Minggu Siang Di Barli

Hari minggu (31/01), saya baru bangun pukul 09.30 pagi akibat merasa lelah yang amat sangat. Entah apa yang saya lewati pada malam minggunya padahal hanya aktivitas rutin yang saya lewati di RL. Saya terbangun akibat sms dari Dika yang bertanya apakah saya akan pergi ke workshop nulis di Museum Barli atau tidak. Saya bingung karena dalam kondisi baru bangun dan belum mandi. Dengan waktu berpikir selama 15 menit, Dika bilang bahwa workshop dimulai pukul 10.00. Oh, bagus.

Dika sampai di rumah saya dua puluh menit kemudian. Dengan percaya diri, saya menunjukkan jalan ke Museum Barli. Sampai daerah sana, saya tidak yakin bahwa kami telah melewati jalan yang benar. Tanya sana, tanya sini. Belok sana, belok sini. Mengarungi jalan yang berliku dengan motor Dika yang sepertinya tidak kuat menahan beban saya. Akhirnya, kami sampai pada pukul 11.00.

Saya pikir saya terlambat. Masuk ke Museum Barli, kami disambut hangat. Tentunya disambut hangat karena kami peserta pertama yang datang. Ada untungnya juga karena kami jadi bisa berkenalan dengan Yudhi - wartawan sekaligus penulis buku tentang HIV/AIDS dengan judul Syair Untuk Sahabat, Sanga - ketua Yayasan Museum Barli, dan Pak Bambang - seorang kurator museum. Perkenalan yang membuat jejaring itu membawa saya untuk (akan) menjadi sukarelawan di kegiatan HIV/AIDS. Saya bertanya mengapa peserta sesepi ini dan apakah tidak promosi ke komunitas kreatif di bandung, lalu Sanga menjawab ia membutuhkan bantuan seperti itu. Saya merasa ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa karena saya memang ingin jadi aktivis, bergabung di komunitas sosial, jadi sukarelawan, menjaring teman sebanyak-banyaknya, tapi tetap berduit. Hehe.

Sekilas info sebentar, hasil psikotes menunjukkan saya adalah orang yang egosentris. Waktu saya wawancara kerja, si bos tidak percaya kalau saya berjiwa sosial. Saya pikir psikotes itu tidak semuanya benar. Hey, saya ini Aquarius yang berjiwa sosialis dan ditakdirkan menjadi penulis atau pengajar! Atau begitulah kira-kira karir zodiak Aquarius yang saya baca di majalah KawanKu ketika SMP.

Lalu setelah menghabiskan waktu hampir 1.5 jam untuk bercerita tentang HIV/AIDS, workshop menulis sendiri diadakan sangat singkat. Saya - yang menulis tema diskriminasi - merasa tidak puas, sejujurnya. Ketika para peserta sudah menulis, mereka mengumpulkan karya kami dan membacakan hanya segelintir orang. Saya pikir sebaiknya dibacakan semua karena peserta yang benar-benar sudah segelintir masih harus digelintir. Mengerti, kan? Selain itu tentang teknik menulis pun kurang dibicarakan karena terlalu banyak membahas tema buku yaitu HIV/AIDS. Bukannya tidak mau, tapi saya mengharapkan sebuah workshop nulis seperti yang dibilang di selebaran yang saya terima.

Yudhi menyatakan respect-nya ketika saya bercerita tentang pengalaman saya dengan ODHA. Selain saya yang bercerita, ada orang yang bercerita bahwa ia pernah melakukan diskriminasi ODHA karena ketidaktahuan dia tentang HIV/AIDS dan ia menyalahkan pemerintah akibat ketidaktahuannya itu.

Betul kata Dika, seharusnya orang itu bisa cari sendiri. Saya, yang tidak pernah menghadiri penyuluhan HIV/AIDS dimanapun, mencari sendiri bagaimana penularannya melalui internet dan saya bisa dengan santainya bergaul dengan ODHA. Hayo, Pak, zaman sudah canggih. Jangan mengandalkan orang lain terus. Google menjadi search engine pertama di dunia!

Pulangnya kita makan di Nasi Bancakan yang murah dan enak sekali buat saya yang kelaparan.

Comments

Erick S. said…
Psikotes itu bukannya hanya foto sesaat dari kepribadian seseorang? Pasti ada sekian persen karakter seseorang yang berubah dalam kurun waktu tertentu.
mynameisnia said…
Begitulah, Rick. Tapi karena gue belajar dan harus mengaplikasikan hasil kepada apa yang gue cari, gue menjadi kontradiktif. Gue merasa itu tidak benar tapi gue mempelajari bahwa itu haruslah merefleksikan kepribadian seseorang.

Gue sedikit gak suka pas dia men-judge dengan sifat2/karakter2 yang menurut gue tidak sesuai dengan gue.

Tuh, kan, sudah mulai terasa kontradiktif.
Begy said…
*dilema seorang sarjana psikologi*

:D
Anonymous said…
aktivitas sosial memang bisa jadi obat jenuh, bahkan kadang jadi sesuatu yang membakar semangat. saya pernah terlibat dalam sebuah aktivitas sosial, dan sempet ketagihan. memang seru sih, apalagi ketika kita bisa ketemu banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.

wah, saya baru tahu kalau nia itu sarjana psikologi. pantas sikap nia terasa hangat meski sikap itu hanya muncul pada tulisan. :)

nia, yang menarik buat saya adalah tentang zodiak dan kepribadian.

ternyata bukan masalah zodiaknya, tapi pembagian zodiak menurut tanggalan lah yang mempengaruhi kepribadian.

kamu lahir januari, kan?
lihat deh situasi psikologisnya;
tahun baru, harapan baru, "hura-hura" dalam sebuah situasi ramai orang-orang. begitulah kira2.

harapan baru=optimis,
situasi ramai=tantangan.

kesimpulan singkatnya, orang aquarius itu cenderung optimis dan suka tantangan

nia gitu ga?
hehehe, maaf kalo salah. lagi belajar memecahkan teka-teki zodiak aja :)

-joei-
mynameisnia said…
Alternatif lain:

hura-hura: boros.

Hehe.
Anonymous said…
bukan saya lho, yang ngomong...
kumbangdusun said…
Banyak hal yang bisa kita temui manakala kita berjumpa atau sengaja menjumpai seseorang. Semua apa yang terekam bisa gambalang ditulis dan menjadikan semuanya terbuka.
Dunia memang sudah super canggih!
Tapi bagaimana dengan nasi bancakannya apa menjadi enak karena lapar? Bisa jadi..., enak karena ada sugestinya. Ya itu..., lapar tadi. He,,,,he...

Popular Posts