partner saya. alhamdulillah, tak ada masalah, setiap sabtu dan minggu kami jalan bareng karena senin s.d. jumat kami bekerja. selama dua tahun ini kami saling setia (sampai di situ, toh sama saja, mau hetero kalau ga setia ya bisa aja colak-colek sembarangan, tapi homo yang setia juga bisa koq ga colak-colek cowo hetero. mungkin itu komentar saya untuk bung tobing)

terima kasih buat vendy, yang bikin kategori itu bisa jadi para ilmuan pria yang eksistensinya terancam oleh pria-pria homo.

begini, saya punya grup diskusi, ada orang teknik, ada orang marketing, manajemen, pertanian, ekonomi, dan lainnya, yang kesemuanya menyukai sesama jenis. kami semua sering bercerita mengenai keunggulan kami masing2 di bidang yang kami tekuni, bukan untuk dijadikan ajang takabur, hanya untuk menunjukkan bahwa kami punya kemampuan yang kami harap bisa dijadikan fokus pandangan masyarakat terhadap kami.

kami manusia, yang ingin dihargai.
andai kami bisa memilih, kami ingin dapat memiki hasrat terhadap lawan jenis. tapi kalau tidak, kami tetap berusaha berbaik sangka, mungkin itu kehendak Yang Kuasa sehingga dengan itu kami menjadi merasa tidak pantas untuk berbangga hati dan besar kepala atas keterampilan, kecerdasan, dan/atau kecakapan yang kami miliki.

ada yang pernah baca tulisan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia?
beliau adalah guru besar di UIN Jakarta. dalam sebuah tulisannya pada the jakarta post, ia mengemukakan bahwa yang membuat fatwa haram homosex dan yang menyimpangkan kisah kaum nabi luth adalah para imam yang seluruhnya laki-laki hetero? menurut hemat saya setelah membaca tulisan itu: sama saja dengan kategori normal dan tidak normal yang dibuat para ilmuan pria yang hetero itu.

itu semua hanya diskriminasi.
tentang gay baik dan gay tidak baik, lagi-lagi kita melihat persamaan antara homo dan hetero. pertanyaannya: memangnya kaum hetero (termasuk orang-orang yang berlagak hetero, atau mengaku-ngaku hetero) itu baik semua? kan tidak juga... hehehe...

salam
-joei-
Anonymous said…
sampurasun...
salam kenal untuk semuanya dan terutama buat author, nia.

saya tertarik dengan tulisan nia. menarik. apalagi setelah dikomentari oleh teman-teman yang lain.

saya mengetik dalam keadaan gemetar, alasan pertama adalah karena udara dingin kota bandung di malam hari dan alasan kedua adalah karena saya seorang gay.

saya ingin bercerita: saya sudah menjalani kehidupan gay saya selama kurang lebih 3 tahun, dan 2 tahun terakhir ini saya hanya berhubungan dengan satu orang saja, partner saya. alhamdulillah, tak ada masalah, setiap sabtu dan minggu kami punya jadwal jalan bareng karena senin s.d. jumat kami bekerja. selama dua tahun ini kami saling setia (sampai di situ, toh sama saja, mau hetero kalau ga setia ya bisa aja colak-colek sembarangan, tapi homo yang setia juga bisa koq ga colak-colek cowo hetero. mungkin itu komentar saya untuk bung tobing)

terima kasih buat vendy, yang bikin kategori itu bisa jadi para ilmuan pria yang eksistensinya terancam oleh pria-pria homo.

begini, saya punya grup diskusi, ada orang teknik, ada orang marketing, manajemen, pertanian, ekonomi, dan lainnya, yang kesemuanya menyukai sesama jenis. kami semua sering bercerita mengenai keunggulan kami masing2 di bidang yang kami tekuni, bukan untuk dijadikan ajang takabur, hanya untuk menunjukkan bahwa kami punya kemampuan yang kami harap bisa dijadikan fokus pandangan masyarakat terhadap kami.

