Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2009

Lebah dan Laki-Laki Dengan Piyama Bergaris

Ini film bagus. Ini benar-benar film bagus. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama, namun sayang saya belum sempat membacanya. Jika filmnya bagus, apalagi bukunya?

Film ini memiliki latar belakang Perang Dunia II, dimana Yahudi masih dibasmi oleh Jerman. Seorang anak bernama Bruno, dengan latar keluarga yang berada dan memiliki ayah seorang komandan tentara Nazi, harus berpisah dari teman-temannya karena keluarganya harus pindah ke pinggiran kota. Rumah yang sangat sepi dan kaku itu membuat ia bosan dan penasaran ingin melihat dunia luar dibalik pagar yang sangat tinggi dan penjaga yang selalu membawa anjing.

Pada suatu hari, ia melihat sebuah pertanian dengan orang-orang yang memakai piyama bergaris. Mendengar hal itu, ayahnya tidak berkata apa-apa sedangkan sang ibu sudah mengerti maksudnya. Rasa penasaran yang besar membuat Bruno nekat lari dari rumah dan menusuri jalan setapak hingga ke pertanian yang ia maksud.

Di balik pagar berkawat, duduklah seorang anak berna…

Milk (2008)

Senin malam, saya nonton film Milk di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Film Milk - yang aktor utamanya, Sean Penn, mendapatkan penghargaan aktor terbaik di Oscar - menceritakan tentang seorang tokoh Harvey Milk sebagai orang aktivis yang berjuang untuk mendapatkan persamaan hak kaum homoseksual. Tidak hanya bercerita tentang karirnya saja, tapi film ini menceritakan tentang kehidupan pribadi seorang Harvey Milk.
Harvey Milk (Sean Penn) adalah seseorang pekerja New Yoek yang pada usia 40, ia memutuskan untuk out of closet (membuka diri mengenai status homoseksual), pindah ke San Fransisco pada tahun 1972 bersama pacarnya yang bernama Scott Smith (James Franco), dan membuka bisnis. Semula membuat komunitas kemudian menjadi kandidat politik untuk San Francisco City Supervisior pada tahun 1977. Ia menjadi gay pertama yang mengikuti pemilihan umum di California.
Untuk mencapai kursi pemerintahan tentu tidak mudah karena Harvey Milk harus melewati pandangan miring mengenai homoseksual dari mas…

White Silence

Tadi malam saya mimpi saya tersesat di hamparan padang, entah di tengah kabut, yang semua-muanya berwarna putih. White silence. Tidak ada suara, tidak ada gerakan apapun, semuanya kosong, hening, diam, dan beku. Anehnya saya tidak merasa takut. Ini membuat saya berpikir setelahnya mengapa orang takut berada sendirian. Berbeda jika seseorang ditemani dengan orang lain yang bisa saja berkelahi suatu waktu, sendirian tidak akan menyakiti, kan? Jadi, pembaca, mengapa orang-orang takut sendirian?

Saya seringkali mimpi aneh. Ibu saya sering mendapatkan cerita kalau saya dapat mimpi buruk, mimpi yang ganjil, dan mimpi-mimpi yang meminta diterjemahkan maknanya. Saya juga seringkali mimpi hantu. Beragam tips sudah diberikan seperti harus menghadap ke sisi tertentu kemudian meludah jika mengalami mimpi buruk atau doa sebelum tidur. Bahkan dongeng bahwa jika seseorang mimpi hantu, maka sebenarnya hantu sedang tidur di sampingnya. Semula saya takut, lama kelamaan saya menikmatinya. Dan selanjutnya…

Ismail

"Kenapa aku pulangnya cepat sekali, Ya Tuhan?"
"Iya. Kamu hanya meninggalkan surga barang lima menit. Sudahkah kamu melihat ibumu?"
"Sudah. Ia sangat cantik, sepertinya aku mewarisi sebagian besar dari dirinya. Kulitku akan putih dan hidungku mancung. Namun rambutku lebat sekali, seperti halnya ayahku. Ibuku berperawakan kecil sementara ayahku tinggi dan besar. Aku hanya melihat mereka sebentar saja karena seseorang mengambilku dari mereka, membersihkan seluruh darah ibuku, memasang berbagai macam jarum dan selang, memasukkan aku ke dalam sebuah kotak kaca yang lampunya menyilaukan. Aku sedikit kesal karena ibuku tidak memiliki kesempatan untuk memelukku. Ibu dan ayahku kagum akan kekuatanku bertahan di dalam rahim selama dua hari tanpa ketuban. Mereka berdecak karena aku mampu bertahan walaupun aku lengket dengan rahim. Katanya aku cakep, aku banyak gerak, dan menangis perlahan sekali."
"Kamu pasti senang sekali ya?"
"Iya. Aku senang. Tapi aku…

Minggu Siang Di Barli

Hari minggu (31/01), saya baru bangun pukul 09.30 pagi akibat merasa lelah yang amat sangat. Entah apa yang saya lewati pada malam minggunya padahal hanya aktivitas rutin yang saya lewati di RL. Saya terbangun akibat sms dari Dika yang bertanya apakah saya akan pergi ke workshop nulis di Museum Barli atau tidak. Saya bingung karena dalam kondisi baru bangun dan belum mandi. Dengan waktu berpikir selama 15 menit, Dika bilang bahwa workshop dimulai pukul 10.00. Oh, bagus.

Dika sampai di rumah saya dua puluh menit kemudian. Dengan percaya diri, saya menunjukkan jalan ke Museum Barli. Sampai daerah sana, saya tidak yakin bahwa kami telah melewati jalan yang benar. Tanya sana, tanya sini. Belok sana, belok sini. Mengarungi jalan yang berliku dengan motor Dika yang sepertinya tidak kuat menahan beban saya. Akhirnya, kami sampai pada pukul 11.00.

Saya pikir saya terlambat. Masuk ke Museum Barli, kami disambut hangat. Tentunya disambut hangat karena kami peserta pertama yang datang. Ada untungn…

Masih Ingat

Saya masih ingat ketika Amnesiac Quartet menyanyikan lagu Street Spirit di kota kelahiran bandnya, Paris. Hanya sebuah konser kecil yang dipublikasikan dari mulut ke mulut, dengan lampu dan panggung seadanya. Tidak ada lampu yang gemerlap atau dekorasi yang mengkilap. Dengan saxophone sebagai melodi, mereka memainkan lagu indah sekali. Hampir semua anggota band menutup matanya, menggerakan badan ke kanan dan ke kiri – bergoyang mengikuti irama Street Spirit. Mereka adalah band kecil yang sangat berbeda karena mereka memainkan lagu-lagu Radiohead dalam versi jazz. Tidak ada yang bernyanyi, saxophone seolah-olah menyanyikan lirik lagu yang sangat pas.

Rows of houses, all bearing down on me
I can feel their blue hands touching me
All these things into position
All these things we'll one day swallow whole
Immerse your soul in love

Magis.

Pada saat itu kami hanya dua orang mahasiswa yang mengikuti program pertukaran pelajar. Saya dari Indonesia, kamu dari Singapura. Saya berbahasa Indonesia, …