Skip to main content

Labirin Birokrasi

Mungkin saya tidak belajar ilmu pemerintahan, namun izinkan saya menulis ini, wahai para ahli.

Saya baca di koran mengenai berita trafficking. Diujarkan bahwa salah satu faktor terjadinya trafficking adalah bobroknya birokrasi. Mungkin maksudnya birokrasi di Indonesia terlalu berbelit-belit sehingga untuk mengurus trafficking harus melalui jalur-jalur tertentu yang terkadang tidak mencapai tujuan. Hemat saya, birokrasi Indonesia seperti labirin.

Misalnya ketika akan lulus kuliah, saya harus mondar-mandir kampus bermedankan pegunungan hanya untuk memenuhi panggilan birokrasi oh birokrasi. Salah satunya, saya harus pergi ke BAAK yang notabene ada di bagian bawah kampus padahal transkrip nilai bisa di dapat dengan mudahnya di TIK yang notabene ada di depan kantor jurusan.

Dengan maksud sistematis, birokrasi di Indonesia sepertinya tidak efektif dan memakan biaya banyak. Misalnya ketika saat ini masa berlaku KTP saya habis, saya mendapatkan informasi dari ibu saya bahwa mengurus KTP membutuhkan biaya Rp.50.000,- karena harus melalui RT dan RT yang akan mengurus segalanya sampai kelar. Saya membayangkan apakah uang 50.000 akan habis untuk ongkos kendaraan, ongkos tanda tangan, ongkos konsumsi, atau ongkos apa? Betul-betul gaib. Sehingga sampai saat ini (dan mungkin berminggu-minggu kemudian) sepertinya saya tidak akan memperpanjang KTP saya.

Mungkin birokrasi yang seperti benang kusut ini memudahkan para koruptor kecil-kecilan (tingkat RT sampai badan legislatif) melancarkan aksinya. Tidak mudah ditangkap tentunya, karena ya itu tadi.. bak benang kusut. Selain mudah melancarkan korupsi, tentunya lebih mudah lagi melancarkan aksi lempar-batu-sembunyi-tangan. Kalau ada masalah, pegawai bisa bilang, "Waah, ini sih gara-gara diatas macet!" atau "Waah, salah divisi yang ini nih!"

Jika pernyataan saya tidak sesuai dengan teori, maafkan saya, wahai para ahli. Sebutlah, ini hanya pernyataan ngawur. Namun bagi saya, birokrasi sudah bobrok, dibanggakan pula. Kalau saya jadi presiden, mungkin saya akan memporak-porandakan birokrasi dan kinerja makan-gaji-buta PNS.

Untungnya tidak.

Comments

macangadungan said…
iya...gue juga kadang ga ngerti... klo birokrasi kampus sih, gue biasanya jeplakin ja langsung yg ngurusin. "Kok bapak nyruh saya kesana, semntara bu Anu bilangnya di sini... sama2 pegawai fakultas kok, tapi peraturannya ga ngerti..." dan mereka cm bisa senyum mesum..eh, mesem...

apalagi soal birokrasi pemerintah?

mending jadi seniman aja deh. duit siapa jg yg mau di korupsi...
Pritha Khalida said…
Bukannya sekarang bisa dilaporkan sama Ombudsman?

Apajangan2 Ombudsman juga birokrasinya belibet yah??
Vendy said…
ga usah jauh2 deh...
gw perpanjang ktp aja mesti ada "uang rokok"...
mynameisnia said…
Itu diaaaa.. huaaah.. uang rokok, aneh.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…