kami manusia, yang ingin dihargai.
andai kami bisa memilih, kami ingin dapat memiki hasrat terhadap lawan jenis. tapi kalau tidak, kami tetap berusaha berbaik sangka, mungkin itu kehendak Yang Kuasa sehingga dengan itu kami tiak udzub dan besar kepala atas keterampilan, kecerdasan, dan/atau kecakapan yang kami miliki.

ada yang pernah baca tulisan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia? beliau adalah guru besar di UIN Jakarta. dalam sebuah tulisannya pada the jakarta post, ia mengemukakan bahwa yang membuat fatwa haram homosex dan yang menyimpangkan kisah kaum nabi luth adalah para imam yang seluruhnya laki-laki hetero? menurut hemat saya setelah membaca tulisan itu: sama saja dengan kategori normal dan tidak normal yang dibuat para ilmuan pria yang hetero itu.

itu semua hanya diskriminasi.
tentang gay baik dan gay tidak baik, lagi-lagi kita melihat persamaan antara homo dan hetero. pertanyaannya: memangnya kaum hetero (termasuk orang-orang yang berlagak hetero, atau mengaku-ngaku hetero) itu baik semua? hehehe...

salam
-joei-
mynameisnia said…
Hai, Joei. Sebelumnya saya ucapkan makasih karena masih sharing disini. Sangat bersyukur karena anonymous boleh berlaku di blog ini. Hehe.

Anyways, ya.. setahu saya memang membutuhkan suatu komunitas tertentu untuk suatu dukungan, pelampiasan emosi, dan terutama - merasa tidak sendiri. Saya tahu beberapa komunitas namun saya belum mempunyai kesempatan bertandang kesana. Pastinya asik karena akan mendapatkan suguhan sudut pandang lain mengenai sesuatu.

Menurut saya, diskriminasi (apapun itu) terbentuk dari orang sombong yang merasa benar dan tidak berbuat dosa. Memang kita manusia dan ini bukan jadi pembenaran untuk berbuat salah - tapi pada kenyataannya sengaja atau tidak sengaja, manusia pasti berbuat salah.

Mengenai gay baik dan gay jahat. Seharusnya memang tidak benar sifat baik atau jahat dihubungkan dengan orientasi seksual.

Makasih, ya. Sering-sering datang kesini!
Anonymous said…
hai, Nia
tentu saya datang lagi, kerena memang ada yang menarik terutama di bahasan Nia ini

saya percaya Nia adalah orang yang open minded, ndak salah kalau saya terbuka di tempat ini. begitu ramah dan bersahabatnya Nia sebagai yang punya blog ini.

hmn... kadang sulit untuk bisa terbuka sepenuhnya, meski saya pribadi sangat ingin teman di tempat kerja (misalnya) bisa tau kalau saya pun punya kelemahan. rasanya lelah dianggap terus jadi manusia pintar yang serba bisa. pengennya dianggap orang sebagai orang yang seimbang aja, kan saya juga punya kekurangan di balik kelebihan saya.

Nia, rasanya menarik juga untuk berkomentar ttg ceritanya Begy. menurut saya sebaiknya Begy bersyukur. sebagai pria hetero Begy sudah dipercaya dua orang teman Begy yang pria non-hetero. setahu saya, pria non-hetero aga susah lho, untuk terbuka pada lingkungannya (terutama pada pria hetero) ttg orientasi seksual mereka. mungkin ia akan memilih wanita untuk menjadi teman curhatnya ttg masalah ini, itu pun masih dipilih yang punya pikiran terbuka. selain karena non-hetero secara naluriah punya kemiripan, kejujuran kami ttg masalah ini kepada pria hetero pada umumnya hanya akan menyakiti perasaan kami saja. terbukti kan, begy membandingkan, ada yang baik ada yang tidak baik. maaaf ya nia, saya bahas baik tidak baik lagi. kadang saya berontak kalau semua terlalu digeneralisasi. "baik" itu tidak menjadi dominasi kelompok mayoritas seperti halnya "tidak baik" yang juga bukanlah tanggung jawab kelompok minoritas semata.

