Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2009

Ateisme Atau Skeptisisme?

Waktu menghadiri LGBT anonymous - hehehe, bukan deng, tapi hanya salah satu acara LGBT yang mengadakan nonton film Milk - seorang pembicaranya berkata, "Saya ini agnostik". FYI, acara diadakan di Gereja Kristen Indonesia.

Pernyataan sang pembicara mengingatkan kepada para ateis dadakan yang waktu dulu sempat jadi trend di antara teman-teman saya yang saya yakin bahwa mereka menjadi ateis bukan karena landasan teori hasil kontemplasi, melainkan hanya ikutan, biar keren enggak punya Tuhan, atau biar disangka pintar, biar disangka pemikir atau calon filsuf.

Memangnya untuk jadi seorang pemikir atau filsuf, harus ateis dulu?

Mungkin lebih tepatnya itu skeptis. Bagi saya skeptis itu wajar. Manusia memiliki indera yang ditakdirkan untuk melihat benda konkrit. Benda abstrak hanya bisa dilihat melalui keyakinan dan pemahaman. Bertanya tentang apa yang menjadi agamanya itu wajar - apalagi agama sudah didogma pada manusia sedari kecil, oleh karena itu saya pernah meragukan ajaran agama s…

Vital

Sebetulnya saya sedikit cemas menuliskan ini karena facebook saya menggunakan aplikasi mirror blog yang otomatis membuat semua postingan di blog ini akan tercermin ke facebook saya. Saya harus membuat prolog yang panjang disini karena biasanya fasilitas mirror blog akan menampilkan sedikit kalimat utama yang akan ada di layar orang lain.

Mengapa saya cemas? Yang membuat saya cemas adalah facebook saya kini di-add oleh teman-teman guru dan murid. Dan yang membuat saya cemas lagi adalah saya akan menulis tentang masalah vital: masalah seksual.

Aplikasi mirror blog sudah dihapus. Semoga murid saya tidak baca.

Banyak manusia yang dipenjara gara-gara urusan "bawahan": memperkosa, mencabuli, melecehkan, menghamili anak sendiri, menikah dengan anak kecil, incest, pedofilia, kedapatan memperbanyak video dewasa di internet, dan lainnya. Saya takjub karena sebesar apa sih dorongan seksual seseorang sehingga bisa membawa diri mereka sendiri menderita pada akhirnya?

Dua berita yang saya bac…

Pada Saat Itu

Pada saat itu, saya dan teman kerja saya berada di perpustakaan yang nyaman. Namanya Uli, sebutlah begitu. Kami adalah rekan kerja satu angkatan yang sama-sama baru diterima. Perasaan sama membuat kami saling berbagi tentang keadaan tugas dan lingkungan kerja.

Ternyata kami merasakan perasaan yang sama: kami tidak betah. Tidak betah bisa disebabkan iklim kerja yang tidak enak atau memang bidang ini bukan passion kami sebenarnya. Saya sendiri mulai berpikir bahwa ini bukan passion saya. Ketika saya kuliah, saya memilih mata kuliah psikologi klinis - bukan psikologi perkembangan. Ketika saya skripsi, saya memilih bahasan fenomenologi-eksistensial. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menjamah ranah psikologi perkembangan anak.

Setiap kami bertemu, berulang kali kami menceritakan hal yang sama. Pada saat itu, di perpustakaan sambil melihat-lihat bahan ajar, kami saling menghibur diri.

"Li, semua guru yang bertahan disini sampai bertahun-tahun pasti ada alasan yang membuat mereka …

The Art of Art

Saya baru menghadiri sebuah galeri titik Oranje yang kebetulan berada di rumah saya sendiri. Tadi sore adalah acara pembukaan bahwa galeri ini resmi dibuka. Karya yang ditampilkan adalah hasil para seniman yang dihimpun menjadi satu kelompok. Cukup banyak yang datang.

Dari sekian banyak seniman, saya suka dengan karya ini pada kesan pertama.

