Pertanyaan Untuk Para Seniman



Saya baru pulang dari Jogja, melarikan diri dari semua deru dan debu yang menerjang. Disana, saya berpapasan dengan seorang seniman yang melukis di depan Istana Negara. Tidak jauh dari tempat ia melukis, ada demonstrasi para wartawan (beritanya ada di harian Kompas). Seniman ini melukis tentang Palestina di canvas yang begitu besar. Ketika hujan pun, ia tetap melukis.

Disini, saya timbul pertanyaan. Setelah itu, lukisannya mau diapakan?

Beberapa hari sebelumnya, saya menonton acara Kick Andy yang menghadirkan pembuat komik strip di koran Kompas minggu. Salah satunya adalah Dwi Koendoro yang membuat Panji Koming. Ia bercerita bahwa ia bebas mengemukakan pendapatnya di zaman reformasi ketimbang zaman orde baru. Kebebasan itu seolah-olah seperti orang yang sudah lama menahan muntah: bermunculan beragam kritik tajam di karyanya.



Saya jadi bertanya. Setelah mengkritik, lalu mau apa?

Pertanyaan saya bukan pertanyaan sok mengkritisi profesi seniman, tapi ini berupa pernyataan naif tentang profesi yang sama sekali tidak saya ketahui. Adakah perubahan yang berarti setelah orang-orang mendapat kritikan dari seniman? Apakah kontribusi para seniman terhadap lingkungan (negara)? Lalu, setelah mengkritik atau membuat komik satir, tindakan selanjutnya apa?

Foto

Comments

AHEAD said…
mungkin itu yang paling bisa mereka lakukan, sebagai perwakilan dari jeritan rakyat...
Erick S. said…
Kalau udah budeg, teriak sekeras apapun juga ga akan didengar. Memang lebih baik bertindak daripada mengkritik tapi ga ada hasil. Tapi dari beberapa karikatur kritikan yang gua buat, ada tanggapan positif dari yang baca. Idealnya, orang langsung bertindak, tapi kalau lingkupnya sebesar negara, susah.
Tapi kalau lingkupnya sebesar keluarga atau kelompok main, itu cukup ngefek kok.
Menurut elu gimana?
bung tobing said…
kalo gw bilang nia, setelah kritik ya tawarkan solusi. jangan sekedar advokasi belaka. (dalam kasus orang normal, bukan kartunis)kalau sindiran ala seniman seperti ini seenggaknya biarpun gk didenger, bikin tersenyum juga:D happy belated new year for youuu.
mynameisnia said…
@Erick: Tapi kan, Rick, karya-karya yang udah masuk media besar, Kompas - misalnya, seharusnya itu di dengar negara karena media itu kan dipublikasikan kemana-mana, terutama di ibu kota.

Apakah negara terlalu bebal?

@Sherwin: Iya sih. Btw, happy new year juga!! *lihat tanggal*

@Ahead: Iya, mungkin itu. Mungkin lebih baik daripada diam sama sekali.
macangadungan said…
Sebenarnya bukan masalah membuat komik untuk mengkritiknya, tapi kebebasan untuk mengekspresikan jalan pikiran kita dalam komik.

soal kritik, komik, maupun blog, surat pembaca, talkshow...semua sama aja kan? akan menimbulkan pertanyaan, "terus apa?"

karena walaupun kritik melalui televisi pun jarang sekali menimbulkan dampak signifikan.

apa bedanya dengan komik? apa yang membuat kritik melalui komik tampak kurang ngefek dibanding media lain?

apa bedanya sama blog? surat pembaca? wawancara di televisi?

cuma beda di media aja kok. intinya kan sebenarnya menyuarakan ide, uneg-uneg, kritikan membangun, kreativitas dan sejenisnya.
Begy said…
Kenapa tidak diteliti saja:

"Hubungan Antara Kritik Para Seniman dalam Karyanya dengan Kewarasan Para Pejabat"
mynameisnia said…
@macan: Jadi cuman proses katarsis aja?

@begy: Monggo, saya sudah selesai.
r3sc4lboys said…
Seni itu sendiri artinya keindahan yang mampu menyentuh persaan sesorng melalui media yang di hadirkan,prestasi seorang seniman itu mutlak tanpa mengharap pangkat atau nilai yang menggiurkan.

Seniman mengeksprikan diri dati lingkungan sekitar yang ingin di ungkap rasa antipati nya yang semata mata untuk menikmati karya karya nya.

Popular Posts