menurut saya, semua orang pada dasarnya baik. seperti halnya nabi adam yang sempat tinggal di syurga. semua terlahir dalam fitrah, lantas mengapa harus menjadi tidak fitrah dengan menyebar fitnah?
mynameisnia said…
Hm... jujur, saya kurang mengerti dengan baik dan tidak baik yang dibicarakan Begy dan Joei. Saya pikir, dibalik kategori ini, mungkin ada suatu cerita atau kejadian yang membuat seorang gay dikategorikan sebagai gay jahat, misalnya?

Tapi, sekali lagi, itu terserah. Saya menghargai urusan pribadi seseorang dan tidak akan mengeluarkan paksa seseorang dari zona nyamannya.

Pengalaman saya ketemu beberapa orang gay, sepertinya mereka lebih dekat dengan perempuan secara emosional ketimbang laki. Tentunya perempuan tidak ada perasaan terancam bahwa laki-laki itu akan suka dengannya. Bahkan (mungkin) ada perasaan kecewa (karena ternyata dulu ia pernah suka).

Intinya menurut saya, yang membuat pria hetero yang susah menerima open statusnya pria gay adalah ketakutan bahwa ia akan disukai pria itu. Lalu pria hetero memutuskan untuk menjauh. Jika diiringi dengan nilai agama yang kuat, pria hetero akan menyinggung tentang dosa. Menurut saya, itu ke-GR-an sekali dan terlalu hiperbolis. Yang gay hanya butuh tempat cerita, ini kok malah ceramah dan bertindak macam-macam?

Itu sih yang saya tahu tentang open status.

Kira-kira, Joei sendiri seperti itu enggak?
Anonymous said…
joei lagi, nih, nia...

kayak gitu gimana, maksudnya?
lebih dekat dengan perempuan?
tentu, karena saya pun merasa lebih nyaman.

begini, kalau saya ngumpul dengan teman2 pria hetero, sebutlah mereka semua tdk tau apa2 ttg orientasi seksual saya, maka saya akan tersandung ini itu. dari mulai obrolan mereka ttg sepak bola yang tentu saja tidak akan mungkin saya jawab (kecuali untuk urusan pemain2 yang good looking, hehehe), cerita mereka dengan pacar perempuan mereka masing2, sampai hal lain yang benar2 serius. dalam dua hal itu saja sudah ndak nyaman, nia..

tentang kejadian yang mungkin menjadikan seseorang dengan orientasi seksual sejenis itu jahat adalah karena jumlahnya di dunia ini. namanya juga minoritas, tertutup karena sikap masyarakat pula.
kalau satu ketika seorang OSS bertemu dengan pasangan yang dianggap setia, maka kecenderungannya dia akan posesif. nia bisa bayangkan,orang posesif itu kan bisa melakukan apa saja untuk dapat membuat apa yang dia miliki tetap menjadi miliknya.

contoh lain, kasus yang kemaren itu lho.. kasusnya ferry kan punya efek juga ke komunitas. itu makin bikin kami tertutup dengan lingkungan saking takutnya. karena tertutup ya sebenarnya kami pun lebih dicurigai ini itu jika satu saat harus terbuka..

begitulah, nia...
dunia ini bukan hanya milik komunitas kami saja. tapi di dunia ini, komunitas kami juga ingin dan dihargai
mynameisnia said…
Serba salah ya? Gak open status ke temen2 hetero biar diri nyaman, salah. Kalau open status, malah jadi masalah.

Oh, saya baru mengerti tentang gay yang tidak baik. Maksudnya ini disebabkan jumlah yang sedikit, begitu? Karena kesukaan dia sama seseorang yang pas di lingkungan yang sangat sempit, tentunya orang itu harus dipertahankan - sehingga usaha pertahanan itu menimbulkan kesan yang tidak baik bagi orang lain?
Anonymous said…
persis!

ah, terima kasih telah mencoba untuk mengerti :)

-joei-

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…