Skip to main content

Masih Ingat

Saya masih ingat ketika Amnesiac Quartet menyanyikan lagu Street Spirit di kota kelahiran bandnya, Paris. Hanya sebuah konser kecil yang dipublikasikan dari mulut ke mulut, dengan lampu dan panggung seadanya. Tidak ada lampu yang gemerlap atau dekorasi yang mengkilap. Dengan saxophone sebagai melodi, mereka memainkan lagu indah sekali. Hampir semua anggota band menutup matanya, menggerakan badan ke kanan dan ke kiri – bergoyang mengikuti irama Street Spirit. Mereka adalah band kecil yang sangat berbeda karena mereka memainkan lagu-lagu Radiohead dalam versi jazz. Tidak ada yang bernyanyi, saxophone seolah-olah menyanyikan lirik lagu yang sangat pas.

Rows of houses, all bearing down on me
I can feel their blue hands touching me
All these things into position
All these things we'll one day swallow whole
Immerse your soul in love


Magis.

Pada saat itu kami hanya dua orang mahasiswa yang mengikuti program pertukaran pelajar. Saya dari Indonesia, kamu dari Singapura. Saya berbahasa Indonesia, kamu berbahasa Mandarin-Melayu. Kami dipersatukan oleh bahasa Inggris. Namun pada saat ini, kami dipersatukan oleh musik.

Saya masih ingat ketika cuaca disana dingin – ditambah rintik hujan. Beruntung pada saat itu kami berada di bawah atap plastik – yang ketika hujan akan menimbulkan sensasi berisik. Beberapa orang yang tidak beruntung berada langsung dibawah langit, sehingga mereka harus memakai penutup kepala. Saya menghangatkan diri dibalik jas beludru dan kamu menghangatkan diri dibalik jaket kulit. Saya dan kamu memakai syal yang sama – syal hangat berwarna merah yang kita beli di flea market ketika kita sama-sama baru menyadari kalau kita membutuhkan ekstra penghangat. Orang-orang menghangatkan diri dengan saling berpelukan dan berpegangan tangan. Sementara kami menghangatkan diri dalam diam. Saya menghangatkan tangan saya dengan memakai sarung tangan dan memasukkan kedua tangan saya ke dalam kedua kantung jas. Sementara kamu, tanganmu mendekap dadamu. Kamu mendekap dirimu. Kamu menutup matamu. Badanmu bergerak perlahan mengikuti irama Street Spirit.

Mereka bernyanyi membuat kami hangat sekali.

Saya masih ingat pada saat itu saya mulai merasa memiliki banyak kesamaan denganmu. Saya memiliki selera musik, selera buku yang sama, selera film, menyukai seni, puisi, teater, budaya, dan hal-hal sama lainnya dengamu. Mungkin karena kesamaan itu saya dan kamu dipersatukan melalui suatu program. Anggap berlebihan tetapi mungkin ini adalah garis Tuhan. Saya masih ingat pada saat itu saya mulai berharap agar kamu memiliki banyak waktu untuk menghabiskan kegiatan-kegiatan yang kamu sukai dengan saya. Saya masih ingat ketika harapan saya sama dengan harapanmu bahwa kamu juga ingin menjalankan hari-hari di Paris bersama saya – sampai pulang ke negara masing-masing. Kami bahagia – karena satu tambah satu menjadi dua. Dua berarti tidak sendiri, dua berarti selalu bersama-sama.

Amnesiac Quartet sudah mencapai ujung konsernya. Ia menyanyikan lagu Nice Dream. Saya masih ingat pada saat itu kami tidak menghangatkan diri seorang diri. Tetapi kami saling mentautkan jemari. Bergoyang untuk terakhir kali, sambil menyenandungkan lagu Nice Dream.

They love me like I was a brother
They protect me, listen to me
They dug me my very own garden
Gave me sunshine, made me happy



[Cerita yang mengendap di komputer yang jika dibaca lagi-entah mengapa-terasa norak. Jika ingin melihat kenorakan lainnya, silahkan klik tag fiksi atau cerita sebuah foto. Sesuai dengan motto hidup saya: Berbanggalah dengan kenorakan Anda]

Comments

Andika said…
Nggak terlalu norak kok, Ni. Idenya manis, paling perlu ditambah sedikit deskripsi konser saja supaya suasananya lebih kerasa. Sama sedikit perbaikan sudut pandang, mungkin.
mynameisnia said…
Gak terlalu? Itu menandakan norak, Dik! Huhuhu..

Jadi sudut pandang ketiga, gitu?
Begy said…
ga norak ko, Ni. bagus!
ezra said…
i wonder.. gimana jadinya tu lagu radiohead dgn tune jazz?
eh, nia, kalo kamu suka radiohead n bjork, udah perna tau sigur ros blm? kalo blm, u should give it a shot. musiknya bener2 out of this world

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…