Karya ini membuat saya bertanya-tanya darimana ia mendapatkan inspirasi membuat karya ini. Saya, yang sebelumnya saling komentar dengan saudara saya tentang karya ini, mengeluh, "Mana sih senimannya? Katanya enggak datang ya?". Tiba-tiba seorang perempuan disebelah saya berkata, "Saya senimannya!"
Haduh. Malu. Ternyata dari tadi ia ada disebelah saya dan mendengarkan komentar saya. Kenapa enggak bilang dari tadi sih? Untung saya komentar yang baik-baik.
Namanya Tisa Granisia. Ia lahir pada tahun 1981 dengan pendidikan terakhir magister seni rupa ITB. Dengan meluangkan waktunya, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya terutama perta…

Gadget Canggih

Sepulang kerja, naik angkot dalam perjalanan pulang, perempuan di depan saya berbicara tak jemu-jemu:

"... iya. Ih gue sih enggak suka ya. Rasanya gimana gitu! Terus terus ... handphonenya sok banget deh, kayaknya semua fitur diambil. Merk-nya iPod gitu deh..."

Saya yang ketinggalan zaman atau semakin sore pikiran orang semakin melempem?

Dibalik Ludah Dan Darah

Entahlah sepertinya saya pamer sekali, tapi luka tersebut adalah buah karya dari pekerjaan saya. Konteks hari pertama disemprot ludah dan hari kelima berdarah-darah itu secara harafiah benar adanya. Bukan oleh bos masokis dan sadistis, tapi oleh seorang anak kecil yang memiliki gangguan perilaku. Saya sekarang bekerja sebagai guru anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah swasta yang bagus. Saya pikir jadi guru itu mudah: pulang sesuai jam pulang, libur ketika anak-anak libur, transfer ilmu, menerapkan ilmu reward and punishment. Namun pada beberapa anak, reward and punishment itu tidak berlaku. Kadang-kadang harus menggunakan teknik persuasif dan imajinasi yang tinggi apabila mau masuk ke hatinya. Apalagi kalau ia sedang memberontak, guru harus berhati-hati dengan titik-titik di fisik dan mentalnya yang bisa menimbulkan traumatis akibat apa yang ia dapatkan di rumah.
Diindikasikan anak yang mencakar saya memiliki gangguan sosio-emosional. Tidakkah itu ironis? Anak kelas satu harus…

Jamur

Jamur, jika sudah ada di kulit manusia yang kotor, pasti akan cepat menyebar. Mungkin Indonesia adalah tempat yang kotor (dan berlahan gambut) sehingga banyak yang menyebar dan tumbuh subur. Sayang bukan jamur, tetapi partai.

Pastinya warga negara Indonesia sudah sering melihat beragam poster caleg yang disimpan sembarangan sehingga menimbulkan polusi mata. Mending kalau cakep, lha ini bapak-bapak? Sebenarnya bukan masalah ganteng atau enggak sih, tapi banyak gambar dengan muka-muka yang tidak dikenal membuat saya cukup terganggu. Dengan billboard, spanduk, brosur, dan pamflet yang ditempel sembarangan dari tembok rumah orang sampai pohon. Maaf, rasanya menggunakan fasilitas milik orang lain (terutama pohon) itu tidak beradab.

Rupanya salah seorang teman SD saya juga menjadi caleg. Saya tanya ke saudaranya yang teman SD saya juga, "Memang prestasinya apa?". Saudaranya hanya tersenyum menandakan ia juga sanksi akan prestasi saudaranya. Saya bingung, kenapa mereka yang modal sar…

Firasat

Tiba-tiba saya dan teman-teman membuat sebuah klab yang tidak terencanakan. Klab firasat, namanya. Tentunya bagi yang suka Dewi Lestari, nama ini sudah tidak asing. Ya memang kami mencontek karena sebelumnya kami sama-sama membaca Rectoverso, ditengahi dengan kumpul-kumpul bareng, dan diakhiri dengan curhat tentang firasat.

Bukan firasat sebetulnya. Kami hanya saling bercerita tentang suatu kejadian yang dimulai dari kejadian-kejadian yang dialami namun dilewati begitu saja. Dengan merunut ke belakang apa yang menjadi diri kami sekarang, kami menemukan bahwa kejadian-kejadian yang secara tidak sengaja dan bahkan dilakukan orang-orang yang tidak kenal ternyata berpengaruh pada keberlangsungan hidup kami. Kebetulan, singkatnya.

Misalnya ketiga teman saya (A, B, dan C) yang akan berangkat ke Jerman. A dan B memang sebelumnya berteman di universitas yang sama. A bekerja di Jakarta, kemudian disusul B yang bekerja di Jakarta juga. B mengalami kesulitan untuk melewati skripsinya sehingga ia s…