Ismail

"Kenapa aku pulangnya cepat sekali, Ya Tuhan?"
"Iya. Kamu hanya meninggalkan surga barang lima menit. Sudahkah kamu melihat ibumu?"
"Sudah. Ia sangat cantik, sepertinya aku mewarisi sebagian besar dari dirinya. Kulitku akan putih dan hidungku mancung. Namun rambutku lebat sekali, seperti halnya ayahku. Ibuku berperawakan kecil sementara ayahku tinggi dan besar. Aku hanya melihat mereka sebentar saja karena seseorang mengambilku dari mereka, membersihkan seluruh darah ibuku, memasang berbagai macam jarum dan selang, memasukkan aku ke dalam sebuah kotak kaca yang lampunya menyilaukan. Aku sedikit kesal karena ibuku tidak memiliki kesempatan untuk memelukku. Ibu dan ayahku kagum akan kekuatanku bertahan di dalam rahim selama dua hari tanpa ketuban. Mereka berdecak karena aku mampu bertahan walaupun aku lengket dengan rahim. Katanya aku cakep, aku banyak gerak, dan menangis perlahan sekali."
"Kamu pasti senang sekali ya?"
"Iya. Aku senang. Tapi aku sedikit sedih mendengar ibu merintih kesakitan karena aku ingin keluar dari rahimnya. Oh ya, selama ibu mengandungku, aku sering mendengar ayah berbicara tentang nama yang akan diberikannya padaku. Ia ingin memberi nama Ismail karena aku hampir mati di usia kandungan tiga bulan. Waktu itu Idul Adha. Namun Kau memberikanku kesempatan lagi - layaknya kau memberikan kesempatan pada Nabi Ibrahim ketika akan menyembelih anaknya yang bernama Ismail. Ibuku sehat dan ia sangat senang. Ia sering memanjatkan doa, memberikan harapan bahwa kelak aku menjadi anak yang sehat dan berbakti, ia membawaku jalan-jalan, dan lainnya."
"Namun dibalik kesenanganmu, kamu sangat tidak sabar keluar di kandungan 6.5 bulan ya?"
"Ya. Walaupun aku masih 800 gram. Aku pikir aku bisa bertahan, ternyata tidak. Lalu mengapa Kau cepat sekali memanggilku pulang? Aku tidak tahan melihat ibu menangis seharian."
"Paru-paru kamu belum bekerja dengan baik. Tidak usah bersedih karena aku mempunyai rencana besar untuk ibu dan ayahmu."
"Rencana besar? Kau akan memberikan anak yang lebih pintar, baik, dan berbakti daripada aku."
"Iya."
"Lebih baik begitu, karena aku sayang kedua orang tuaku. Dan sekarang aku bisa bertemu dengan kakekku - seseorang yang bersedia membagi liang lahatnya denganku. Ia memelukku!"

[Saya tidak ingin diucapkan duka. Dan ini untuk kakak sepupu saya yang saya sayangi, yang mencoba tegar dengan kedua matanya yang nanar.]

Comments

kumbangdusun said…
Saya tak bisa berkata banyak kala usai membacanya. Sungguh tulisan yang mengandung pesona.
macangadungan said…
oke...tidak ada duka
saya akan menghargai permintaan nia
mynameisnia said…
Hehe. Ucapan duka hanya membuat gue semakin sedih, Can. Komen tulisannya aja :)
macangadungan said…
oiya...tulisannya?
ah...nia...klo soal tulis menulis..kmu mah tidak perlu dipuji lagi. seharusnya novelmu yg diblog itu kmu ajukan ke penerbit buku.
tulisan yg ini jg bagus. sederhana tp menyentuh hati...
alimah said…
nyaman seakan tak ingin beranjak, itulah kesan awal dan selanjutnya setelah membaca tulisan-tulisanmu. salam kenal dari saya.
violetya said…
Hmm... melihat dari sudut pandang yang lain. Aku juga pernah mengalaminya mbak, tapi begitu berbeda saat dilihat dari tulisan mbak Nia.
Salam kenal :)

Popular Posts